JULIUS BIRING LAWI. NAMAN TERAN. Pelestarian adat dan budaya belakangan ini kerap diabaikan oleh masyarakat dan terkadang mungkin lupa untuk melestarikannya. Padahal, adat dan budaya tidak terlepas dari kehidupan Suku Karo karena hasil turun temurun dari nenek moyang kita.

Di Jaman Dahulu, sebelum masuknya berbagai perkembangan agama, masih banyak warga melakukan penyembahan di tempat-tempat keramat sekaligus memberikan sesajen di sana. Sekarang ini, hal-hal seperti itu mulai ditinggalkan meskipun untuk melestarikan budaya telah dijamin oleh Undang-undang Nomor 6 Tahun 2014 Pasal 4 Tentang Desa.

Tapi, lain halnya dengan waga Desa Kutambelin (Kecamatan Namanteran, Kabupaten Karo). Mereka secara bersama-sama membersihkan tempat yang pernah dipakai sebagai tempat keramat [Kamis 15/6: sekira 10:00 wib]. Sebagaimana dengan desa-desa Karo lainnya, tempat keramat itu adalah pemandian umum kampung (tapin kuta) dan Lau Tungkup.

Setelah dibersihkan, warga pun langsung melakukan acara ritual dan sekaligus melakukan sembah tradisi atau disebut juga dengan Mere Buahuta-uta Kuta yang konsepnya agak mirip dengan Bersih Desa di Jawa.

Menurut Kepala Desa Kutambelin (Medi Sahman Surbakti), pendiri desa ini (simantek kuta) adalah dari clan (merga) Sitepu. Mengadakan ritual Mere Buahuta-uta Kuta adalah juga berupa penghormatan terhadap merga yang mendirikan kampung ini.




“Kami hanya ingin anak-anak muda sekarang lebih mencintai adat dan budayanya sendiri sekaligus menghormati leluhur beserta tradisi yang mereka wariskan. Tidak lebih dari itu,” papar kepada desa ini.

Sepertinya roh-roh leluhur turut hadir dalam acara itu melalui acara kesurupan (seluk dalam Bahasa Karo). Acara kesurupabn dimulai dengan mempersembangkan sehelai daun sirih kepada beberapa orang yang biasa melakukan seluk.

Setelah menerima sirih, maka roh leluhur memasuki tubuhnya dan melakukan dialog dengan warga.

Sejak dibangunnya kamar mandi umum di tengah pemukiman beberapa puluh tahun lalu (diresmikan oleh Bupati Karo Alm. Rukun Sembiring) pemandian kampung (tapin kuta) pun terlantar karena tidak dipergunakan lagi. Orang-orang sempat berpikir bahwa tapin kuta, yang biasanya juga adalah tempat mandi perempuan (tapin diberu), tidak lebih daripada sekedar tempat mandi dan mengambil air untuk memasak. Padahal, tapin kuta adalah jantung dari semua ritual Karo.

Menurut antropolog Juara R. Ginting yang diwawancarai lewat facebook, tapin kuta dari setiap kampung tradisional Karo adalah tempat keramat.

Tapin kuta adalah tempat penyeberangan yang menghubungan kampung setempat sebagai sebuah pemukiman yang bersifat sekuler/ profan dengan kampung itu sebagai sebuah tempat suci (religus/ sakral). Dalam ritual mandi keramas (erpangir), misalnya, para peserta pergi ke tapin kuta dan nanti kembali ke rumah yang sama. Meski rumahnya sama, rumah itu sebagai titik berangkat berada di wilayah sekuler/ profan dari kampung, sedangkan rumah itu sebagai tempat pulang berada di wilayah religius/ sakral. Seluruh ritual adalah sebuah perjalanan dari wilayah sekuler/ profan ke wilayah religius/ sakral dari sebuah kampung. Itulah juga dasar pikiran bahwa dukun Karo (guru) punya mata dua lapis yang artinya bisa melihat dua level realitas ini sekaligus; sekuler dan religius,” papar Ginting.

“Kita sangat berharap setelah dibersihkan lokasi itu, kiranya warga desa ini terlepas dari berbagai kesulitan akibat erupsi Sinabung dan begitu juga hasil panen menjadi melimpah ruah dan mendapat harga yang baik,” kata kepada desa dan diamini oleh warganya.








Leave a Reply