Ada dua hal yang biasanya menghiasi Ramadhan kini terasa agak berkurang. Pertama adalah keberhasilan pemerintah Jokowi meredam gejolak harga yang biasa terjadi saat Ramadhan.

Iya sih, kenaikan harga tetap terjadi. Wajar, karena permintaan bahan makanan yang tinggi saat ouasa. Cuma dibanding dengan tahun-tahun lalu, bisa dikatakan kuping kita tahun ini lebih adem dari ocehan emak-emak saat pulang dari pasar.

Bukan hanya harga yang relatif stabil, pasokan barang juga lancar. Kita bahkan tidak mendengar ada barang yang hilang dari pasar. Jadi, syukurlah, Ramadhan ini kita lewati dengan wajah para emak yang lebih sumringah. Suasana puasa di rumah relatif lebih syahdu.

Yang ke dua, tiap Ramadhan kita selalu disibukkan dengan isu sweeping para pedagang makanan, tempat hiburan dan sejenisnya. Ramadhan ini kita tidak mendengar itu.

Tahun lalu kita dihebohkan ada seorang ibu di Serang yang dagangannya diobrak-abrik Satpol PP. Dia berusaha mempertahankan ladang nafkahnya. Tapi, Satpol PP terus merangsek. Video kejadian ini viral. Simpati publik terarah kepada ibu pedagang.

Bahkan Netizen bergerak untuk mengumpulkan sumbangan. Terkumpul uang sampai ratusan juta rupiah untuk membantu ibu padagang.




Kini isu soal sweeping Satpol PP tidak terlalu terdengar. Hanya sekilas info, di Sumatera ada Satpol PP yang disiram kuah sambel ketika mereka mau mengobrak-abrik dagangan orang. Rasain.

Biasanya juga, tiap-tiap Ramadhan organisasi seperti FPI sering gaya-gayaan mensweeping rumah hiburan. Tapi Ramadhan tahun ini relatif sepi. Mungkin karena FPI disibukkan dengan kaburnya Rizieq.

“FPI mau sweeping bisnis esek-esek? Lho, Imam Besarnya saja kabur kena kasus esek-esek, masa laskar di lapangan malah sok-sokan sweepingan. Itu namanya anggota yang kualat,” ujar teman saya.

Jadi, Alhamdulillah puasa ini kita lewati dengan telinga yang lebih adem. Kuping bapak-bapak tidak dipenuhi gerundelan istrinya tentang harga barang yang meroket. Ini berkat hasil kerja pemerintah. Terimakasih, Pak Jokowi.

Mata dan kuping kita juga adem karena tahun ini tidak ada teriakan sweeping, atau takbir yang disemburkan sembarangan atau pengobrak-abrikan tempat usaha yang sering dilakukan FPI. Tahun ini relatif puasa kita lebih enak.

Sepinya sweeping FPI karena memang mereka sedang konsentrasi pada kasus Rizieq Shihab. Untuk itu kita perlu berterimakasih pada Firza. Karena keringat dan posenya jualah, Ramadhan ini kita lewati tanpa ‘gangguan’ FPI .

Kak Emma, tolong sampaikan kepada Firza, umat Islam Indonesia mengucapkan terimakasih padanya. Dia telah membantu kita semua menjalani Ramadhan dengan damai, membantu umat lebih khusyuk dan ibadah lebih tenang. Mari kita doakan, semoga Tuhan membalas semua amal baik Firza. Amien.

Jadi, jika kita mau setiap bulan puasa suasananya setenang ini, ada dua cara yang bisa dilakukan. Pertama, jaga harga-harga barang kebutuhan pokok. Perhatikan juga stabilitas pasokan. Ke dua, bubarkan ormas-ormas radikal.

Yang ke tiga, sebagai tambahan, Gaj Ahmada itu sebetulnya siapa sih? Tolong ditanyakan, apa dia sudah diimunisasi kanker serviks?








1 COMMENT

  1. “tolong sampaikan kepada Firza, umat Islam Indonesia mengucapkan terimakasih padanya. Dia telah membantu kita semua menjalani Ramadhan dengan damai, membantu umat lebih khusyuk dan ibadah lebih tenang.”

    Inilah salah satu perubahan positif sebagai hasil dari kontradiksi antara Rizieq kontra kebijaksanaan polri menghadapi kasusnya. Dari kontradiksi antara Rizieq/FPI kontra Ahok juga jelas banyak menghasilkan yang positif bagi publik negeri ini. Kesedaran publik yang lebih tinggi dalam menilai sikap negatif Rizieq/FPInya, dan juga meningkatnya kesedaran politik pada umumnya sangat terlihat akhir-akhir ini. Kontradiksi (perjuangan antara segi-segi yang bertentangan) dalam masyarakat telah menjadi pendorong perubahan dan perkembangan ke arah yang positif.

    MUG

Leave a Reply