JUARA R. GINTING. DEN HAAG. Siang bolong kemarin [Sabtu 24/6], tiba-tiba saja warga Belanda dikejutkan oleh riuh gemuruh suara meluncur 3 jet temput di udara.

Seorang anak kecil menjerit memanggil ibunya.

“Ke mana kita menyembunyikan diri, mama?!” sambil menangis anak itu mengejar ibunya karena menyangka ada sesuatu yang sangat berbahaya yang dia tidak ketahui apa.




Lain pula halnya dengan seorang sopir bus berkulit hitam. Dia menduga ada pesawat yang jatuh dan berusaha mengintip dari jendela ke atas. Seoang pemnumpang yang duduk di bagian paling depan takut bukan kepalang dan mengingatkan sopir untuk melihat ke depan, bukan ke atas.

“Maaf, aku kira ada pesawat yang jtauh,” katanya dan segera memperbaiki sikap duduknya sebagai pengemudi untuk melihat ke depan.

Memang rata-rata warga Belanda yang tidak mengikuti berita di media seperti halnya koran atau televisi terkejut sekali atas raungan pesawat tempur di angkasa Belanda. Padahal, pesawat tempur dan helikopter yang secara perlahan mengiringinya dari belakang sudah termasuk tua.

Ini bukan penghunjukan kekuatan militer atau Angkatan Udara Belanda, tapi raungan pesawat jet tempur tua itu adalah dalam rangka memperingati Hari Veteran Belanda. Ada upacara dan perayaan tingkat nasional, tapi ada juga upacara dan perayaan tingkat lokal.

Di beberapa tempat strategis mereka menempatkan sesuatu untuk mengingatkan publik akan Hari Veteran Belanda. Sebagaimana terlihat di foto atas, di pintu masuk stasiun kereta Den Haag Central dipajang beberaa kenderaan militer yang sudah tua. Ada pula dua veteran ditempatkan di sana.

Kebetulan saat Sora Sirulo berda di sana, sebuah siaran televisi nasional mengadakan liputan pula.

Menurut perhitungan, sebagian dari para veteran Belanda yang masih hidup sekarang adalah yang pernah bertempur di Indonesia di sekitar tahun 1947 hingga 1949.








Leave a Reply