Oleh: Meisinta Ayu Teresia (Sp. Rambutan, Jambi)

 

Nina menatap derasnya hujan dari balik jendela kamarnya. Matanya begitu semangat menatap ke luar, menikmati setiap bulir hujan yang jatuh dengan indahnya.





Exy tak sempat menyelesaikan ceritanya kemarin malam karena Leirina sang pelatih Nina datang lebih awal dari biasanya.

Nina membuang nafas lesu. Duduk malas di meja dapurnya. Ia merindukan Rose, kakaknya.

“Huh, ke mana dia?” Nina sedikit menegapkan badan mengekspresikan rasa kesalnya dan kemudian kembali menyenderkan dagu ke meja.

Beberapa saat dengan malas ia mengetuk-ngetuk meja beton itu.

“Kenapa meja ini seperti memiliki ruang tersembunyi di bawahnya?” tanyanya kepada dirinya sendiri.

Nina bergerak kembali mengetuk lantai. Ia semakin yakin dan penasaran alau meja itu memang memiliki ruang.

Beruntung pelatihnya datang, dan kegiatan itu pun terhenti.

Leirina memang terlihat seperti nenek sihir dari dunia dongeng, tapi sebenarnya ia adalah seorang ibu tanpa anak yang berhati lembut dan kesepian.

“Ya, meja itu sebenarnya kuburan. Jangan diketuk lagi. Kau tidak takut mayatnya melompat ke luar karena merasa terganggu?!”

Mendengar perkataan pelatihnya, Nina ingin tertawa, tapi sedikit ragu karena Leirina pelatihnya itu takut mendengar suara tawa. Itulah yang membuat ia terlihat menyeramkan.

“Kau sudah mendengar kisah ke tiga dari Exy?” tanya Leirina kepada Nina. Lalu meneguk airnya setelah bertanya.

“Belum,” jawab Nina.

“Aku harap kita sama, Nina. Pemikiran dan daya tangkap,” lagi kata Lairina sambil memegang tangan Nina.

Nina tampak bingung, kurang mengerti dengan kalimat Leirina.

“Apa kau tidak tahu bahwa Naira itu adalah Rose dan Lairina yang ia ceritakan adalah …. ?”

Belum selesai kalimat yang diucapkan oleh Leirina, Nina langsung memotongnya. Katanya: “Ya, aku tahu!”

Leirina tampak menghembus nafas lega. Dan katanya: “Baguslah. Sebenarnya aku pun tahu bahwa yang menarikan Swan Lake lima tahun lalu itu kau bukan Rose.”

Biasanya aku tidak terkejut dengan semua hal yang diketahui Leirina, tapi kali ini aku benar-benar tidak menyangka. Aku dan Rose sangat mirip, tidak seorang pun dapat membedakan kami. Bahkan orangtua kami sekalipun. Bagaimana bisa?

“Aku sangat mengenal Rose. Saat aku berbincang denganmu, aku langsung menyadari kebohongan yang kalian ciptakan. Aku kecewa dengan Rose. Ia tidak mempercayaiku,” kata Leirina dingin dan kecewa.

Aku panik melihat kak Rin (pelatihnya, Leirina-red) yang mulai murung. Bahaya! Saat murung ia pernah tidak makan seharian. Ia telah tua, tidak seperti dulu. Ketenangannya adalah yang utama.

“Apakah Rose mempercayaimu, kak Rin?” tanyaku.

“Tapi, saat itu ia sakit parah. Ia tidak mampu berdiri. Aku bahkan sangat terpukul saat mendapati mayatnya di rumah,” Nina mulai menunduk tidak ingin menampakkan matanya yang mulai membengkak menahan air.

Perlahan air matanya jatuh tak terhentikan. Semakin deras dan ia mulai terisak.

“Kami menguburkannya, tapi keesokan harinya kawasan makam Rose terkena banjir dan mayatnya hilang,” dengan sedikit sesenggukkan Nina mengenang lima tahun silam.

Kak Rin memeluk Nina bermaksud menenangkan.

“Rose tenang di dalam sini,” Leirina berkata sambil menepuk meja beton itu.

“Mayatnya bahkan masih segar, Aku merawatnya lima tahun ini,” sedikit tersenyum Leirina kepada Nina.

“Aku bingung, kak Rin, bagaimana mengungkap kebenarannya?!”

Leirina menggeleng-gelengkan kepalanya. Lalu katanya: “Walaupun kebenaran terungkap, tidak akan ada yang peduli lagi. Bagi mereka, Rose hanyalah kenangan. Ballerina yang muncul dan menghilang dengan cepat. Sudah lima tahun Nina, aku pun mulai terbiasa dengan kesalahpahaman orang terhadapku. Sering aku ingin tertawa, tapi sangat menyakitkan. Aku benar-benar tidak akan sembuh.”

Leirina kembali menunduk. Kemudian ia menangis. Meraung sepuasnya. Melepas rasa lelah yang ia tahan selama ini.

“Setidaknya, Exy harus tahu tentang ini, kak Rin. Agar ia tidak lagi membencimu,” Nina beranjak mengambil air dingin di kulkas.

“Sedetil apapun kau bercerita, saat sudut pandangmu dengan Exy berbeda, jelas sia-sia Nina.”

Leirina bangkit berdiri sambil berkata, Biarlah!”

Ia lalu kembali ke sikap awalnya. Diam dan sinis, ia ingin pergi. Namun, tiba-tiba pintu dapur rusak didobrak oleh Exy. Exy berlari mendekat dan ia memeluk erat sahabatnya itu. Ia menangis. Tidak jelas apa yang ia ucapkan, tapi aku yakin itu pengakuan menyesal dan permohonan maaf.

Aku merasakan kerinduan yang mereka lepas.

“Kau, tidak bisakah kau menahan emosimu tadi?! Kau menambah pekerjaanku lagi. Huh!”

Leirina menghentikan suasana haru itu dengan dengus sebalnya sambil menunjuk ke arah pintu yang rusak.

Bersambung

Sebelumnya:

  • Part 1
  • Part 2




Leave a Reply