Tidak terasa sudah satu tahun, istri saya mengantar dan menjemput anak kami sekolah tingkat Play Group.  Kami memang memutuskan untuk tidak menggunakan jasa pembantu dalam mendampingi anak kami, baik di rumah maupun ke sekolah. Dalam hal ini, saya sangat bersyukur punya wanita perkasa, penerjang kelemahan. Dalam keseharian antar jemput sekolah, dia sangat perkasa mengendarai motor metic  kendaraan satu-satunya yang kami miliki.

Tidak terasa, hujan, terik, mendung, macet telah dilewati dan tibalah saatnya anak kami akan memasuki sekolah TK-A, di sekolah yang menerapkan Metode Montessori.

Liburan panjang telah datang, menandakan sayonara Play Group, dan TK-A akan datang. Libur identik dengan keriangan, tapi kami merasakan sebaliknya. Liburan ini akan menjadi masalah jika kami tidak menemukan kegiatan yang tepat untuk anak kami. Di sekolah, anak ini menemukan kebahagiaan hidup lewat kegiatan yang ia jalani. Kami yakin ia bahagia, karena setiap hari kami akan bertanya: “Bagaimana hari ini nak, apakah kame senang, bahagia, dan semangat di sekolah? Ceritakan apa yang telah kamu lakukan hari ini di sekolah?”




Antusiasnya anak ini bercerita, menjadi bukti bagi kami ia bahagia dengan sekolahnya, dan tentu kami ikut bahagia dengan itu. Kami tidak ingin ia lebih hebat dari B.J. Habibie, jika ia merasa tertekan. Selama liburan, kami tidak ingin kebahagiaan anak ini terhenti.

Minggu ini, 18 Juni 2017, setelah berdiskusi panjang kami berangkat ke pusat perbelanjaan. Saya dan istri saya, dan juga meminta persetujuan anak kami, sepakat untuk membelikan mainan dan juga buku-buku yang diperlukan selama liburan.  Sebelum berangkat, anak kami minta digendong sama saya bapaknya. Dalam keseharian, mustahil ini terjadi, bahkan ketika hendak tidur pun sangat sulit untuk mencium pipinya.

Ia juga mustahil mencim pipi saya. Karena dibelikan mainan dan buku itulah yang membuat hari ini berbeda. Ia mencium pipi saya segera setelah saya gendong.

Perdebatan tak terhindarkan terjadi ketika kami berada di toko mainan di salah satu pusat perbelanjaan di Kota Bandung. Jika saja kami punya uang yang berlebih, mungkin perdebatan sengit itu tidak perlu terjadi. Akan tetapi dana yang ada hanya bersumber dari celengan saya dan anak saya. Tidak boleh lebih, karena akan menganggu pendanaan keperluan yang lain.

Jika kami menuruti anak, maka uang yang ada hanya cukup membeli mainan saja, tetapi buku tidak bisa dibeli. Anak kami protes, ia minta beli mainan yang ia suka, tetapi  buku juga tetap dibeli. Akhirnya saya menemukan jalan untuk membujuk anak tersebut, dengan menjelaskan bahwa maninan excavator yang kami anjurkan untuknya dapat dioperasikan dengan tangannya, sehingga ia bisa melakukan penggalian tanah di taman rumah.

Selesai berdebat tentang alat mainan, kami juga tidak bisa menghindari perdebatan tidak kalah sengit di toko buku Gramedia. Kami menilai buku yang cocok untuknya selama liburan, tapi ia melihat buku dari sisi yang berbeda.  Lagi-lagi, kami harus mampu meyakinkannya bahwa buku yang kami tawarkan sangat menyenagkan. Ahirnya, setelah melihat gambar-gambar ikan Dory dan hewan-hewan laut lainnya ia pun sepakat untuk menerima buku yang kami tawarkan.

Hari ini, Senin 19 Juni 2017, saya diberitahu bahwa anak kami, sangat menikmati buku-bukunya. Pagi-pagi ia sudah menyambung titik-titik dalam buku yang kemarin kami berikan. Ia jaga dengan cara menghitung ikan-ikan yang ada di buku tersebut. Saya juga turut tersenyum, karena bisa memberikan hal-hal yang sederhana tapi membuat anak ini tetap bahagia.




Kami juga jadi belajar, sebagai orangtua, untuk meluangkan waktu, pikiran,  dan untuk mendampinginya. Anak ini tentu belum tahu mau menjadi apa kelak, tapi kami orangtuanya bisa memberi bekal baginya agar kehidupannya kelak tetap dalam kebahagiaan. Kebahagiaan sejati dalam hidup adalah ketika kita menyelesaikan segala persoalan dengan penuh optimis dan positif, memandang masalah adalah bagian dari pembuktian bahwa kita adalah bagian dari solusinya, bukan malah menjadi polusi. Kebahagiaan hidup itu  adalah menjadi kebaikan bagi orang lain dan lingkungan.

Yah, akhirnya kami bisa membuat liburan anak kami menjadi waktu yang sangat menyenangkan. Akan tetapi, saya harus merelakan keinginan saya memiliki HP yang baru harus tertunda atau malah tidak akan terealisasi. Saya memang menyisihkan sejumlah uang untuk bisa membeli HP di akhir tahun. Namun, untuk membeli mainan dan buku-buku anak kami, HP baru harus bersabar menunggu kesempatan.

HP baru tidak jadi, tapi hati sebagai bapak sangat berbahagia memberi kebahagiaan bagi anak kami.






1 COMMENT

  1. “Kebahagiaan sejati dalam hidup adalah ketika kita menyelesaikan segala persoalan dengan penuh optimis dan positif, memandang masalah adalah bagian dari pembuktian bahwa kita adalah bagian dari solusinya, bukan malah menjadi polusi.”

    Ini kesimpulan briliant dan inspiratif. Kalau ini diingat setiap kali kita cari penyelesaian suatu soal, akan terasa sangat membantu dalam proses cari solusinya.

    MUG

Leave a Reply