Bagian 1 dari 5 Bagian

Kenalan Pertama di Gramedia Gajah Mada

Oleh: Sria van Munster

 

Musim panas tahun ini tidaklah secerah biasanya, sering mendung, gerimis dan suhu udara hanya rata-rata 21’C. Walau demikian aku mecoba menikmatinya dengan bersepeda keliling kanal dan sudut-sudut kota Amsterdam. Seperti biasanya, setiap sore aku habiskan waktuku di cafe ‘t Hooisschip…. tepat di pojok Blauwurg.

Senja ini tepatnya satu tahun yang lalu suamiku Patric berubah menjadi Patricia. Sesungguhnya aku telah berusaha menempatkan kejadian ini dalam peti kenangan yang kukunci rapat-rapat, tetapi celah hatiku meliriknya kembali karena aku pernah mencintainya dan bahagia bersama bertahun-tahun lamanya.

*********

Hari itu matahari terik sekali melebihi hari-hari biasanya, seolah-olah matahari ingin menghukum Kota Medan dengan teriknya yang membakar. Dengan langkah terseret-seret kupaksa kakiku membawa badan menuju Toko Gramedia Gajah Mada. Kalaulah aku kemarin malam tidak berjanji dengan bapa dan nande akan menyeselaikan kuliahku, aku tidak akan menginjakkan kakiku di sini. Tahun ini adalah tahun terakhir, atau aku harus drop out dari kampus dan menghianati orangtuaku. Aku tidak ingin itu terjadi.

“Excuse me, boleh saya duduk di sini?” tanya seorang laki-laki berambut pirang dan bermata biru, ketika aku baru saja meneguk es alpukat pesananku di cafe toko buku ini.

“Silakan,” jawabku sambil melirik sekejap ke wajahnya yang sedang berdiri di depanku dan melanjutkan bacaanku.

“Kenalkan, saya Patric Scholten,” ucapnya sambil mengulurkan tangan.

“Ya, hai saya Sri Ulina,” kataku sambil menyambut uluran tangannya.

“Orang Batak biasanya punya marga,” lanjutnya.

“Benar, tetapi saya bukan Batak walau saya punya merga. Mergaku adalah Brahmana,” jawabku datar

“Apa itu?” tanya Patric lebih lanjut.

Sejenak aku diam, karena nggak punya mood untuk kasi kuliah gratisan.

“Brahmana adalah salah satu clan yang kumpulannya adalah Sembiring, dan Sembiring adalah satu dari 5 kumpulan clan di Suku Karo. Kalau mau lebih tahu tentang Karo, tinggallah di Medan ini lebih lama dan bangunlah komunitas dengan Karo,” jawabku seadanya.

“Ya tentu saja, dan saya yakin kamu rela memberiku alamat rumahmu, dan menjadi temanku,“ balasnya dengan penuh antusias sambil tertawa.

“Cilaka dua belas,” jawabku sambil tertawa juga kesal. Aku terjebak.

(Bersambung)








 

Leave a Reply