Ada sebuah pepatah: Guru kencing manis, murid kencing batu. Kemarin ketua PGRI mengusulkan agar pelajaran Pancasila dihidupkan lagi di sekolah. Sebagai sebuah usulan tentu saja bagus. Tapi tampaknya, jika Pancasila ingin ditempatkan sebagai ideologi negara, hanya sekadar menghidupkan mata pelajaran saja, tidak cukup.

Saran itu seperti melihat masalahnya cuma ada di anak didik. Padahal, masalah yang paling nyata,. justru ada di kepala guru-gurunya. Pendidikan Pancasila gak ada artinya jika guru-gurunya justru menawarkan sikap intoleran.

Sebuah penelitian menggambarkan bahwa 76% bullying antar murid di sekolah disebabkan karena perbedaan agama. Ini lahir dari sikap intoleransi. Intoleransi akan melahirkan radikalisme.Wajar saja jika dalam sebuah penelitian LIPI menggambarkan 10% anak sekolah kita setuju dengan ISIS.

Nah, lihatlah di sekolah, apakah guru-guru kita sekarang punya sikap toleran? Atau malah sebaliknya, jadi agen-agen intoleran yang terselubung. Ini yang menurut saya jadi masalah sekarang.

Pada banyak kasus, justru sikap intoleran ditularkan oleh para guru, khususnya dalam memandang perbedaan agama. Bukan saja terjadi di sekolah-sekolah berbasis agama seperti SDIT, juga di sekolah-sekolah umum dan sekolah negeri.

Dulu, ketika Jepang luluh lantak dibombardir bom atom, yang pertama ditanyakan Kaisar Hirohito adalah, berapa jumlah guru yang masih tersisa. Kaisar tahu guru adalah tulang punggung yang akan membawa Jepang kembali bangkit. Dari sanalah Jepang membenahi dirinya.




Sekarang ini, pernahkah kita bertanya, berapa sisa guru yang tetap teguh memegang nilai NKRI, kebhinekaan, dan toleransi? Itulah modal utama masa depan Indonesia. Sedangkan guru-guru rasis dan intoleran adalah racun yang akan mematikan organ vital bangsa ini.

Memandang masa depan bangsa dapat ditelaah dengan melihat dunia pendidikannya saat ini. Apa yang terjadi di sekolah-sekolah kita itulah wajah indonesia 20 tahun yang akan datang. Jika intoleransi sudah begitu menggejala, apa yang kita harapkan dengan masa depan Indonesia?

Tugas penting Kementrian Pendidikan bukan cuma mengurusi kurikulum, tapi juga mengurusi isi kepala dan sikap guru-gurunya. Sebab dari merekalah sebuah nilai disebarkan.

Kita semua sadar pendidikan adalah faktor penting. Maka UU mengamanatkan alokasi anggaran sampai 20% untuk pendidikan. Gaji guru meningkat. Kesejahteraan mereka semakin baik.

Sayangnya, tidak sedikit guru yang terlena. Akibat doktrin agama yang sempit mereka tidak sadar sedang menanam bom waktu di kepala anak didiknya. Anggaran pendidikan 20% justru akan mubazir, jika anak-anak kita dididik untuk anti kepada negaranya sendiri. Jika mereka ditanamkan kebencian kepada orang yang beragama lain.

Percuma saja pemerintah membangun infrastruktur gila-gilaan. Melakukan pembangunan fisik untuk kesejahteraan rakyatnya. Jika yang ditanamkan di sekolah justru fikiran yang bisa menghancurkan sendi-sendi bangsa ini.




Saya rasa pemerintah perlu melakukan penataan besar-besaran di dunia pendidikan. Guru-guru harus dipastikan sebagai agen-agen toleransi dan pembawa misi kebangsaan. Sertifikasi guru harus memasukkan unsur penting ini bagi setiap orang yang akan menjalani karir sebagai pendidik.

Calon guru yang fikirannya intoleran dan radikal, lebih baik gak usah jadi pendidik, deh. Dari pada masa depan bangsa ini amburadul. Mending mereka jadi korlap demo aja. Kita tentu khawatir, jika anak-anak kita makin pintar memelesetkan lagu menanam jagung menjadi syair ancaman pembunuhan.

Akan jauh lebih baik anak-anak didik diajarkan lagu Gundul-gundul pacul, hingga hapal di luar kepala : Gundul-gundul, pacul, cul. gembelengan… Meskipun, ketika mereka diminta nyanyi Halo-halo Bandung, yang keluar tetap gundulnya itu.

Hallo, hallo Bandung, dung. Gembelengan…




Leave a Reply