Puasa, yang katanya untuk melatih diri agar menjadi manusia yang lebih baik, yang dengan berpuasa merasakan bagaimana sebagai fakir miskin ketika menahan lapar, yang dengan berpuasa melatih diri dalam kejujuran, dan lain-lain. Namun, kenyataannya apakah demikian?

Jujur saya sering merasa gelisah, merasa sampai saat ini mencari hikmah berpuasa belum ketemu. Bagaimana tidak? Tatkala menjelang Bulan Puasa, ujug-ujug harga kebutuhan pokok naik dengan gila-gilaan. Itu artinya apa?

Jelas itu pertanda Umat Muslim akan mengkonsumsi kebutuhan pokok dari biasanya. Secara hukum ekonomi, tentu ketika kebutuhan semakin besar, maka barang-barang akan naik.

Bukan jauh-jauh, ketika Bulan Puasa di keluarga saya saja juga ketika menjelang Buka Puasa semua hidangan harus komplit dari biasanya. Isi Kulkas dalam seminggu sudah tersedia. Buka kulkas seperti Toserba. Itu berarti, saya harus kerja keras untuk nambal pengeluaran yang semakin banyak. Lalu, jika biar merasakan apa yang dirasakan oleh fakir miskin apa?

Apakah sudah selesai? Belum.

Tiba-tiba di Bulan Puasa ini banyak pejabat dan wakil rakyat menggunakan kesempatan. Katanya sih Safari Romadhon. Pidato dan ceramah tentang hal ihwal Romadhon. Namun, ketika usai Bulan Puasa, apakah para pejabat dan wakil rakyat perangainya berubah? Entahlah, rasanya jauh panggang dari api. Terbukti, saat di Bulan Romadhon saja KPK gencar melakukan penangkapan dan sidang karena korupsi uang rakyat.




Emang sih, saat Bulan Puasa tensi tentang hangatnya “PERBEDAAN” entah itu antar golongan atau antar sekte agak mereda, namun, apakah setelah berakirnya Puasa lalu saling memperbaiki diri? Faktanya, dalam usiaku yang setengah abad lebih, yang paling mencolok saja, mereka yang satu agama namun berbeda golongan masih saling menghujat. Syiah dan Syuni, yang agamanya sama. Yang Tuhannya sama. Yang nabinya sama selalu gontok-gontokan hingga sekarang. Lalu, hikmah Puasa apa?

Juga, dan ini saya mohon maaf sebelumnya, ketika Bulan Puasa, tidak dipungkiri suara toa menggema nyaris semalam suntuk. Sesaat setelah shalat Tarawih, ada Tadharusan yang dikumandangkan lewat toa hingga tengah malam. Sesaat berhenti sejenak lalu ada hingar bingar lagi teriakan untuk makan Sahur hingga subuh. Pernah seorang teman yang meski juga beragama Muslim curhat ketika anaknya yang kecil sedang sakit. Tentu merasa terganggu kenyamanannya.

“Kenapa ngaji saja harus pakai toa? Apakah Tuhan tidak mendengar?” Itu keluh kesahnya.

Hanya saja saya bersyukur, paling tidak di Bulan Puasa ini banyak temen-temen yang berubah drastis dalam sikap dan berperilaku. Hanya di Bulan Puasa. Selebihnya ya sami mawon alias sama saja.

Bahkan ada beberapa yang saya tahu, ketika ada seorang anak yang membenci orangtuanya. Saat puasa, ya, tetep berpuasa. Namun, apakah lalu setelah Bulan Ramadhan usai mereka rukun kembali? Malah semakin membenci pada orangtua yang membesarkan.

Secara makro, di belahan Bumi Timur Tengah, dimana ajaran agama mestinya menjadi tolok ukur tentang nilai-nilai ibadah yang saling mengasihi sesama, ternyata juga sama. Podo. Mereka gebuk-gebukan. Mereka perang dengan tidak berkesudahan. Lalu, apa makna Puasa?

Apakah ada orang Muslim yang memaknai Puasa dengan baik dan benar? Smoga saja sih, ada. Hanya saja, tentunya semoga-semoga kita semua menjadi manusia yang lebih bermanfaat dan menghargai perbedaan dalam bingkai Pancasila dan Bhineka tunggal Ika.

Hubbul Wathoni Minal Iman. Cinta Tanah Air sebagian dari Iman. Negri ini sejak dulu indah dan damai dalam perbedaan.








Leave a Reply