Setiap takbir pertama berkumandang, bersahut-sahutan, saya selalu ingat banyak orang. Saya ingat Babeh, kakek saya yang ketika saya kecil dulu, pasti memberikan uang pada setiap malam takbiran.

Dengan uang itu saya disuruh membeli petasan. Membakar kembang api. Menikmati keceriaan malam takbiran. Sementara dia sendiri mengamati dari jauh, mungkin sambil senyum-senyum sendiri.




Saya ingat Ibu, panggilan saya kepada nenek. Biasanya malam seperti ini dia sedang repot mempersiapkan segala hidangan. Mengatur meja makan. Mengemaskan antaran makanan kepada tetangga.

Saya ingat ayah, yang setiap takbiran menyuruh saya membeli bunga sedap malam untuk hiasan dan pewangi di ruang tamu.

Saya ingat beberapa teman saya, tetangga, guru, dan banyak orang lain yang pernah singgah dalam kehidupan saya. Hanya saja, saya tidak bisa menemui mereka lagi, karena Allah telah memangilnya kembali.

Saya sering berfikir, di saat seperti ini, sedang apakah mereka semua sekarang? Yups, orang-orang yang pernah hadir dalam hidup kita, kemudian Allah mencukupkan usianya — sedang apakah mereka malam ini?

Apakah mereka juga sedang menggemakan takbir? Apakah mereka menyaksikan kita yang masih terseok mengarungi kehidupan? Apakah mereka senang hatinya melihat cucunya, anaknya, murid atau sahabatnya yang terus bergumul dengan angan-angan panjang?

Ah, semoga malam ini mereka semua –manusia-manusia terkasih yang berjasa pada kita dan kini tidak bersama kita lagi — sedang berkumpul bersama orang-orang yang sholeh. Tak henti-hentinya mnggemakan kebesaran Tuhan, sambil membisikkan nama kita dalam doanya. Mereka menunggu kedatangan kita untuk bergabung bersamanya.

Assalamualaina waala ibadillahi shalihin…

Dan kepada Anda semua, saya sekelurahan mengucapkan Taqoballahu minna wa minkum. Minal aidin wal faidzin. Maaf lahir bathin.

Selamat mengarungi hari kemenangan…








Leave a Reply