Warga Suku Karo Bersama 3 Organisasi Tuntut Tanah Ulayat

0
805

DENHAS MAHA. MEDAN. Forum Gerakan Mahasiswa dan Pemuda Karo (Forgammka), WALHI Sumut dan Kontras Sumut bersama ratusan warga 4 desa di Kecamatan Pancurbatu (Kabupaten Deliserdang) berkumpul di areal perladangan warga Simalingkar A dan melakukan aksi kubur diri serta teatrikal [Sabtu 17/6]. Ini semua untuk menggambarkan perampasan tanah yang dilakukan oleh mafia tanah.

4 pria dan 1 perempuan mengubur dirinya di tanah. Ibu-ibu berjalan membentangkan poster-poster sambil berteriak-teriak meminta tolong kepada Tuhan dan Presiden RI (Jokowidodo). Aksi ini berakhir sekitar pukul 17.00 wib sore ketika peserta kubur diri telah kelelahan dan lemas bahkan nyaris pingsan karna kepanasan dan susah bernafas.

Ketua Forgammka (Iwan Tarigan) dan tim advokasi masyarakat mengatakan aksi ini dilakukan sebagai bentuk kekesalan dan kekecewaan masyarakat terhadap pemerintah yang terkesan tutup mata terhadap permasalahan warga di sini.

“Tanah ulayat yang telah dikelola oleh masyarakat selama puluhan tahun ingin dirampas PTPN II begitu saja,” kata Iwan.




Akibatnya, selama 6 bulan terakhir ini masyarakat tidak bisa lagi menjalankan aktivitasnya sebagai petani karena lahan yang telah ditanami dikeruk oleh oknum-oknum TNI yang ditugaskan di lokasi tersebut dengan menggunakan alat berat sehingga menimbulkan kerugian yang besar bagi masyarakat.

Selain itu, warga juga mendapat kabar bahwa rumah yang mereka tempati juga akan digusur. Oleh karena itu, setiap hari warga selalu berjaga mengantisipasi masuknya alat berat ke daerah pemukiman mereka. Mereka berharap agar Pemprovsu, DPRDSU, dan Presiden RI dapat melihat penderitaan mereka dan turun tangan menyelesaian masalah ini serta tetap membiarkan mereka hidup di atas tanah ulayatnya.

"NandeKu Sayang Ikut Berjuang"Tidak adil rasanya kalau ketidak adilan harus di emban oleh para Nande -Nande (ibu -ibu) ini. Pasalnya, tanah ulayat yang mereka pertahankan sejak puluhan tahun silam dengan bercocok tanam untuk kelangsungan hidup keluarga dan menyekolahkan anak harus dirampas oleh PTPN II. Bergetar hati ini ketika medengar salah satu Nande mengatakan "Bapak Presiden, Pak Jokowi tolong kami", menetes air mata ini ketika melihat para Nande memberikan seteguk air kepada salah seorang peserta aksi yang melakukan "aksi kubur diri" dibawah terik matahari sebagai bentuk kekesalan terhadap ketidak adilan yang dirasakannya. Pertanyaannya adalah "bukankah pancasila menjamin keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia?", "Apakah memang kesejahteraan hanya untuk pemodal Asing?", "Apakah hak warga negara Indonesia hanya untuk mereka yang hanya berpakaian safari dengan lambang negara yang tersemat didadanya?", lantas bagaimana dengan mereka para ibu?, para orang tua yang hanya bermodalkan pinjam uang dari tengkulak hanya untuk bisa membeli benih dan pupuk dalam bercocok tanam? Yang berpakaian lusuh bermodalkan cangkul dan tenaga untuk mengolah lahan?. Tidak hanya itu, yang paling membuat hati menjerit adalah ketika beberapa bulan ini mereka harus berhadapan dengan barisan abdi negara "Oknum Tentara Nasional Indonesia" yang seharusnya menjaga keutuhan dan keamanan rakyat kini malah mebuat takut rakyat dengan senjata. Tak adil rasanya ketika pinang sirih harus melawan senjata SS-1. "bukankah TNI tidak di perbolehkan untuk ikut politik praktis?", "apakah mereka lupa tugas pokok mereka?". Ya… Ini lah yang terjadi sekarang… Di Idonesia ku.., Di Tanah Air ku…, Desa Simalingkar A kec.Pancur Batu 2017.#Pejuangwanitakaro#Nandenande#hiduprakyat

Posted by Iwan Tarigan on Saturday, June 17, 2017








Leave a Reply