Oleh: Petrus Meliala

 

Dari dulu produk pertanian Sumut khususnya Karo merupakan produk yang dipakai sekitar 95% oleh warga Kota Batam. Sisanya (5%) datang dari daerah-daerah lain. Sekarang ini telah mengalami perubahan karena adanya ekspansi dari negara-negara lain seperti China, Thailand dan, bahkan, Singapore.

Singapore nota bene adalah kota metropolitan yang konon lahannya sudah sangat sempit.

Bukan tidak mungkin produk luar negeri akan menguasai pasar holtikultura di Indonesia. Mengapa?

Ada beberapa faktor penyebabnya, yang diantaranya adalah:

1. Status Kota Batam sebagai Free Trade Zone (FTZ) sehingga memudahkan produk impor masuk ke indonesia

2. Produk Indonesia khususnya produk Karo tidak bebas dari pestisida sehingga tidak cukup kuat bersaing di pasar dengan produk luar yang katanya organik

3. Dengan pengemasan yang amburadul dan sistem transportasi yang tidak bagus menyebabkan daya tahan produk tidak kuat, sementara produk dari luar dikemas begitu baik dan kemasan yang begitu menarik

4. Dan lain-lain.

Bagi kita masyarakat Karo yang mencintai pertanian, apakah kita tinggal diam saja? Kita mempunyai potensi yang luar biasa. Alam yang begitu subur dan indah, apakah kita harus memakan tomat made in Singapore? Apa gerakan yang harus kita perbuat dari sekarang?








1 COMMENT

  1. “Bagi kita masyarakat Karo yang mencintai pertanian, apakah kita tinggal diam saja? Kita mempunyai potensi yang luar biasa. Alam yang begitu subur dan indah, apakah kita harus memakan tomat made in Singapore? Apa gerakan yang harus kita perbuat dari sekarang?”

    Ini pertanyaan yang sangat hakiki bagi kelanjutan hidup daerah Karo atau Karo sebagai satu kultur bhinneka tunggal ika itu.

    Ayo kerja!
    dan berpikir cari solusi bagi semua anak-anak muda dan intelektual Karo. Cari solusi. Petani Karo bekerja, intelektual dan akademisinya harus berpikir cari solusi persoalan masa depan Karo.

Leave a Reply