Gotongroyong Membangun Rumah di Kampung-kampung Karo Deliserdang

0
367

Oleh: Sri Ngena beru Gurusinga (Medan)

 

Titi Derek Simalem adalah jembatan gantung menuju kampung tempat kelahiranku. Di dalam sana, terdapat beberapa kampung (kuta) yang ddirikan oleh merga Gurusinga; Derek, Durin Serugun, Perteguhen, Rumah Boby, Pikpik, Lau Simalem, Ujung Deleng. Semua warga kampung-kampung ini masih punya pertalian keluarga satu sama lain. Mereka juga semua bersatu dan saling mendukung dalam berbagai kegiatan dan tradis; seperti halnya dalam membangun rumah, pesta perkawinan, kemalangan, dlsb.




Berikut ini adalah kisah ketika seorang warga kampung (kuta) Derek membangun rumah di sana. Hari menegakkan fundasi (majekken palas) sudah ditentukan oleh salah seorang keluarga beru Gurusinga di sana. Dia mengundang beberapa keluarga dekat di setiap desa yang di sekitarnya.

Hari yang ditentukan pun tiba. Semua keluarga dari desa-desa yang ada di sana sedah berdatangan. Di pagi-pagi buta itu, para anak beru (kelompok pengambil dara) sudah berdatangan dari desa-desa sekitar. Mereka semua mengambil tugas masing-masing.

Ada yang menumbuk tepung beras untuk bahn penganan cimpa, dan ada yang memasak mempersiapkan makanan.

Pagi-pagi tepat Pukul 08.00 Wib, saudara-saudara yang lain dari seluruh desa sudah berdatangan. Dimulailah acara majekken palas (peletakan batu pertama). Usai acara ini, semua langsung mngambil bagian bahu membahu membangun rumah Beru Gurusinga ini.

Rumah yang telah selesai dibangun dengan cara gotongroyong

Karena bahan-bahan bangunan diletakkan tukang panglong, maka sebagian kerabat menyeberangkannya (pasir, batu bata, semen, dll.) melintasi jembatan gantung. Sebagian lainnya mengangkati air dari kamar mandi umum. Ada yang mengaduk dan sebagainya sesuai arahan kepala tukang yang hadir di situ.

Orang-orang yang bekerja sekitar 30 laki-laki, sedang para perempuan memasak untuk makan siang dan membuat minuman untuk semuanya saat bekerja.

Tiba waktunya, mereka berhenti bekerja untuk makan siang. Selesai makan siang, ada yang merokok, ada yang mengunyah sirih. Lalu, merekapun melanjutkan pekerjaan. Ketika hari sudah sore, mereka berhenti sambil minum-minum kopi dan kemudian pulang ke rumah masing-masing. Begitulah seterusnya.

Karena banyaknya orang yang bekerja, hanya dalam beberapa hari rumah pun selesai. Kecuali kepala tukang dan kenek tukang, tidak ada yang dibayar upahnya. Mereka yang datang dari desa-desa lain disediakan makanannya, minuman, rokok dan sirih.

Uniknya lagi, semua saudara-saudara Beru Gurusinga yang datang dari desa-desa lainnya ikut menyumbang ikut mnyumbangkan bahan-bahan bangunan. Ada yang menyumbangkan beberapa sak semen, ada yang menyumbangkan seng, kayu, dan lain-lain. Adapula yang menyumbangkn uang atau beras untuk makan. Sumbangan mereka adalah tnada rasa syukur mereka sehubungn dengan salah seorang keluarga mereka, yaitu si Beru Gurusinga, sudah bisa membangun satu rumah.

Hal serupa bersifat bergiliran. Beru Gurusinga juga akan turut berpartisipasi ketika anggota keluarganya membangun rumah. Cara seperti ini masih sangat kuat di kampung-kampung Karo yang didirikan oleh merga Karo-karo Gurusinga di Deliserdang di dekat Sibolangit dan Sembahe.








Leave a Reply