‘Islamisasi’ tokoh dunia atau tokoh sejarah lainnya ternyata bukan hanya menggemparkan Indonesia. Terlebih sejak viralnya ‘pelurusan’ sejarah mengenai sosok Maha Patih Gajah Mada.

Sebelum kemunculan Gajah Mada yang diklaim seorang penulis adalah pemeluk Islam, dan ‘berganti’ nama menjadi Gaj Ahmada, pada pertengahan tahun 2014 kejadian serupa sempat menghebohkan Turki.

Adalah Kadir Mısıroğlu, penulis dan sejarahwan terkemuka Turki pada sebuah wawancara dengan salah satu stasiun televisi setempat, membuat dunia internasional geleng-geleng kepala. Dia mengatakan William Shakespeare, salah satu sastrawan terbesar Inggris adalah seorang muslim yang selama ini disembunyikan.

Menurutnya, Shakespeare bernama asli Sheikh Pir.

Terang saja pernyataan sejarawan senior Turki kelahiran 24 Januari 1933 itu membuat banyak pihak menyayangkan. Akibatnya banyak pakar sejarah internasional mempertanyakan kembali tulisan-tulisan dan tinjauan sejarah yang dibuat oleh pria berusia sepuh itu. Namun, Kadir Mısıroğlu tidak dihujat. Dia hanya dijadikan bahan lelucon, hampir sama dengan kejadian ‘mualafnya’ Gajah Mada di Indonesia.

William Shakespeare (ˈʃeɪkspɪər), lahir 23 April 1564 di Stratford-upon-Avon, Britania Raya. Dia dan keluarganya merupakaan jemaat Gereja Anglikan yang taat.




Namun, banyak ilmuwan berspekulasi tentang keyakinan religius pribadinya. Berdasarkan analisis catatan sejarah dan karya terbitannya, bahwa mungkin dia dan keluarga adalah jemaat Katolik rahasia.

Pemuka agama Kristen lainnya justru ada yang berspekulasi kalau dia adalah seorang atheist. Apakah sebagai muslim saya tidak bangga dengan banyaknya tokoh-tokoh dunia non muslim yang setelah sejarahnya ‘diluruskan’ kemudian berubah menjadi muslim?

Tidak…. ! Mengapa? Karena saya tidak suka dengan sejarah atau informasi yang dibuat dengan kebohongan (taqiyya). Bagi saya, tak ada gunanya sejarah yang terdokumentasi dengan baik direka-reka kembali demi segala tujuan.

Sejarah tetaplah sejarah. Meski sejarah tak jarang digunakan untuk kepentingan propaganda, misalnya, namun sejarah idealnya harus menjadi tinjauan masa lalu manusia untuk membangun masa depan yang lebih baik.

Membangun superioritas semu dengan mengutak-atik sejarah mungkin hanya ditujukan untuk orang bodoh. Karena semakin banyak orang bodoh, maka semakin banyak sumber daya manusia yang bisa digiring untuk tujuan tertentu.

Anda bisa bayangkan, misalnya seratus tahun kemudian, Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang rasis dan kontoversial, kemudian sejarahnya diluruskan? Dan “sim salabim”, dia berubah menjadi seorang muslim yang taat. Namanya pun berganti menjadi Dhomir Thoyyibun.

Saya hanya membayangkan bagaimana gelak tawa rakyat Amerika di kala itu.








1 COMMENT

Leave a Reply