Lebaran kemarin Presiden Jokowi menggelar open house di istana negara. Macam-macam orang datang berkunjung. Rakyat dari segala lapisan mendatangi Presidennya. Mengucapkan selamat lebaran.

Sebagai tuan rumah yang baik, semestinya memang tidak ada yang ditolak protokoler istana untuk bertamu. Wong namanya juga lebaran. Mulai dari tukang kacang sampai tukang kompor bisa menikmati hidangan lebaran ala istana.

Hari ini posisi tukang semir sepatu sama pentingnya dengan rombongan dari GNPF yang tiba-tiba datang berkunjung, memanfaatkan acara open house. Sebab, jika bukan momen tersebut, kapan lagi mereka diterima sebagai tamu presiden?

Bedanya, jika rakyat yang lain datang dengan tulus menemui Pak Jokowi, kita susah juga melihat hal yang sama pada rombongan GNPF itu. Sebab, beberapa bulan sebelumnya, mereka inilah yang berkoar-koar untuk menurunkan Presiden. Memobilisasi massa mengepung istana.

Dari panggung orasi yang dihela GNPF kita dengar suara Ahmad Dhani yang beranjing-babi menghina presiden. Dari sana juga kita mendengar segala cacian dan makian yang tidak pantas kepada kepala negara.

Tapi, ini lebaran, bukan?




Ya, ini momen lebaran. Ajang silaturahmi. Tidak ada salahnya memanfaatkan untuk kepentingan politik juga. Apalagi kondisi tokoh-tokoh GNPF sedang terjepit. Rizieq Shihab masih buron, gak jelas di mana rimbanya. Dia kabur dari kasus chat seks yang melandanya.

Ketua GNPF Bachtiar Nasir juga sempat diperiksa polisi gara-gara kasus penyelewengan dana yayasan. Bahkan, kata polisi, Bachtiar dicurigai mengirimkan dana kepada para teroris di Suriah.

Tokoh lainnya, M. Khathath ditahan karena kasus makar. Alfian Tandjung juga diperiksa karena ceramah berisi fitnah.

Kasus-kasus ini masih terus berjalan. Dan, setelah bertemu Presiden dalam ajang open house, Bachtiar yang biasanya nyinyir itu, tiba-tiba berbelok.

“Program ekonomi Presiden Jokowi sangat membantu umat Islam,” ujarnya.

Heloowwwww? Ke mana aja lu, bro? Baru nyadar sekarang. Padahal paginya, saat khotbah Idul Fitri di mesjid Al Azhar, Bachtiar Nasir masih merobek-robek makna kebangsaan ini.

“Islam toleran adalah Islam setan,” ujarnya dari atas mimbar.

Sebagai manusia berbudaya, tentu Pak Jokowi harus menunjukkan kesantunan menerima siapa saja tamunya dalam acara open house ini. Jika Rizieq pulang, terus dia mau antri salaman dengan Pak Jokowi, saya yakin bakal diterima juga. Ingat, asal antri yang tertib. Jangan menyelak orang lain.

Tapi, rakyat juga membaca bahwa sebetulnya orang-orang itu sedang tersudut. Apa yang mereka mainkan selama ini, punya konsekuensi hukum sendiri. Seperti apapun Rizieq memelas, tetap saja kasusnya harus terus berjalan. Seperti apapun puja-puji basi dan telat mereka semburkan, kalau tersangkut kasus kriminal, ya, mesti dihadapi juga, toh.

Jadi, lebaran, ya lebaran. Kasus hukum, wajib jalan terus.




Yang paling mengundang dieare adanya komentar tentang pertemuan itu. Katanya, Presiden Jokowi sengaja mengundang mereka karena takut dengan ancaman revolusi dari Rizieq Shihab. Karena ketakutan Presidenlah, mereka akhirnya diundang ke istana.

Eh, busyet. GNPF datang di acara open house –yang siapa saja bebas mendatangi– kok malah merasa jadi undangan khusus. Wong, tukang kacang aja juga bisa kalau mau dolanan ke istana saat open house.

Pembelokan isu ini mirip kelakuan Bambang Kusnadi, teman saya. Semalam dia mendatangi saya karena ada kebutuhan.

“Mas, pegang uang Ro 1 juta, gak? Pinjam dululah. Saya ada perlu, nih,” katanya.

“Gak ada segitu, Mbang. Ini cuma ada Rp 400 ribu. Kalau mau pakai, ambil aja dulu,” balas saya seraya menyodorkan empat lembar uang kertas warna merah.

Bambang mengambil dengan sigap.

“Cuma Rp 400 ribu, ya, mas. Jadi, mas masih ngutang sama saya Rp 600 ribu lagi, ya? Saya catat lho, mas…”

Nah, saya rasa kelakuan GNPF mirip dengan Bambang Kusnadi, deh…






Leave a Reply