“Saya titip media, pers, ini sangat penting terutama untuk membangun menumbuhkan optimisme bangsa ini, mendorong memberikan etos kerja yang baik,” kata Jokowi [Rabu 14/6]. 

 

Media dan pers harus ikut membangun optimisme bangsa ini, karena optimisme yang sudah jauh dilemahkan dengan banyaknya perkara-perkara yang harus ditangani tiap hari oleh pemerintahan selain membangun itu sendiri. Perkara-perkara ini terparah dalam usaha luar bikin perpecahan (divide and conquer) untuk terus menerus bikin bangsa ini pesimis tak berkembang dan ketinggalan dari negeri-negeri tetangga.

Adu domba dan pecah belah itu terlihat dalam gerakan makar, korupsi besar-besaran terutama di era SBY. Terorisme dan narkoba bahkan sudah jadi darurat narkoba. Untungnya, semua perkara berhasil diatasi berkat kerja tekun pemerintahan Jokowi dan semua aparat keamanannya, terutama polisi negara di bawah Tito dalam menangani teror dan gerakan makar. Mereka sudah berhasil menangkap semua pelakunya dan pimpinannya selain yang buron.

Tidak hanya berhasil dicegah dan diatasi, tetapi juga telah berhasil meningkatkan kesadaran dan pengetahuan publik negeri ini. Apa dan siapa di balik semua perkara itu, tujuan dan maksud-maksudnya yang sangat keji menggantikan NKRI jadi negara boneka neolib internasional  deep state, apapun itu namanya.

Seperti yang diharapkan oleh presiden Jokowi, media dan pers harus ikut membangun memang.




Banyak sekali anak-anak muda intelektual bangsa ini yang sudah berupaya maksimal memberikan pencerahan dan informasi kepada publik terutama dalam membelejeti dan mencerahkan maksud-maksud busuk tukang fitnah dan provokator dalam rangka memecah belah publik, seperti demo-demo untuk menghukum dan menghujat perorangan sampai dituduh ‘penista agama’ karena berlainan agama dan berlainan etnis. 

Media online SORA SIRULO dengan kolom-kolom pencerahannya yang sangat bagus seperti Eko Kuntadhi dan Asaaro Lahagu adalah contoh pencerahan luar biasa dalam basis media sosial yang pasti banyak pengaruhnya seperti yang diharapkan oleh Presiden Jokowi dalam menumbuhkan optimisme bangsa ini. 

Publik jadi yakin mana yang benar dan yang salah, yang menipu dan yang jujur sambil memperluas pengetahuan dan memperteguh pegangan basis dalam menghadapi musuh-musuh NKRI.

Bahwa semua perpecahan dan usaha makar itu adalah upaya dari luar untuk divide and conquer di Indonesia agaknya sudah tidak meragukan lagi, terutama setelah masuknya Trump ke Gedung Putih sebagai seorang nasionalist AS musuh utama neolib internasional itu. Semakin jelas bahwa perjuangan rakyat kita itu ialah perjuangan untuk kepentingan nasional kontra kepentingan bisnis (duit) neolib internasional atau yang sekarang disebut deep state. 

“Pencerahan dan Harapan” adalah istilah yang pernah dikumandangkan oleh Sutradara Ginting dalam hidupnya, sekarang telah sungguh-sungguh berlaku dalam kenyataan kehidupan kita sebagai pedoman utama meningkatkan optimisme bangsa itu. Dengan ‘pencerahan’, publik ditingkatkan pengetahuannya dan dengan begitu meningkatkan ‘harapan’ dan dalam gilirannya akan meningkatkan optimisme bangsa itu sendiri.

Dari pencerahan ke pengetahuan, terus ke harapan dan ke optimisme sehingga bisa ‘mendorong memberikan etos kerja yang baik’ seperti yang diharapkan oleh Presiden Jokowi itu.








Leave a Reply