RIKWAN SINULINGGA. TIGABINANGA. Setelah petani jagung di 3 kecamatan –Tigabinanga (sebagian), Lau Baleng dan Mardingding– pada musim tanam jagung tahun 2016 karena kemarau berkepanjangan (Maret – September 2016), pada musim tanam jagung kali ini kembali petani jagung di 3 kecamatan ini terancam gagal panen.

Hal ini terjadi karena tanaman jagung kekurangan air, terutama pada saat pemupukan memasuki masa berbunga dan pembuahan. Oleh karena itu, petani jagung yang menanam bulan Maret dan April 2017 diperkirakan akan mengalami gagal panen total. Soalnya, untuk penanaman bulan Maret dan April 2017, pemupukan yang tepat adalah pada bulan Mei 2017. Kenyataannya, banyak petani memaksakan pemupukan sesegera mungkin sehngga pupuk tidak tercerna oleh tanaman. Akibatnya, tanaman jagung menjadi kerdil, bahkan menguning, karena efek pupuk yang tidak larut akibat kurangnya air di dalam tanah.




Salah satu petani jagung yang ditemui oleh reporter Sora Sirulo adalah Pak R. Tarigan warga Dusun Paya Mbelang (Kecamatan Lau Baleng). Dia mengaku saat ini memiliki tanaman jagung sekitar 5 Ha yang juga terancam gagal panen total akibat kemarau ini.

“Kalau dihitung kerugian biaya mulai dari pengolahan lahan hingga panen, sekitar Rp 9 juta/ Ha, berarti perhitungan kerugian saya sekitar Rp 45 juta hanya untuk musim tanam kali ini saja,” keluh Pak Tarigan.

Taksiran petani di 2 kecamatan (Laubaleng dan Mardingding) saja paling tidak sekitar 4 ribu Ha lahan pertanian jagung akan mengalami nasib sama seperti Pak Tarigan di luar petani jagung di Kecamatan Tiga Binanga, terutama petani yang melakukan penanaman jagung pada bulan Maret dan April 2017 lalu.

Kegagalan yang serupa sudah beberapa kali dialami oleh petani jagung di daerah itu, namun sampai saat ini, belum ada solusi untuk mengatasi kegagalan. Jika musim kemarau tanah akan sangat kering dan udara terasa panas, namun ketika musim hujan lahan persawahan yang ada di daerah tersebut malah banjir sampai berhari-hari.

Semoga ke depannya akan ada solusi atas permasalahan petani jagung tersebut terutama campur tangan dari pemerintah melalui Dinas terkait. Seperti diketahui, 3 kecamatan ini merupakan sentra produksi jagung di Kabupaten Karo. Berdasarkan data statistik BPS 2016, luas lahan pertanian jagung di 3 kecamatan ini lebih kurang 54.489 Ha dengan rata-rata produksi 375.160 ton/ tahun.








Leave a Reply