Kolom M.U. Ginting: PEMENANG KONTRADIKSI SUDAH TERLIHAT DI INDONESIA (Di AS Belum Terlihat)

0
491

“Tolong sampaikan kepada Firza, umat Islam Indonesia mengucapkan terimakasih padanya. Dia telah membantu kita semua menjalani Ramadhan dengan damai, membantu umat lebih khusyuk dan ibadah lebih tenang,” kata Eko Kuntadhi dalam kolomnya di Sora sirulo beberapa hari lalu. 

Kontradiksi adalah tenaga penggerak perubahan . . .  terlihat juga dalam peristiwa ini (Rizieq-Firza). Perubahan dari negatif menjadi sesuatu perubahan yang positif. Perubahan cepat ini memang tidak mungkin tanpa kontradiksi (perjuangan antara segi-segi bertentangan).

Berapa banyak yang positif terjadi setelah melalui kontradiksi Ahok maupun Rizieq/ Firza? Kesedaran berpolitik dan toleransi sesama yang berbeda agama malah berubah jadi lebih tinggi di Indonesia sekarang ini. Perubahan positif luar biasa di kalangan publik Jakarta dan juga seluruh Indonesia umumnya.




Kalau dibandingkan dengan kontradiksi politik yang terjadi di AS sekarang, dimana kontradiksinya pada mulanya digambarkan oleh perjuangan antara Clinton kontra Trump dalam Pilpres lalu, sekarang telah semakin jelas antara dua kepentingan yang bertentangan. Kepentingan neolib internasional berhadapan dengan kepentingan nasional AS yang diwakili oleh Trump. Perjuangan atau kontradiksi ini disebut oleh Trump dengan nama ‘witch hunt’. Menurut Trump ‘pemburuan’ terhadap seorang presiden seperti ini belum pernah terjadi dalam sejarah AS.

Memang betul, tidak pernah ada ‘witch hunt’ model ini sebelumnya. Selama ini yang terlihat di permukaan hanyalah kontradiksi antara Partai R dan Partai D yang sebenarnya semu, fiktif atau buatan saja. Kedua partai ini (R maupun D) hanyalah cabang dari satu partai sesungguhnya yaitu ‘The Party of Money’ (Gore Vidal). Partai R yang selama ini adalah salah satu cabang dari Partai Uang itu di bawah Trump telah berubah menjadi partai nasionalis anti neolib, artinya jadi penentang partai uang.

Neolib sudah terang-terangan sekarang mau menghancurkan Trump dan pemerintahannya. Organisasi ‘pemberontak’ ini sekarang dinamai deep state. Pada mulanya neolib sendiri tidak mengakui adanya deep state (konspirasi), tetapi sekarang bukan hanya tidak mengakui tetapi malah sudah bikin blue print (rencana) terang-terangan bagaimana menjatuhkan Trump.

Sekarang neolib deep state terang-terangan bikin koalisi dan menganjurkan Trump dengan segala cara termasuk yang kasar seperti “rogue tweeting” or “leaking to the media” as options for fighting the president. Kita bisa melihat sekarang bagaimana organisasi intel (FBI atau CIA) membocorkan semua pembicaraan intern Trump.  Dari segi lain Prof. Kevin MacDonald bilang dalam twitternya:

Nationalism will not win without blood in the streets–lots of blood. Establishment is prepared to go 2 any length 2 preserve the status quo.”

 

Semakin jelas bagi publik AS bahwa kontradiksi kali ini memang sangat serius dan menentukan masa depan negeri adidaya itu.

Kalau di Indonesia. kontradiksinya sudah terlihat kemajuannya dan kemenangan di pihak mana karena kontradiksinya sudah melewati puncaknya. Tetapi di AS, perjuangan itu masih dalam fase sengit-sengitnya. Belum bisa dipastikan siapa yang akan menang. Yang sangat positif sudah terjadi di AS ialah bahwa selama ini juga sudah ada deep state atau the secret government tetapi tidak banyak yang memahaminya. Sekarang publik sudah paham betul siapa di belakangnya.

Foto header: Ita Apulina Tarigan di Pieterskerk (Leiden, Nederland).

 








Leave a Reply