Kolom Telah Purba: KEGILAAN GUS NURIL

0
770

Beberapa hari yang lalu Panglima Besar Patriot Garuda Nusantara pergi ke Arab Saudi dengan membawa satu kegilaan yang luar biasa. Judulnya memang untuk pergi umroh !!!
Namun, umroh kah niat beliau?


Biasanya umat Islam, pergi ke sana adalah mencari berkah atau pun mendekatkan diri kepada Allah SWT. Bahasa umumnya disebutkan sebagai ibadah. Namun, menurut pengakuan beliau kepada kami para anggotanya, kepergian beliau yang kemarin bukanlah untuk ibadah dan bahkan tidak terlalu perduli dengan ibadah.

Nah lho…. ini jadi aneh sekali, bukan?

Ketika saya ajukan pertanyaan, lha terus ngapain sampeyan ke Arab Gus? Jawaban beliau adalah ingin mencari dan menemukan sang habib mesum!

“Lho…. lantas jika ketemu, mau diapain,Gus?” Tanya saya lagi.

“Saya mau kasih pelajaran!” jawabnya.




Entah pelajaran apa yang mau dikasih, saya tidak tahu persis. Cuma bisa membayangkan satu kegeraman dan kemarahan kepada orang yang sudah merusak tatanan Islam Nusantara ini.

Pergi dengan menempuh jarak puluhan ribu kilometer dan menghabiskan biaya yang lumayan banyak demi untuk suatu kemarahan bagi saya adalah sangat luar​biasa. Sebagai ulama kharismatik, apakah pendapat beliau ini tentang umat Kristen?

Beliau menyebutkan bahwa umat Kristen yang taat, adalah orang yang selalu merasa dan menganggap bahwa diri mereka adalah anak Tuhan, atau pun menganggap bahwa Tuhan itu adalah Bapa Yang Suci, sehingga darah dan daging umat Kristen, sesungguhnya adalah “CAHAYA”. Cahaya Kasih dan Kebaikan.

Itulah pemahaman beliau, yang tidak memandang perbedaan agama sebagai sebuah jurang pemisah. Tahukah anda,bahwa Gus Nuril sebagai imam kondang, amat sangat toleran dengan para anggotanya yang non Muslim?

Bagi mereka yang tidak berpuasa, silahkan makan minum di depan beliau, dan baginya tidak jadi masalah soal itu. Mungkin juga pemahaman beliau, adalah jika seseorang yang berpuasa karena IMAN, maka tidak akan goyah puasa orang itu, ataupun memang seharusnya orang yang berpuasa itu harus siap diuji imannya, dengan melihat saudara yang tidak seagama makan minum di hadapan mereka yang berpuasa.

Tentunya hal ini sangatlah berbeda dengan orang Muslim yang lainnya, yang menganggap bahwa orang yang tidak puasa itu adalah kafir. Ha ha ha ha ha ha …. Anda memang beda kelas, Gus! Anda saya yakini akan menjadi Bapak Pluralisme Indonesia yang ke dua setelah Alm. Abdulrahman Wahid alias Gus Dur.

Adakah diantara anda yang ingin mengomentari? Silahkan …..








Leave a Reply