Mama Biring. Kalimat ini terus terngiang-ngiang di telinga saya. Saya tak bisa lupa, bahkan bagi saya yang pelupa dan mudah melupakan sekali pun, panggilan ini tak bisa saya lupakan. Apalagi jika kalimat itu keluar dari mult seorang perempuan beru Ginting (karena ibu saya juga beru Ginting).

Itu bukan karena saya terpesona, atau jatuh hati, atau jatuh cinta. Tapi, mungkin inilah yang disebut dengan cita rasa. Maksudnya sebuah perasaan kesamaan dan kerinduan akan hal yang lazim, namun saat sekarang ini sudah jarang dirasakan, sehingga saat dirasakan kembali, sensasinya dirasa sangat luar biasa.

Cerita lengkapnya. Kemarin lalu [Selasa 20/6], saya menemani adik saya ke Kota Jambi, sambilan saya juga memang ingin berbelanja. Satu harian kami habiskan mutar-mutar di kota itu. Sebenarnya sih kelamaan kena macet, karena kebetulan kemarin itu Kota Jambi diguyur hujan.

Selesai berbelanja, sekitar pukul 16.00 wib kami pun putuskan pulang. Bukan terburu-buru, tetapi kebetulan ada adik kami yang sudah membusuk satu harian menunggu di depan Kampus UNJA Mandalo. Dia sih lagi daftar ulang. Kebetulan dia lulus di Jurusan Peternakan, Unja.

Di perjalanan pulang dari sekitar Jamtos (Jambi Town Squer) menuju Simpang Rimbo, tanpa sengaja terbaca oleh saya tulisan Jeruk Berastagi.

Wah! Tumben saya yang penderita rabun jauh dan susah konsentrasi bisa baca tulisan sekecil itu (sekitar ukuran font 200 pt) dari jarak yang cukup jauh dan bukan posisi nyaman untuk membaca.




“Rimo (jeruk) Berastagi, oh,” kataku kepada dua lainnya di dalam mobil menunjuk ke arah pedagang jeruk di pinggir jalan yang sudah kami lewati.

“Ah, belum tentu juga, bang,” jawab mereka.

Karena memang sepanjang jalan Lintas Timur Sumatera ini sekarang banyak merek dalam Bahasa Karo, akan tetapi pemiliknya bukan orang Karo, seperti RM BPK (Babi Panggang Karo), atau nama-nama toko buah, dsb.

“Yakin aku itu Jeruk Karo,” tepisku dengan sangat yakin.

“Masih nampak pun jelas bekas debu vulkaniknya,” sambungku.

Lagi kataku: “Lihat! Yang jualan itu pun yakin kali aku perempuan Karo, beru Ginting.”

Entah apa yang terlintas di benakku, sampai aku sangat yakin benar dengan semua yang kuucapkan. Mereka pun tertawa mendengar pernyataan itu, yang sangat yakin itu jeruk dari Karo dan penjualnya juga perempuan Karo dari clan Ginting.

“Ayo kita coba. Semoga benar itu orang Karo, bukan orang Batak,” kata mereka sambil tertawa mengingat saya sering berbicara kepada mereka Karo Bukan Batak.

Sekitar 70 meter dari pedagang buah yang terbaca oleh saya ada tulisan Jeruk Berastagi itu, kami pun berhenti dan parkir tepat di depan pedagang buah lainnya, dan berjalan menuju lokasi tujuan.

Ya, sesampainya di tujuan, benar semua yang saya ucapkan. Itu memang Jeruk Karo, dengan penjual perempuan Karo, beru Ginting pula.

Selesai berbelanja buah. Singkat cerita, di mobil mereka pun mulai menginterogasi saya dengan pertanyaan, darimana saya tahu itu Jeruk Karo? Darimana saya tahu penjualnya itu perempuan Karo dan beru Ginting pula? Dan megapa saya tidak tawar mati-matian seperti halnya yang biasa saya lakukan terhadap pedagang lainnya?

Pertama, dari kulitnya saya sangat mengenal Jeruk Karo. Karena sejak kecil Nandé (ibu) saya selalau belikan saya Jeruk Karo. Apalagi ada sedikit sisa bekas debu vulkaniknya.

Ke dua. Entah mengapa dan bagaimana menjelaskanya. Dari suara, bahasa tubuh, dan strutur tulangnya, saya sangat mudah mengenal orang Karo. Mungkin sesama kita orang Karo sudah sangat paham soal itu. Saat seorang bernyanyi atau berbicara dalam Bahasa Karo dengan sangat fasih pun kita dapat membedakan bukan hanya soal dia penutur asli, tetapi apakah dia berdarah Suku Karo atau pun tidak.




Ke tiga. Karena itu kalak Karo. Bagi saya, satu kebanggaan dan anugrah bila bertemu orang Karo di tanah perantauan, walau tak jarang juga agak kecewa karena sudah pun kita berbahasa Karo tetap dibalas dengan bahasa lainnya. Untungnya beru Ginting yang satu ini tidak demikian.

Selanjutnya, bertemu dengan orang Karo yang sejahtera dan mandiri suatu kebanggaan. Di mana bangganya? Tentunya masing-masing kelompok etnis memiliki rasa demikian. Seperti saya yang bangga dengan orang Karo, demikian juga suku-suku lainnya, misalnya orang Batak yang bangga bertemu sesukunya, orang Melayu, Jawa, Minang, dsb, rasa itu pasti ada.

Seharian kemarin itu memang bagi saya sagat berkesan, sehingga walau saat ini sedang sibuk, sayapun sempatkan diri menuliskannya. Pasalnya, sejak berangkat dari rumah kemarin itu (sekitar pukul 05.30 wib) di perjalanan tidak sedikit kami berjumpa truk-truk yang bertuliskan “Mejuah-juah” (salam khas Suku Karo), dan kata atau kalimat lainnya dari Bahasa Karo. Sebab belakangan ini memang sudah jarang sekali kita berjumpa merek-merek Karo, seperti dulu ada Makaro Group, Kuta Lepar Simalem, Lau Cimba Simalem, dll, yang mendominasi jalanan di Lintas Sumatera, tetapi sejak erupsi di tahun 2010 lalu perlahan armada-armada dari Karo menghilang, dan, saat sekarang ini saya perhatikan sudah kembali kelihatan.

Saat pulang pun, tidak sedikit kami bertemu, dan di Jalan Lintas Timur Sumatera antara Pelabuhan Dagang – Gemuruh kami pun sebuah truk bertuliskan “Mejuah-juah”, dan, yang paling buat saya berkesan di body truk tersebut bergambarkan sepasang pengantin erosé (berpakaian adat) Karo lengkap.

Siapa pun Anda pemilik truk-truk itu, terimakasih. Kami sebagai kalak Karo di perantauan turut bangga banyak armada Karo di lintas Sumatera. Ini salah satu pesan bagi kami kalau pertanian, ekonomi, dan eksistensi Karo itu belum mati dan akan kembali bangkit.

Inilah menurut saya salah satu bukti kita Suku Karo, yakni, “kebanggan sebagai Karo”. Sebab jika menoleh ke yang lain, banyak yang tampak jauh lebih hebat dan luar biasa, tetapi itu tidak terasa ke kita, karena itu bukan kita.

Seorang antropolog yang lagi kepanasan di Leiden (Belanda) karena pergantian musim pernah katakan kepada saya, kode-kode seperti ini hanya di antara Suku Karo yang paham. Dia sebut dengan istilah bahasa rahasia. Tentunya suku-suku lainnya juga punya kode-kode tersendiri menyatakan keberadaannya.

Mejuah-juah.

Foto header: Setelah mentraktir di restauran miliknya sendiri, Sumatra House (Leiden, Nederland), Nelly beru Sembiring (ke 2 dari kiri) membawa tim Sora Sirulo ke cafe sebuah hotel yang berada di lantai 12 sebuah gedung dan mentraktir seluruh tim dengan minuman (bier dan jenever) [Kamis 22/6]. Dari cafe ini bisa memandang ke Kampus Universitas Leiden.






Leave a Reply