Nadia Murad, adalah perempuan dari suku Yazidi di Irak. Dia selamat dari kekejaman “Daesh” (ISIS) dan kemudian menarik perhatian global atas perjuangannya melawan ISIS.

Nadia dinominasikan untuk Hadiah Nobel setelah memperoleh dua penghargaan Vaclav Havel dan Sakrov. Dia pun dimahkotai gelar Duta Besar pertama untuk PBB bagi para korban perdagangan manusia.

Setelah lepas dari tahanan ISIS, Nadia menulis buku berjudul “Gadis Terakhir” yang merupakan memoarnya selama menjadi tawanan ISIS. Buku itu akan diterjemahkan ke beberapa bahasa dan rencana diterbitkan pada akhir Agustus 2017 di seluruh Amerika, Inggris, Jerman dan Belanda. Setelah itu, bukunya akan dipublikasikan di banyak negara lain di kemudian hari.

Dana yang diperoleh dari penerbitan bukunya akan digunakan untuk mendirikan sebuah badan amal dan inisiatif kemanusiaan atas nama Nadia. Badan amal ini nantinya akan memiliki cabang utama di Jerman dan cabang di negara-negara lain.

Buku yang ditunggu peredarannya di Amerika dan Eropa ini berkisah tentang pengalaman pribadi Nadia selama menjadi tawanan ISIS. Dia menjadi saksi atas genosida serta bentuk kejahatan kemanusiaan lainnya yang dilakukan ISIS. Nadia bercita-cita akan terus memberikan dukungan kemanusiaan, pendidikan dan psikologis bagi korban kejahatan perang, perdagangan manusia dan korban di daerah konflik.

Nadia Murad

Melihat apa yang diperjuangkan gadis ini, mestinya menjadi hikmah bagi bangsa Indonesia yang kini seakan rapuh oleh perbedaan. Apakah kita tidak mau mengambil pelajaran berharga terhadap setiap konflik yang hanya menghasilkan kegetiran hidup semata? Sungguh ironi, ketika konflik yang juga berlatar oleh rasa ‘superioritas’ suatu agama malah menciptakan perang berkepanjangan.

Bukankah agama mestinya menjadi tuntunan hidup bagi manusia dan sejatinya harus mampu menjaga perdamaian?

Kita tentu tidak bisa menduga-duga bahwa orang-orang di sana telah kehilangan rasa cintanya sebagai bangsa dalam satu negara, karena bisa saja apa yang terjadi akibat ulah segelintir manusia yang haus akan kuasa. Belajarlah kita pada setiap peristiwa sejarah yang menumpahkan darah dan air mata.




Negara kita mungkin masih jauh dari ‘sempurna’, namun adalah ‘gila’ kalau kita tidak mencintai, apalagi sampai ada yang hendak mengubahnya dengan berbagai cara. Indonesia menjadi negara besar dan diakui dunia karena perbedaan masyarakatnya yang beradab. Adalah tugas kita bersama membangun bangsa ini dan mewariskan negeri yang jaya bagi generasi mendatang.

Jangan biarkan Nusantara ini dikuasai oleh para biadab yang bertopeng kebajikan, sementara tangannya memegang pedang yang siap menebas siapa saja dianggap lawan. Saya sungguh tak berharap suatu saat ada gadis Indonesia yang menuliskan pengalaman mengerikan yang terjadi pada dirinya di negaranya sendiri, sebagaimana yang dituliskan Nadia Murad untuk dibaca oleh dunia.

Sumber foto-foto: Facebook Nadia Murad








Leave a Reply