Membaca kisah Malin Kundang: Anak durhaka yang dikutuk ibunya menjadi batu. Saya membayangkan bagaimana perasaan seorang ibu yang kutukannya dikabulkan itu. Ketika anaknya menjadi batu, menjadi sosok yang diam dan beku, adakah dia lantas jadi lebih gembira? Atau dia justru menyesal, dan bergumam, kok serius banget sih Tuhan, padahal kan kutukan itu cuma gertakan doang?

Tapi, dalam dogeng tidak dikisahkan bagaimana kehidupan pasca kutukan. Cerita habis sampai di situ. Jelaslah, Malin mewakili tokoh antagonis dan ibunya mewakili tokoh baik. Pesan moralnya, kebaikanlah yang menang. Dan, kejahatan berubah menjadi batu.

Kisah itu sama sekali tidak membuka kemungkinan bahwa Malin Kundang bisa lupa, atau ragu apakah perempuan ini benar ibunya. Atau Malin ingin bicara empat mata, sebab urusan ibu dan anak adalah urusan pribadi. Sementara ibunya memilih ngoceh-ngoceh di depan publik, layaknya panggung teater.

Ketika mengingat kisah itu, diam-diam saya bersyukur punya mama yang saya rasa jauh lebih baik dari ibunya Malin Kundang. Sebab, jika mama saya hobi mengutuk-ngutuk, tentu saya sudah menjadi batu berkali-kali.

Entah batu bata atau batu akik. Atau, karena mama saya orangnya praktis, mungkin saya akan dikutuk jadi dispenser atau lemari es. Kalaupun kutukan harus jadi batu, saya rasa mama akan memilih mengutuk saya menjadi coek plus ulekannya. Maksudnya biar tidak mubazir, masih bisa dimanfaatkan.

Sebetulnya masih untung menjadi batu, daripada dikutuk menjadi pisang. Nanti malah habis dimakan kambing.




Sebagian besar kita, mungkin punya kedurhakaan pada orangtua, khususnya ibu. Dan kita beruntung punya ibu yang tidak pemberang seperti ibunya Malin Kundang.

Sekali lagi saya bersyukur, mama saya bukan ibunya Malin Kundang. Dengan segumpal kenakalan dan kekacauan yang sering saya lakukan dulu, mungkin juga sekarang, toh mama tetap bisa memahami. Atau memaklumi.

Atau menahan kecewa. Atau hanya membiarkan anaknya melakukan proses pencarian diri. Marah, mungkin sering. Itu manusiawi. Tapi tidak lantas mengutuk-ngutuk.

Rasa sakit seperti apakah yang membuat seorang ibu begitu tega mengutuk-ngutuk anaknya sendiri? Saya tidak tahu. Tapi mungkin legenda itu tercipta dari semacam pikiran bahwa anak adalah investasi.

Orangtua yang banting tulang untuk membesarkan, menghidupi dan mendidik anaknya, dianggap sama seperti orang sedang mambangun warung. Hari ini capek, besok akan mendapat hasil. Hari ini keluar modal, nanti akan kembali.

Makanya ketika ada anak yang tidak mengembalikan investasi orangtua lantas dianggap jadi durhaka. Lalu legenda membenarkan seorang ibu yang dipenuhi kebencian mengutuk anaknya sendiri menjadi batu. Saat kutukan itu terjadi, di manakah letak ketulusan seorang ibu?

Terimakasih Tuhan aku tidak berubah jadi seonggok batu. Dan, yang lebih terimakasih lagi, Kau pilihkan perempuan terhebat dan tercihuy di dunia menjadi mamaku…








Leave a Reply