Bagian 2 dari 5 Bagian

Ciuman Pertama di Pinggir Danau Toba

Oleh: Sria van Munster

 

Sejak pertemuan pertama dengan Patric, hari-hariku tak lagi seperti beberapa tahun sebelumnya. Setidaknya ada teman bercanda dan bermain. Dia menjadi sahabatku.

Jujur saja, kehadirannya memberiku semangat untuk menyelesaikan skripsiku secepatnya. Mungkin karena kami sering juga belajar bersama.

Di sela-sela kesibukannya menyelesaikan penelitian pengambilan Sarjana Treasury, dia selalu menyempatkan diri hadir di rumah orangtuaku. Hobbynya bermain catur membuat dia lebih sering datang untuk bermain catur dengan Bapa dan terutama karena dia ingin menguasai Catur Karo yang baginya amat menarik.

Dia tak lagi segan untuk hadir di rumah kami walau tanpa kehadiranku. Dia datang dan pergi sesuka hatinya dan sering juga menikmati makan malam masakan nande. Dia telah menjadi bagian keluarga ini. Tetangga yang awalnya mencibir, kini ramah karena sifat Patric yang luwes dan suka menegur semua orang dengan ramah.





Hari-hari libur sering kami jalan berdua. Aku menjadi teman dan sekaligus Tour Leadernya ketika ia ingin berkunjung ke tempat pariwisata di Sumatera Utara.Dua minggu sebelum penelitian Patric berakhir, setelah hampir 2 tahun di Medan, dia minta ke Bapa dan Nande agar mengizinkanku bersamanya mengabiskan waktu beberapa hari di Danau Toba.Entah kekuatan apa yang membuat Bapa dan Nande mengizinkan, yang mana sesungguhnya mereka amat streng dan tegas dalam hal ini.

* * * *

Senja itu, udara Parapat amat menyenangkan. Angin sepoi-sepoi basah menerpa lembut di wajahku. Langit jingga menghiasi cakrawala. Sejenak penguasa cahaya akan kembali keperaduannya. Indah dan hikmah kurasakan tiada tara. Aku merasa amat dekat dengan Sang Pencipta.

Pada saat itu, tiba-tiba Patric meletakkan tangannya di bahuku. Dia mendekatkan wajahnya di wajahku, menggenggam kedua tanganku dan bertanya: “Sri Ulina beru Brahmana, wil you marry me?”

Aku terkejut dengan pertanyaan Patric, aku tak bisa menjawab. Sangking terkejutnya, aku menarik tanganku dari genggaman Patric, tetapi dia tidak melepasnya. Aku tidak tahu apa yang aku rasakan. Bingung, terkejut? Benar-benar tidak tahu. Belum juga lepas dari kebingungan Patric telah mencium bibirku dengan lembut. Memelukku, mencium keningku dengan dalam dan selanjutnya berkata:

“Kau tidak perlu memberiku jawaban sekarang. Kau cukup memberi jawaban dengan menunggu kembali 3 bulan lagi.“

“Kalaupun hatimu tertutup untukku, aku tetap akan bahagia karena aku telah mengungkapkan hatiku untukmu yang telah kupendam satu tahun lamanya. I care about you very much. Kalaupun engkau menolakku, aku akan tetap buktikan dengan kehadiranku kembali, bahwa aku bukan sama dengan impalmu,” ucapnya.

Setitik air mata Patric menetes di keningku. Aku tidak tahu apakah itu airmata bahagia, atau karena lega telah melepaskan perasaannya yang terpendam.




Malam itu, aku tak lagi banyak bicara. Canda Patric hanya kubalas dengan senyum. Aku benar-benar bingung. Aku sayang pada temanku ini, sahabatku ini, sungguh. Jujur saja riak-riak cemburu sesungguhnya sering muncul di hatiku ketika ada gadis-gadis cantik bercanda dengannya. Ketika anak gadis tetangga berusaha dekat dengannya, tetapi yang kurasakan bukan cemburu karena jatuh cinta, tetapi cemburu takut kehilangan sahabat.

Lain dengan Patric, dia kelihatan jauh lebih ceria dari hari-hari sebelumnya. Dia memelukku dan mencium keningku berulang-ulang. Kadang dia merebahkan kepalaku di dadanya kemudian mencium rambutku. Entah kekuatan apa yang telah membelengguku hingga aku hanya kaku dan pasrah saja.

“Bolehkah aku minta big huge dan kiss me good night, pertanda kau sayang denganku?” Pintanya sebelum memasuki kamarnya, dan aku melakukannya.

(bersambung)

Baca bagian 1 di sini : Kenalan Pertama di Gajah Mada






Leave a Reply