Terjadi penembakan atas grup politisi Partai R dekat Washington [Kamis 15/6]. Penembaknya adalah kelompok anti R dan anti Trump. Seperti kita ketahui, kontradiksi Trump-Clinton dalam Pilpres lalu ialah antara nasionalisme kontra neoliberalisme.

AS sekarang memang sudah terpecah jadi dua penggerupan, nasionalis dan neoliberalis atau deep state. Dari partai R juga banyak yang ikut neolib. Pembagian AS bukan lagi seperti pembagian lama antara dua partai R atau D, tetapi antara nasionalisme kontra internaionalisme neolib.

Kampanye besar-besaran sekarang di AS dari pihak neolib deep state dicetuskan untuk menjatuhkan Trump dengan segala jalan. Yang menonjol sekarang ialah mengaitkan kekalahan neolib Clinton dalam Pilpres dengan campur tangan Rusia Putin yang katanya membikin Trump menang. Kampanye ini dikatakan oleh Trump sebagai ‘witch hunt’ yang belum pernah ada tandingannya dalam sejarah AS, dilakukan terhadap seorang Presiden AS. Itulah tuduhan Trump terhadap lawan-lawannya dalam kampanye ‘tukang sihir’ itu.

Betul memang, selama ini atau selama hampir 200 tahun sejak era Presiden Andrew Jackson (1829-1837), semua presiden AS hanya sebagai boneka di Gedung Putih karena penguasa sebenarnya adalah ‘element finans large centers’ (Roosevelt) atau ‘the party of money’ (Gore Vidal) atau ‘the secret government’ (prof Michael Glennon). Perlawanan pertama abad lalu oleh Presiden Kennedy yang pernah berusaha menantang arus finans element ini, tewas dalam cita-citanya itu (1963). Kennedy sangat sendirian ketika itu.




Perlawanan ke 2 dalam 200 tahun itu ialah Trump (2016-17), yang sangat dibantu oleh perubahan sejarah yaitu adanya era keterbukaan dan transparansi. Inilah syarat utama di pihak Trump yang bisa menjamin kemenangannya. Artinya, kemenangan karena adanya perubahan alamiah perkembangan dunia. Walaupun Trump bisa kalah kali ini, tetapi arah sejarah itu tidak bisa dibendung oleh kekuatan apapun.

Kontradiksi pokok dunia sudah beralih dari kontradiksi antara Barat dan Timur abad lalu ke kontradiksi antara kepentingan nasional kontra kepentingan internasional neolib abad 21. Ini berlaku di semua nation dunia, terutama jelas sekali di negeri-negeri berkembang kaya SDA. 

Kekuatan neolib (deep state) berada dalam ‘ketertutupan’ dan ‘rahasia’, terutama dalam berbagai organisasi intelijen AS yang masih sangat kuat seperti FBI, CIA, NSA dan banyak lainnya. Kekuatan Trump sebaliknya ada dalam keterbukaan dan transparansi. Tidak ada yang mau disembunyikan dalam perjuangan Trump, seperti yang terpokok sesuai dengan janjinya dalam kampanye pemilihan yaitu ‘America first’ atau dengan perkataan lain Trump akan membela dan menyelamatkan kelas pekerja AS yang selama ini ditinggalkan. Mereka merana karena pengangguran besar-besaran di daerah ‘rust belt’ tempat industri lama oleh perusahaan neolib yang pindah  ke luar negeri. Sekarang, mereka mau diselamatkan kembali oleh Trump dengan menghidupkan kembali fabrik-fabrik industri itu dan melarang ada fabrik hijrah ke luar. Trump juga akan memajaki dengan tarif tinggi produksi luar yang masuk ke AS.

Ini juga yang menjadi sebab utama mengapa Trump keluar dari perjanjian Paris, soal pengurangan emisi CO2. Perjanjian ini akan sangat merugikan bagi Trump AS dari segi duit/ ekonomi maupun pengangguran besar-besaran yang bakal terjadi. Ini terutama sekali terjadi kalau AS harus menghentikan penggunaan energi minyak dan batu bara dalam industrinya yang masih ada, dan yang akan dimulai lagi itu.




Dari segi ini terlihat memang akal bulus deep state neolib internasional mengakali Trump. Mereka mempertentangkan Trump dengan ratusan pemimpin dunia yang ikut perjanjian Paris. Tetapi Trump tidak peduli, dia lebih peduli kepada nasib rakyat dan pekerja AS yang dia janjikan akan membantunya dengan sepenuh hati kalau jadi presiden AS.

Pemimpin negara lain jelas tidak punya urusan atas kematian pekerja AS seperti juga sudah terbukti selama ini. Sama alasannya dengan Nicaragua menolak perjanjian Paris karena tidak mau ikut menipu rakyatnya sendiri mematikan industri tenaga minyak dan batu bara, industri yang baru saja dalam perkembangan di Nicaragua. Kalau ikut, berarti harus mematikan industrinya yang baru saja tumbuh, yang berarti harus tergantung lagi dari produduksi neolib internasional dari segi pangan maupun produksi industri lainnya.

Kita masih ingat juga bagaimana China pada mulanya adalah penentang utama pengurangan emisi gas racun itu dalam rangka menghidupkan industrinya yang dalam pembangunannya ketika itu yang basis  energinya adalah batu bara dan minyak fossil. Sekarang China sudah dalam fase produksi besar-besaran barang apa saja untuk dijual ke luar negeri. Karena itu kalau China sekarang memboikot perjanjian Paris sama dengan kematian China karena negara-negara yang ikut perjanjian itu bisa memboikot produksi China, yang sudah jadi negara pengexport utama dunia itu.






Leave a Reply