Sebagai salah satu media sosial (medsos) terbesar, Facebook (Fb) tidak pernah sepi dengan ragam informasi. Fb yang pada awalnya dibuat untuk jejaring pertemanan, perkembangannya berubah dengan berbagai fungsi.

Beranda-beranda pemilik akun sudah tidak sekedar berisi ekspresi pribadi, tetapi juga diisi dengan tujuan komersil dan berbagai informasi lain. Di samping itu, isu-isu hangat yang beredar di tengah masyarakat pun bisa dengan mudah di dapat, baik karena di share teman, atau di copypaste (copas) dari bermacam-macam Fanpage (Fp) yang ada.

Mengakhiri minggu ke-3 Ramadan ini, dari pengamatan saya ada beberapa peristiwa yang cukup mendapat respon dari “warga maya”. Peritiwa-peristiwa itu tidak terkait politik atau berita viral pada umumnya, melainkan tentang kabar mengenai hamba-hamba Tuhan yang dibuat celaka oleh Tuhan karena Tuhan menganggap mereka telah menghinaNya.

Untuk menghormati umat Tuhan yang telah berpulang, saya tidak akan merinci nama-nama hamba-hamba Tuhan yang menjadi ‘korban balas dendam’ Tuhan itu, karena asumsi saya mungkin sebagian pembaca sudah pada tahu. Kalau pun ketinggalan informasi, cukup mudah menelusurinya di google. Bahkan sebuah media online turut memberitakannya dengan narasi yang begitu tragis.

Pembalasan Tuhan kepada manusia ciptaanNya yang dianggap telah melecehkan ruleNya disambut suka cita oleh sebagian hamba Tuhan yang lain.

Itu terlihat dari komentar-kometar mereka yang saya baca. Sepertinya mereka begitu berpuas diri atas musibah yang ditimpakan Tuhannya kepada orang-orang malang yang mungkin mereka benci, tak perduli mereka tengah ibadah di bulan yang suci.




Saya tentu tidak berani mengatakan bahwa orang-orang yang berpuas diri melihat musibah yang dialami orang lain itu adalah orang yang sakit jiwa. Toh, terlihat interaksi mereka seperti orang normal pada umumnya. Mungkin ilmu psikologi mampu menjelaskan apakah orang-orang dengan karakter seperti itu mengalami gangguan kejiwaan atau tidak.

Sedangkan saya, berharap keadaan seperti itu hanya merupakan gangguan kepribadian ringan yang tidak mengarah ke gangguan kejiwaan yang paling mengerikan, yaitu psikopat. Semoga saja tidak, karena jika benar pasti akan mengerikan karena negeri ini dihuni begitu banyak “monster-monster” berwujud manusia.

Para pemeluk agama yang saling berbalas ekspose atas peristiwa tragis yang dialami pemeluk agama lain karena dianggap melecehkan Tuhan, atau pun melecehkan ajaran agama masing-masing bukanlah peristiwa baru.

Kini, kondisi tersebut malah gampang kita temukan, misalnya di forum-forum agama di media sosial yang seringkali berujung dengan saling caci dan hina antara umat agama satu dengan umat agama lainnya.

Yang hendak saya sampaikan di sini hanyalah sebuah harapan agar setiap pemeluk agama mampu berpikir jernih dan rasional terkait kejadian-kejadian tersebut. Kejadian yang disangkutpautkan terhadap orang yang terkena musibah setelah dianggap menghina keyakinan tertentu bisa terjadi kepada seluruh pemeluk agama apa pun. Bagi saya, itu tak lebih daripada suatu kebetulan belaka, atau kalau memakai istilah netizen sekarang sering disebut cocoklogi.




Berapa banyak orang yang difatwa mati oleh pengikut suatu agama hidupnya baik-baik saja? Berapa banyak rumah-rumah ibadah yang hancur akibat bencana alam? Berapa banyak agamawan yang dianggap manusia suci oleh umatnya juga mengalami nasib tragis?

Bahkan di tempat-tempat tersuci pun tak luput dari musibah, hingga dibom oleh orang-orang jahat. Apakah itu karena Tuhan tidak mampu menjaganya?

Kapan kita bisa mengubah mindset sentimental seperti ini? Apakah jikalau musibah seperti yang terjadi dengan orang-orang yang kita hujat, berbeda dengan orang-orang yang kita agungkan, karena kita hanya menyebutnya sebagai cobaan?

Padahal jika musibah terjadi, baik kepada orang yang kita muliakan atau pun orang yang kita nistakan, toh tetap tak ada bedanya. Itu tetaplah sebuah takdir yang terjadi pada diri seorang anak manusia. Jadi, janganlah kita bawa-bawa Tuhan ikut campur dengan nafsu iman kita.

Kalau kita mengagungkan Tuhan, rasanya tak pantas derajat Tuhan kita samakan dengan manusia sebagai sebuah pribadi yang gampang marah, hingga suka membalas dendam.

Jika Tuhan gampang tersinggung, atau suka membalas dendam kepada makhluk ciptaanNya sendiri, bukankah tak ada bedanya Dia dengan manusia?

Kemarahan-kemarahan seperti di atas hanyalah karena sebagian dari kita sudah kehilangan perilaku santun.

Kita seperti tidak mau mengedepankan cara berpikir rasional dan logis jika itu berkaitan dengan perasaan ketidaksukaan kita. Padahal, akal pikiran itulah yang membedakan manusia dengan primata lainnya.






Leave a Reply