Kolom M. U. Ginting: CEPLAS CEPLOS AHOK DAN TRUMP (Kisah Ular-ular Beludak di Hak Angket KPK)

0
485

“Jasa terbesar Ahok adalah berhasil menguak ke permukaan siapa-siapa pengkhianat NKRI, siapa-siapa mereka yang sok suci namun korup. Ahok berhasil menyibak pengkhianat keluar dari sarang sebelum waktunya mereka-mereka yang ingin mendirikan negara Khilafah dan menghancurkan NKRI,” tulis Asaaro Lahagu di kolomnya di Sora Sirulo (lihat lengkapnya di SINI).

Saya jadi teringat pada ‘ceplas-ceplos’ Trump (perbandingan dengan ‘ceplas-ceplos’ Ahok) yang di AS berhasil mengeluarkan ular ‘deep state‘ (pemerintahan gelap) AS dari semak belukar tempat persembunyiannya. Ular ini sudah hampir 200 tahun bersembunyi, sejak era Andrew Jackson 1829-1837. Jadi sesuai dengan apa yang dikatakan oleh presiden Roosevelt 1933:

The real truth of the matter is, as you and I know, that a financial element in the large centers has owned the government of the United States since the days of Andrew Jackson.”

 

Finans Element inilah yang disebut sekarang Neo Liberal dan yang kemudian disebut dengan nama ‘deep state’ setelah kemunculan nasionalist Trump di Gedung Putih 2017. Nama deep state dikaitkan dengan usaha neolib finans element itu untuk merongrong dan menyingkirkan Trump bersama politik nasionalismenya yang sangat bertentangan dengan politik globalist neolib.

Reena Roy dalam film Nagin (Ular betina)

Berlainan dengan di AS dimana deep state sudah berkuasa selama hampir 200 tahun dan sekarang mau meruntuhkan kekuasaan yang sah terpilih secara demokratis dalam Pilpres 2016 (Trump), di Indonesia baru akan memulai gerakan kekuasaannya (dengan merubah NKRI). Ini sebenarnya telah berjalan sejak gerakan DI/TII, PRRI, teror 3 juta 1965 (yang berhasil merebut kekuasaan yang sah Soekarno dan bisa berkuasa 30 tahun), gerakan  ‘sweeping’ FPI/ HTI, teror Thamrin, berbagai geakan makar 411, 212, tamasya Almaidah, terakhir ialah gerakan ‘hak angket’ KPK yang embrionya lahir dari korupsi besar-besaran era SBY.

Korupsi adalah salah satu dari 3 senjata neolib deep state dalam politik divide and conquer nya seluruh dunia. Dua lainnya ialah terorisme dan narkoba. Seperti kita sudah mengetahui dari pengetahuan umum soal neolib bahwa korupsi adalah inherent dalam neoliberalisme. Jelas bahwa KPK adalah musuh bebuyutan dari ekonomi neolib. Karena itu kelahiran ‘hak angket’ KPK adalah keharusan dan lumrah bagi gerakan neolib deep state internasional itu.




Bisa dikatakan, fenomena model ‘hak angket’ adalah semacam gerakan ‘gelap’ internasional dan terang-terangan dengan menggunakan antek-anteknya tukang korupsi di semua negeri dunia dimana gerakan gelap korupsi ini masih meraja-lela, terutama di negeri-negeri kaya SDA.

Gerakan ini ‘gelap’ karena terpimpin secara sentral dan secara rahasia artinya bagian utama dari usaha deep state neolib menuju world hegemony. Korupsi adalah terorisme ekonomi dan finans melumpuhkan negara mana saja terutama yang kaya SDA itu.

Contoh lain terorisme ekonomi dan finans seperti terlukis dalam sebuah pengakuan oleh seorang ‘hit man’ John Perkins ketika era Soeharto:

“When I was an economic hit man, one of the things that we did, we raised these huge loans for these countries, but the money never actually went to the countries, it went to our own corporations to build infrastructure in those countries. And when the countries could not pay off their debt, we insisted that they privatize their water systems, their sewage systems, their electric systems.” (Lihat di SINI)

Kalau dalam soal terorisme bersenjata Pro. F. Chossudovsky bilang:

“The so-called war on terrorism is a front to propagate America’s global hegemony and create a New World Order. Terrorism is made in USA, The global war on terrorism is a fabrication, a big lie.” (Lihat di SINI). 

Terrorisme bersenjata ini kalau deteliti lebih jauh, juga menyangkut soal ekonomi atau biasa disebut dengan istilah ‘war-based economy’, keuntungan berlimpah bagi fabrik senjata milik neolib itu sendiri. Secara langsung ialah perampokan SDA seperti yang dilakukan oleh ISIS di Syria dan Irak, dimana aliran dolar masuk ke pundi-pundi pendiri ISIS mencapai miliar dolar perbulannya dari SDA minyak kedua negara itu.  

Kalau Ahok sudah berhasil menguak semua jenis pengkhianatan atas NKRI, maka di AS ceplas-ceplos nasionalist Trump telah berhasil menelanjangi konspirasi the secret Government AS deep state.

Foto header:

Sebuah adegan dari film India, Nagin (Ular Betina) yang mengisahkan gagalnya sepasang ular (nag dan nagin) berubah menjadi manusia pada malam saat mana mereka akan tepat berumur 100 tahun. Mereka harus menunggu 100 tahun lagi bila malam itu mereka gagal jadi manusia. Jetendra memerankan ular jantan (nag) dan ReenA Roy ular betina (nagin). Video di bawah adalah lagu yang mereka nyanyikan menjelang malam saat mereka bisa menjadi manusia untuk selamanya.








Leave a Reply