Sebuah buku yang sangat menarik yang baru saja terbit di bulan lalu: ‘The Power of Silence: Against the Dictatorship of Noise’. Sebuah karya dari Cardinal Robert Sarah, kelahiran Guinea dan alumnus Pontifical Gregorian University, Roma. Saya masih harus menanti buku ini dikirim dari Amerika sehingga saya belum bisa bercerita banyak. Barangkali minggu depan, buku ini akan tiba di UK.

Tapi di dalam sebuah ‘review’ yang saya baca, ada satu petikan pernyataan sang Kardinal yang sangat menarik:

Can those who do not know silence ever attain truth, beauty, or love? Do not wisdom, artistic vision, and devotion spring from silence, where the voice of God is heard in the depths of the human heart?”

“Bisakah seseorang yang tidak mengenal keheningan mampu meraih kebenaran, keindahan, dan cinta? Tidakkah kebijaksanaan, talenta seni, dan devosi berangkat dari keheningan, di mana suara Tuhan bisa didengar di kedalaman hati manusia?”

Sebuah pernyataan yang begitu menggugah spiritualitas manusia, apalagi di tengah-tengah ‘kediktatoran’ informasi yang karakternya begitu ‘cair’ mampu ‘menjajah’ dan ‘menginterupsi’ pikiran dan kehidupan siapa saja. Mampu menabur kebencian dan sengketa.

Jemari kita begitu mudah membagi berita penuh kebencian, sementara pikiran kita begitu elastis untuk dibengkokkan ke kiri dan ke kanan oleh para penabur amarah. Saya pikir, buku dari Cardinal Sarah ada baiknya kita baca bersama. Sebuah upaya untuk berlatih diam di dalam keheningan, tentunya bersama Tuhan.

Foto header: Penulis di Inggris.








Leave a Reply