Sesaat setelah Sholat ied, setelah bersalaman dengan sahabat dan kerabat di lapangan, yang terbayang adalah irisan Ketupat atau dalam Bahasa Jawa disebut kupat dengan sayur opor ayam yang terhidang di meja makan.

Inilah khasanah tradisi budaya negeri ini. Negeri yang oleh Pembawa Islam dengan bijak dan cerdas tetap merangkul serta mengawinkan budaya negeri ini yang berupa ketupat untuk dijadikan ciri khas saat lebaran.




Jadi, ceritanya gini. Saat itu, masyarakat sering menggantung ketupat di atas pintu-pintu rumah sebagai sesajen. Sebagai “ubo rampai” persembahan buat sang penguasa alam setempat yang disebut danyang agar, dengan sesajen itu, sang danyang memberi rahmat dan keselamatan buat seisi rumah (redaksi: Karo, dayang; Batak, deak).

Meski saat itu masyarakat Jawa sudah memeluk Islam, namun tradisi menggantung ketupat di atas pintu tetap dilakukan. Nah, salah satu diantara Wali Songo yang bernama Sunan Kalijaga dengan sangat bijak mengasimilasikan budaya itu untuk dijadikan hidangan di hari yang paling sakral, hari besar yang paling ditunggu-tunggu setelah berpuasa sebulan.

Juga tentang kata LEBARAN, ada 2 versi. Versi pertama, berarti lebar yang tidak sempit dengan mana diharapkan agar setelah berpuasa umat muslim pikirannya semakin lebar. Semakin luas. Tidak sempit. Tidak cupet nalar.

Versi ke dua adalah lebar berarti sesudah atau usai sudah menjalankan puasa yang tentu saja bertujuan memperbaiki akhlak.

Di sinilah hebatnya para wali, para kya yang secara terus menerus menjaga Ritual Lebaran dengan ketupat atau kupat yang berarti “aku nyuwun lepat” atau saya mohon maaf.

Jika beberapa dekade terakhir ini ada yang mengusung Islam dengan pikiran yang kurang lebar, yang suka mengkofar-kafirkan, bahkan malah membuat teror dengan memakan korban, juga ada yang merasa paling bener, suka menjustifikasi ulama lain, apakah perilaku tersebut muncul dari pikiran yang lebar dan luas?

Aaahh, semoga kita selalu berpikir lebar dan luas dalam bingkai keberagaman.

Mohon maaf lahir batin…








Leave a Reply