Kemarin, ada 100 orang menggelar demo di halaman Masjid Istiqlal. Mereka adalah alumni Sekolah 212, yang memang dikenal di seluruh dunia sebagai sekolah yang paling getol bikin reuni.

Katanya dulu jumlah peserta ‘kursus’ 212 mencapai 7 juta orang. Lalu, kenapa pada acara reuni akbar kemarin hanya tampil 100 orang saja?

Angka 212 memang selalu dieksploitasi sebagai simbol kelompok-kelompok sejenis FPI. Bukan hanya untuk gerakan demo, bahkan angka itu sudah menjelma menjadi nama restoran, minyak goreng, toko perlengkapan surga sampai koperasi.

Sepertinya 212 adalah momen yang cuma sekali-kalinya seumur hidup, gak mungkin didapat momen seperti itu lagi. Karenanya orang-orang yakin kalau sudah menggunakan merk 212 dijamin laris manis tanjung kimpul.

Mereka yakin umat Islam Indonesia hidungnya sudah dicokok dengan angka mujarab itu. Apapun, kalau ada 212, dijamin syariah. Dijamin membludak. Dijamin heboh. Kehebohannya mengalahkan ST12.

Ada dua golongan yang memanfaatkan 212. Pertama, golongan Islam kapitalis yang mau jualan simbol agama untuk dapat untung. Maka lahirlah toko, koperasi, minyak goreng, atau restoran. Ke dua, korlap demo. Sebuah demo kalau mencantumkan angka 212 dipastikan ramai. Begitupun reuni, kalau bawa-bawa 212 diyakini pasti membludak.

Tapi kenapa, kok demo reuni 212 kemarin sepi peminat? Padahal demonya mau bela ulama. lho.




Inilah kesalahan pikiran mereka, bahwa umat Islam Indonesia itu bodoh. Padahal ketika demo 212 Desember lalu di sana ada kepentingan politik Pilkada, ada bandar, ada yang membiayai, ada agitasi dan slogan yang terus diulang-ulang tentang bela Alquran atau bela agama.

Sebagian orang termakan. Ikut-ikutan demo, karena mau mendapat pahala. Merasa membela agamanya. Sebagian lagi dibiayai kepentingan politik. Nah, demo reuni 212 kemarin katanya mau bela ulama. Ulama yang mana? Ulama yang terjerat kasus seks. Kasus mesum. Kasus selangkangan.

Orang Islam pasti juga mikir, masa sih mereka mau capek-capek jihad hanya untuk membela kasus selangkangan? Mereka pasti bertanya, seberapa besar pahala seorang muslim yang berjihad demi seseorang yang terindikasi cabul?

Karena secara agama susah dicari titik temunya, makanya orang jadi malas turun berjihad. Sebab tidak ada ayat atau hadis yang memerintahkan seorang muslim untuk membela orang yang terkena kasus chat soal pisang dan apem.

Lagipula kalau mau bela ulama, yang paling penting itu mau gak ulamanya membela dirinya sendiri? Sebab yang lebih berkepentingan membersihkan nama ulama ya, mestinya orang-orang yang ngaku ulama. Bukan jemaah.

Jadi, maukah ulama yang dibela itu menghadapi kasusnya secara jantan dan terhormat, dan membuktikan bahwa yang dihebohkan itu bukan pisang miliknya?

Kalau ulamanya buron untuk menyelamatkan pisangnya sendiri, lalu buat apa demo-demo itu? Apalagi demonya waktu puasa, syariah tidak dibolehkan makan pisang di siang hari. Pisang hanya boleh dikonsumsi setelah buka puasa. Akan lebih afdol makannya bisa di kandang kambing.

Itu soal demo. Demikian juga soal branding 212. Umat Islam pasti juga konsumen yang rasional. Kalau minyak merk 212 itu kualitas bagus, murah, distribusi merata dan menguntungkan konsumen, gak usah didorong-dorong orang akan beli. Tapi kalau lebih mahal, kualitasnya jelek, susah didapat, mau pakai merk apa juga siapa yang mau beli? Gini deh, emak-emak beli minyak buat masak, bukan buat masuk sorga.

Demikian juga restoran 212 atau minimart. Kalau masakannya enak, lokasinya strategis, murah, layanan bagus, orang akan membelinya. Jadi merk 212 doang gak cukup. Yang lebih penting lagi adalah rasionalitas ekonominya.

Kalau sebuah usaha ekonomi dijalankan gak rasional, tunggu saja. Sebentar lagi juga pada dukung sempak.








Leave a Reply