Suatu ketika istri saya menatap saya dengan kening berkerut. Saya tahu, ada sesuatu yang tidak beres dengan diri saya. Biasanya semua akan dinilai oleh ibu dan sekaligus partner saya ini. Ya, partner, karena segala sesuatu akan kami usahakan pecahkan bersama dari semua permasalahan yang ada. Melihat sikapnya, aku pun bertanya: “Apa yang tidak beres, ma?”

Kamu kenapa sih selalu menolak untuk beli baju? Lihat tuh yang kamu pakai, mulai dari sandal, celana, dan baju semua lusuh. Tolonglah, kamu juga harus memikirkan kami. Orang akan melihat anakmu TARIGAN (Tampan Rapid dan Ganteng). Tapi lihat bapaknya lusuh, seperti tidak ada yang mendampingi, atau tidak ada yang memperhatikan. Kita sudah lama juga tidak beli baju kamu, sampai-sampai selusuh itu. Hidup sederhana perlu, tapi kepantasan pakaian kamu juga penting.




Kerap kali memang istri saya ingin sembunyi-sembunyi membelikan saya pakayan baru. Tetapi, mungkin kesempatan saja yang belum ada. Dia memilih sembunyi-sembunyi, karena mustahil bujukan langsung akan membuahkan hasil. Sampai suatu saat, ia bertanya: “Pa, berapa ukuran bajumu?” Saya sendiri berfikir sejenak, ingin rasanya menjawab dengan cepat. Tapi kenyataanya jawabannya adalah: “Berapa ya, ma?” Sampai-sampai ukuran baju pun saya lupa.

“Lihatlah papa, ukuran baju saja lupa. Coba kalo buku, asal singgah ke Gramedia, mustahil tidak beli buku,” kata istri saya melihat saya lupa nomor baju yang biasa saya pakai.

Saya pun menjawab pernyataan itu dengan mengatakan bahwa masih pantaslah baju yang ada. Walau warna dan corak yang sudah agak pudar, tapi masih terlihat jelas lipatannya karena disetrika. Itu tandanya kamu itu memperhatikanku. Selain rapi, terasa wangi juga karena parfum yang kamu siramkan.

“Cukuplah dulu baju yang ada ini. Coba harga baju itu dijadikan buku, bisa tiga atau empat buku karya-karya klasik. The Repulbic, karya Plato misalnya. Atau, kisah keruntuhan Pangeran Denmark, dalam buku Hamlet,” begitulah aku menjawab dengan senyum.

Istri saya kembali menggerutu karena saya itu susah sekali dibelikan baju, ketimbang dibelikan buku. Saya pun kembali dengan senyum mengatakan: “Ma, baju baru itu hanya akan merubah pandangan orang terhadap kita sepintas saja. Hanya pandangan mata. Tetapi buku, buku itu akan merubah cara pandang kita terhadap kehidupan ini. Lihatlah betapapun masalah itu silih berganti, saya tetap sabar, tetap tenang, dan ahirnya kita sama-sama tersenyum setelah melewatinya.”

Salam semangat dan perjuangan.








Leave a Reply