Saya sangat bersyukur karena sudah lebih 1 tahun menghapus aplikasi media sosial di handphone saya. Awalnya saya merasa bahwa tanpa gadget di tangan, maka tangan, mata, dan pikiran akan kekurangan. Kurang lengkap jika gadget tidak dibuka dan berselancar di media sosial. Ketika baru saja sampai di rumah, tidak butuh waktu lama tangan seperti otomatis meraih gadget, padahal yang dilihat juga belum tentu penting, tetapi terlihat lebih penting dibandingkan dengan keceriaan bermain bersama anak.

Tidak hanya itu, kuota data 600 MB pun menjadi tidak cukup. Oya, anda berapa MB data yang anda perlukan?

Kondisi dimana saya mulai ketagihan dengan media sosial, data internet yang semakin boros, serta perhatian saya yang mulai teralihkan dari sekitar saya, serta memory gadget saya yang terbatas. Akhirnya, saya putuskan untuk menghapus semua media sosial. Anda tau apa yang terjadi? Keluarga saya sangat bersyukur, karena saya benar-benar mencurahkan hati untuk keluarga ketika sedang bersama.

Saya juga jadi tidak boros data internet, 600 MB kadang tidak habis. Hal lain yang sangat membuat saya juga bersyukur sudah menghapusnya adalah, saya merasa tenteram. Saya tidak membaca berita yang simpang siur, sehingga emosi saya tidak ikut dengan keriuhan media sosial yang saat ini mengarah ke hal-hal negatif.

Ini tidak mengartikan bahwa saya ini adalah anti media sosial. Tentu saja saya juga mendukung media itu untuk hal- hal yang baik. Seseorang yang menulis statusnya yang menggugah adalah salah satu bukti penggunaan media sosial itu untuk yang baik. Akan tetapi, sekalipun semua manusia tidak menolak media sosial, faktanya, khususnya di Indonesia, media sosial itu telah digunakan untuk saling menyerang, mencaci, dan saling menghina.




Fakta lain, kemungkinannya, hal ini juga dialami oleh negara lain, termasuk negara maju sekali pun. Saya meyakini ini, ketika sedang membaca buku Jocelyn Davis, The Great On Leadership (terjemahan ke bahasa Indoneesia). Tulisan terkait media sosial ini dipaparkan pada bab dengan topik Pengendalian Amarah.

Kesimpulan sementara adalah sikap kita manusia dalam bereaksi terhadap suatu masalah tidaklah berbeda jauh. Misalnya, ketika seseorang merasa kecewa ditinggal pacar akan merasa sedih. Istilah saat ini adalah galau. Jadi, perasaan seseorang itu akan sama sebelum dan sesudah majunya media sosial. Jika sama saja reaksi kita, lalu mengapa media sosial itu menjadi media yang seolah-olah mengerikan yang bahkan dapat merusak kerukunan suatu negara?

Jocely Davis megisahkan, dulu sebelum media sosial dan media komunikasi lainnya begitu maju, seseorang menumpahkan kemarahannya, kekecewaanya lewat kertas alias surat. Ketika semua rasa itu selesai dituliskan, datanglah rasa rindu yang mendalam serta keikhlasan melihat apa yang terjadi dari sudut pandang yang berbeda. Surat pun tak jadi dikirim, tumpahan kekecewaan pun berakhir di tempat sampah. Rasa cinta bersemi kembali dipelukan kekasih, seakan kekecewaan tak pernah ada. Inilah kisah sebelum media sosial.

Kisah ke dua, di jaman yang katanya jaman milineal, kasus yang sama persis terjadi. Kekesalan dituliskan dalam laman media sosialnya. Begitu amarah yang sangat membara, kata-kata mesra menjadi sumpah serapah. Kekecewaan semakin membakar amarah, sehingga tanpa jeda untuk merenungkan kembali, langsung saja KLIK dan KIRIM. Inilah kecanggihan media sosial, tidak butuh waktu untuk menerima sumpah serapah tersebut. Kekasih di seberang lautan merasa tidak ada yang salah, tetapi sudah disuguhi lagu-lagu penghakiman yang sangat kejam. Akhirnya balasan pun dituliskan dengan emosi yang tidak kalah menggebu, karena merasa setia melebihi cintanya Habibie-Ainun. Kata-kata kasar dibalas lagi dengan kata yang lebih kasar lagi.

Anda tahu akhirnya? Peluk mesra jadi masa lalu yang menambah pilu.

Anda tentu setuju, dari dua cerita ini, reaksi manusia itu sama terhadap masalah yang dihadapi. Akan tetapi yang menjadi pembeda adalah “waktu jeda” untuk menyampaikannya. Waktu memang tak berwujud, tetapi apa yang dihasilkan dari dua cerita ini sangat berbeda. Sebelum media sosial begitu maju, waktu untuk menulis membuat sesorang kembali berpikir dan melihat masalah dari sudut pandang yang lain, sehingga apa yang sudah dituliskan bisa dibatalkan dengan tidak mengirimkannya. Sedangkan di zaman milineal ini, dengan sekejab saja luapan emosi langsung terkirim, tanpa ada jeda untuk memikirkan dari sisi yang lain.

Lantas, apakah kita harus kembali mundur ke jaman dimana surat-menyurat melalui kertas dan dikirim via pos?

Tentu tidak, dan kita tidak mampu mengembalikannya. Kita justru harus mensyukuri teknologi ini sebagai bagian untuk semakin menjalin hubungan yang cepat, tetapi hubungan yang cepat itu memerlukan kerelaaan kita untuk belajar mengendalikan emosi yang kita miliki, sehingga tidak dengan mudah menumpahkan amarah lalu KLIK dan KIRIM. Kita harus meluangkan waktu untuk merenungkan cara pandang kita dari sebanyak mungkin sisi.




Kita harus menyadari, bahwa sebaik dan setulusnya hati seseorang, dia tetap saja manusia yang tidak sempurna. Sehinga potensi kesalahan dari sudut pandang orang lain sangat mungkin ada.

Ketika kita merenungkan kembali, sambil mencoba mencari kebenaran dari apa yang kita anggap salah, mungkin kita akan menemukan bahwa sesungguhnya ada tujuan yang sangat baik yang ingin dilakukan, di balik suatu yang menurut kita buruk.

Ibarat buku, kita harus menyelesaikan satu buku untuk mendapat penjelasan apa isinya.

Marilah kita merenungkan apa yang kita pikirkan, apa yang ingin kita lakukan, dan apa yang sedang kita lakukan. Kemudian kita juga merenungkan apakah itu semua mendatangkan kebaikan bagi diri kita sendiri, dan orang lain. Tujuan hidup kita bukanlah mendapati diri kita benar, dan orang lain harus salah. Tujuan hidup kita tentu bersama-sama menjaga kebahagiaan bersama, dan juga lingkungan, sehingga ketika bencana datang kita tidak terlalu sedih, karena punya orang lain yang menghibur.

Ketika kita mendapatkan kesenangan, kita juga tidak tertawa sampai lupa diri, karena ada orang lain yang butuh uluran tangan kita. Semoga dengan media sosial, kita dapat saling membahagiakan, merenunglah dahulu sebelum KLIK dan KIRIM.

Salam semangat dan perjuangan.






Leave a Reply