Saya kok tiba-tiba terbayang tentang kunang-kunang? Anda pasti tahu mahluk itu. Serangga kecil yang pada bokongnya terdapat bohlam hingga menyala indah di saat gelap. Tuhan tahu, dalam dunia serangga tidak perlu perusahaan seperti PLS (Perusahaan Listrik Serangga).

Makanya kunang-kunang diberikan keajaiban untuk bersinar sendiri. Tanpa harus repot-repot membayar tagihan listrik. Dan, Pak Jokowi tidak perlu dituding-tuding jika subsidi listrik dicabut.




Mungkin inilah bokong terindah dari semua mahluk ciptaan Tuhan. Majalah FHM, Esquaire atau Playboy bisa saja memilih pria atau wanita dengan bokong terseksi. Tapi siapa yang bisa mengalahkan keindahan bokong kunang-kunang? Dalam gelap, bola-bola lampu kecil itu berterbangan. Berkelebatan. Memukau.

Untung saja Tuhan itu adil. Dia hanya menempatkan bola lampu di bokong kunang-kunang. Coba Anda bayangkan, jika bokong Anda yang bisa menyala terang? Tentu karena ukuran bokong manusia lebih besar daripada kunang-kunang, kekuatan cahayanya akan lebih besar lagi. Ya, kira-kira samalah dengan bola lampu 40 watt.

Mungkin kekuatan cahaya ini sesuai dengan tingkatan usia. Saat masih anak-anak, cahayanya hanya samar saja. Ketika dewasa cahayanya akan semakin terang. Lalu, meredup lagi ketika sudah berstatus tante dan oom.

Akibatnya, para perempuan yang sering menyembunyikan tahun kelahirannya, akan sebel. Soalnya, ketika dia bilang usianya masih sekitar tigapuluhan, kok cahayanya sudah seperti lampu teplok begitu.

Tapi, bagi gadis-gadis belia, pendaran cahaya ini terlihat begitu terang. Seperti bola lampu baru dipasang. Ah, gadis-gadis cantik yang kini hobi menggenakan celana super pendek, dan berkeliaran di mall itu, pasti akan makin menarik dilihatnya. Ketika mereka berjalan, ada sinar kuning berpendaran dari sela-sela celana pendeknya. Apalagi jika mereka melintas dalam gelap, wow…

Para perancang mode akan menciptakan jenis pakaian dalam yang transparan pada bagian belakang. Dengan bahan warna-warni. Gunanya, jika tersorot cahaya yang berasal dari bokong penggunanya serasa ada untaian pelangi yang mengikuti berjalan. Lalu, orang-orang akan saling memamerkan keindahan cahayanya.

”Wajah nomor dua, yang penting cahayanya, bro,” ujar seorang pria, tentang kriteria pacar idamannya.

Aha, WC-WC dan toilet umum akan sangat memukau. Sebab di sinilah semua cahaya dibiarkan terbuka. Saya usul, di toilet umum itu tidak usah dipasang lampu. Ini bisa jadi keindahan tersendiri. Seperti aksi lampu sorot dari arena Pekan Raya Jakarta. Atau pesta laser pada konser musik rock.

Lantas bagaimana dengan surau-surau di kampung, yang pada saat shalat subuh orang-orang berjamaah dengan menggenakan sarung? Cahaya dari balik sarung Imam, misalnya, pasti akan mengganggu kekhusyukan makmum. Lagi pula, dengan cahaya yang berpendaran, bekelap kelip, mesjid akan jadi seperti pasar malam.

Begitupun tempat ibadah lain seperti Gereja, Vihara, atau Klenteng atau Pura. Tidak ada lagi kesyahduan. Sebab di semua tempat, setiap saat, seperti ada pesta ulang tahun!

Untunglah Tuhan Maha Adil. Ketika menciptakan bokong manusia, Dia tidak menempelkan bola lampu seperti pada kunang-kunang. Mungkin agar kita tidak merasa lebih hebat dari seekor serangga di waktu malam…








Leave a Reply