Tak angin, tak ada isu. Tiba-tiba publik dikejutkan manufer dari Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) MUI. Hari ini [Minggu 25/6], Bachtiar Nasir dan petinggi GNPF MUI lainnya, secara mendadak bertemu dengan Jokowi. Menurut Mensesneg Pratikno, acara pertemuan itu terbilang mendadak. Pertemuan itu digagas oleh GNPF-MUI.

“Karena ini Hari Raya Idul Fitri, open house, maka Presiden menerima siapa saja yang datang,” ujar Pratikno seperti dilansir oleh Kompas.com [Minggu 25/6].

Pertanyaannya, mengapa tiba-tiba GNPF-MUI secara mendadak bertemu dengan Jokowi? Mengapa pula Jokowi menerima kedatangan mereka? Lalu apa kira-kira isi pertemuan mereka? Mari kita teropong manufer GNPF MUI itu dengan hati riang sentosa sambil ngakak melihat strategi baru GNPF MUI itu.

GNPF MUI sempat mengangkasa tinggi, setinggi langit. GNPF MUI tiba-tiba mendapat panggung dengan adanya kasus Ahok. Para petinggi GNPF MUI termasuk Rizieq larut dalam euforia tinggi. Mereka dipuja, dielu-elukan bagai pahlawan di atas mobil komando pada demo 411 dan 212 lalu. Isus SARA pun digelontorkan secara dahsyat kepada Ahok hingga akhirnya Ahok keok dan masuk penjara.

Selama menjalankan aksinya, GNPF MUI didukung dan didompleng oleh beberapa pihak. Ambisi tinggi pun dirancang secara spektakuler. Tujuan gerakan pendompleng, ternyata bukan hanya melengserkan Ahok tetapi juga melengserkan Jokowi. Belakangan terkuak kepada publik, bahwa kasus Ahok hanyalah kedok dan pintu masuk untuk melengserkan Jokowi.




Melihat situasi panas itu, Jokowipun secara cerdas memutus langsung tali kedok itu. Jokowi membiarkan hukum memproses Ahok. Ahokpun secara ksatria, menyibak semak agar keluar ular-ular beludak penuh racun. Satu per satu ular beludak keluar dari sarangnya dengan kasus pelanggaran hukumnya masing-masing.

Sejumlah orang yang berencana membuat makar, menyebar fitnah atau membuat isu PKI pun ditangkap. Al-Khaththath, Alfian Tanjung dan para pendompleng GNPF MUI lainnya dicokok polisi. Tak terkecuali Rizieq Shihab, pemimpin Front Pembela Islam (FPI) ditetapkan sebagai tersangka terkait kasus penghinaan Pancasila dan kasus chatting porno dengan Firza Husein.

GNPF MUI dan para pendomplengnya terbelalak atas manufer Jokowi. Tak ada dalam kamus GNPF MUI sebelumnya bahwa Jokowi akan membiarkan Ahok. Pun keberanian Tito menangkap para ulama yang berbuat kriminal semakin membuat GNPF MUI kalang kabut. Penetapan Rizieq sebagai tersangka membuat GNPF MUI terbakar jenggot. Rizieq adalah simbol GNPF MUI.

Ancaman perlawanan demo kepada Presiden Jokowi pun dilontarkan secara dahsyat terkait kasus Rizieq. Isu kriminalisasi ulama dikumandangkan. Kata revolusi, rekonsiliasi, gugatan dan pelengseran silih berganti diarahkan kepada Jokowi. Namun, Jokowi tak bergeming. Bahkan semakin hari konsolidasi kekuatan Presiden Jokowi semakin kuat.

Pernyataan tegas Jokowi bahwa akan menggebuk Ormas anti Pancasila dan siapapun yang ingin membangkitkan PKI, membuat nyali GNPF MUI mulai kendor. Apalagi rencana pelengseran Jokowi dan pembentukan negara khilafah sebelumnya yang dikira akan terwujud, ternyata gagal total. Bukan hanya itu HTI dan FPI terancam dibubarkan lewat Perpu. Pun ancaman kepada aparat agar tidak memproses ulama yang berbuat kriminal tak digubris. Rizieq yang menista Pancasila ternyata memicu penguatan kembali Pancasila.

Terancamnya NKRI akan ide negara khilafah, membuat gaung NKRI pun dikumandangkan di berbagai pelosok Nusantara. Para pengkhianat bangsa dipetakan secara detail. Mereka yang berkedok mengatasnamakan umat Islam diinvestigasi. Pemerintahan Jokowi merapat ke NU dan Muhammadyah. Banser dan Ansor semakin mendapat tempat untuk memberantas Ormas-ormas radikal.

Sementara itu, Ormas radikal semakin terpojok. Para pemimpinnya semakin kerdil. GNPF MUI bingung. Organisasi ini sekarang tak tahu harus bagaimana. Mau dipermanenkan, dibuka cabang ke daerah-daerah atau dibubarkan. Usaha GNPF MUI untuk menyelamatkan Rizieq dari jeratan hukum semakin sia-sia. Hukum yang adil tetap dituntut kepada Rizieq.

Seruan mediasi Rizieq dari Tanah Arab melalui Yusril tak mendapat sambutan. Bahkan istana lewat Purnomo Anum telah menutup pintu dan tak melayani lagi respon apapun terkait kasus Rizieq. Mandek. Usaha terakhir pun dilakukan. GNPF MUI datang ke istana dan ngotot bertemu dengan Presiden Jokowi. Mereka meminta, mengemis dan memanfaatkan open house istana di Hari Idul Fitri ini, untuk melunakkan hati Jokowi. Karena bertepatan open house  di hari raya, maka Jokowi pun bersedia bertemu dengan para petinggi GNPF MUI itu.




Publik tentu tidak persis tahu apa isi pertemuan itu. Namun melihat isu panas kasus Rizieq akhir-akhir ini, besar kemungkinan GNPF MUI meminta kepada Jokowi agar menghentikan kasus Rizieq. Respon Presiden Jokowipun amat tegas. Jokowi tak akan biarkan penegakkan hukum yang tidak adil. Artinya Rizieq dan siapapun yang tersangkut kasus hukum harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di hadapan hukum.

Apakah usaha terakhir GNPF MUI itu untuk menyelamatkan Rizieq berhasil? Jelas tidak. Jokowi akan menyerahkan kasus Rizieq itu kepada para penegak hukum. Kendatipun ada iming-iming dari GNPF MUI seperti akan mendinginkan suasana, mendukung Presiden Jokowi ataupun apapun iming-iming lain, namun Jokowi tidak akan terpengaruh. Bahkan mungkin Jokowi ngakak mendengar permintaan dan tawaran rekonsiliasi dari GNPF MUI itu.

Jika akhirnya usaha terakhir GNPF MUI ini untuk mendikte, mengancam, mengiming-iming atau sebaliknya meminta, mengemis, memohon kepada Presiden Jokowi agar Rizieq diselamatkan gagal total, maka Rizieq di tanah Arab semakin putus asa. Begitulah kura-kura.






Leave a Reply