“Kita keluarga besar, kita NKRI. Jangan sampai umat Islam merasa disakiti, Kristen merasa disakiti, Hindu, Buddha merasa disakiti. Kok keluarga besar saling menyakiti. Apakah akal sehat, pakai logika, hentikan. Mari saling menghargai, jaga kesatuan,” ucap Ketua MPR Zulkifli Hasan (HS) merdeka.com [Jumat 2/6].

Kalau nasihatnya ngambang tak jelas sasarannya, akan berlalu begitu saja tanpa efek apa-apa. Nasihat yang lebih konkret, Pak ZH! Misalnya kalau menasihati  ‘imam besar’ Rizieq jangan menghina kristen ‘mana bidan Jesus’. Jelas apa yang salah dan apa yang harus diperbaiki.




Kalau Dalai Lama bilang sekarang ini ‘Religion has become an instrument to cheat people‘ atau Ahok bilang ‘ayat 51 Almaidah dipakai untuk menipu orang’ kan pada hakekatnya sama saja. Dalai Lama maupun Ahok tidak bisa dikatakan menodai agama. Kalau tadi Dalai Lama mengucapkan hal itu di Jakarta, apa patut kalau Dalai Lama dijatuhi hukuman 2 tahun penjara?

Di sini juga jelas mana yang patut dan tidak patut dan jelas mana yang harus diperbaiki dan oleh siapa, demi ‘persatuan’ itu.

Ketika Trump dimaki-maki di seluruh AS karena salah omongannya soal perempuan, Trump lantas kasih contoh dan bikin konfrensi pers dengan seorang perempuan yang pernah diperkosa oleh Bill Clinton. Lawan-lawan Trump (Clinton dkk) jadi bungkam dan mengerti mana yang salah dan yang harus diperbaiki. Begitu juga di pihak Trump dkk.

Itulah keterbukaan dan terus terang persoalan konkret dibuka di atas meja sehingga yang berbuat salah tahu dan publik seluruh negeri juga jadi tahu bisa menilai secara jelas siapa salah dan apa yang harus diperbaiki.

 

Keterbukaan Emisi Karbon

Ketika seluruh dunia bikin persetejuan Paris soal perubahan klimat, barusan saja (hari ini) Trump menyatakan keluar dari persetujuan Paris itu. Seluruh pemimpin dunia menentang sikap Trump, bahkan ada yang begitu keterlaluan menonjolkan kepahlawanannya untuk menyelamatkan dunia bilang banyak negara akan hilang kalau perubahan kalimat tidak dijaga, generasi muda hancur dsb dsb . . .  waow . . .

Situasinya seperti ini:

Kalau seorang pencuri terang-terangan tunjukkan diri, pencuri-pencuri lainnya pada berlomba teriak ‘pencuri’ siapa yang paling keras suaranya. Tetapi semuanya juga pencuri. Siapa yang tahu apa dan berapa tiap pencuri itu akan mengurangi emisi gas racunnya di negeri masing-masing?

Trump tidak memboikot sepenuhnya persetujuan itu, tetapi dia melihat bahwa persetujuan itu lebih banyak menyinggung ekonomi dan ini memberatkan bagi situasi AS sekarang karena akan menambah pengangguran yang dia ingin kurangi demi ‘make America great again’. Artinya, fabrik-fabrik dan infrastruktur dibangun kembali.

Trump tetap pada janjinya mengutamakan kelas pekerja AS, dan mau menghidupkan kembali industri AS termasuk dari energi batu bara. Daia menuduh Obama bersama neolibnya berada di belakang semua persetujuan ini dan mereka yang selama ini juga telah bikin pengangguran besar-besaran bagi buruh-buruh industri AS karena industrinya dipindahkan ke luar negeri terutama ke China. Seorang ahli klimat orang Swedia bilang pengunduran diri Trump dari persetujuan Paris tidaklah banyak artinya bagi perubahan klimat.

Sikap Trump adalah sama dengan sikap China yang dulu menentang pengurangan emisi gas racunnya karena ketika itu China mau meningkatkan produksi industrinya. Sekarang, China berada di depan menyetujui persetujuan Paris karena takut produksinya akan diboikot di seluruh dunia dan ini adalah kematian bagi China.

Kalau dulu China memboikot demi meningkatkan produksi (seperti Trump sekarang) tetapi sekarang China antusias mendukung karena mau menjual produksinya. Semua negeri lain juga diuntungkan oleh sikap China ini, kecuali Trump dan negerinya yang malah mengancam akan memajaki tinggi produksi China yang masuk ke AS.

Sikap membantah dan sikap terbuka dan terus terang Trump telah banyak bikin perubahan positif di dunia.

Ayo Pak Ketua MPR katakan terus terang apa adanya, siapa yang salah dan salahnya di mana! Hanya dengan begitu bisa ada perubahan.

Foto-foto dan video dari Flores.








Leave a Reply