Mungkin banyak diantara kita tidak menyadari kalau hari kelahiran Presiden RI (Joko Widodo alias Jokowi), pada tanggal 21 Juni barusan bertepatan dengan Hari Yoga Sedunia.

Sebagai informasi, tanggal 11 Desember 2014, Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mendeklarasikan bahwa tanggal 21 Juni sebagai Hari Yoga Sedunia.

Indonesia termasuk satu dari 177 negara yang mendukung proposal agar 21 Juni dirayakan sebagai Hari Yoga Internasional. PBB memutuskan yoga masuk ke dalam kalender perayaan internasional setelah melihat olah fisik dan mental yang berusia lebih dari 5.000 tahun ini memiliki beragam manfaat.

Secara keilmuan pun manfaat yoga bagi manusia sudah diteliti oleh berbagai disiplin ilmu.




Yoga yang berasal dari India sudah dipraktekkan hampir di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Adapun manfaat Yoga antara lain:

• Kebugaran menyeluruh;
• Menurunkan Berat Badan;
• Menghilangkan stres;
• Pengendalian emosi;
• Penguatan mental dan spiritual;
• Kedamaian hati;
• Meningkatkan daya tahan tubuh;
• Meningkatkan kepekaan;
• Memberikan kebahagiaan;
• Meningkatkan energi;
• Meningkatkan kelenturan, dan;
• Mempertajam Indera.

𝐀𝐧𝐚𝐤-𝐚𝐧𝐚𝐤 𝐦𝐮𝐬𝐥𝐢𝐦 𝐈𝐧𝐝𝐢𝐚 𝐛𝐞𝐫𝐥𝐚𝐭𝐢𝐡 𝐲𝐨𝐠𝐚

Di kalangan pemeluk Islam sendiri terdapat perbedaan pendapat mengenai boleh tidaknya yoga dipraktekkan. Hal itu terkait dengan simbol-simbol yoga yang dianggap bertentangan dengan ajaran Islam.

Lantas bagaimana dengan umat muslim India?

Bersempena Hari Yoga Sedunia, hampir semua kalangan di India merayakannya, termasuk warga India beragama Islam. Memang sebagian umat Islam keberatan berlatih yoga dengan alasan bahwa itu bertentangan dengan Islam. Namun sekelompok pemuda muslim dari komunitas di Bhopal mengatakan bahwa salah jika melihat segala sesuatu melalui prisma religius.

Seperti dilansir ℎ𝑖𝑛𝑑𝑢𝑠𝑡𝑎𝑛𝑡𝑖𝑚𝑒𝑠.𝑐𝑜𝑚, di kalangan anak-anak muda muslim India, ternyata mereka lebih fleksibel menginterpretasikan yoga. Mereka melihat praktek yoga sebagaimana aktifitas olahraga pada umumnya.

Adapun ucapan dalam bBhasa Sanskerta, misalnya penggunaan kata ‘Om’ hanyalah sebuah istilah resmi sebagai bagian dari yoga itu sendiri.

Gulnaz, remaja putri berusia 16 tahun tidak percaya yoga bisa mempengaruhi keyakinannya. Dia yakin Islam tidak mungkin terpengaruh hanya karena mempraktekkan yoga selama 15 menit.

“Ketika orang menyebut latihan yoga tidak Islami, saya merasa kasihan pada mereka. Orang-orang ini tidak tahu kekuatan agama kita,” katanya.

Bagi Sahista Bano (21), seorang mahasiswa MLB College, Bhopal, yang telah berlatih yoga selama tiga tahun, mengatakan inilah cara terbaik untuk menjaga pikiran dan tubuhnya tetap ‘segar’.

“Saya mencintai agamaku tapi saya tidak menghubungkan segala sesuatu dalam aktivitas sehari-hari dengan agamaku. Saya berlatih yoga karena ini adalah latihan yang baik untuk saya,” katanya.

Sedangkan mahasiswa teknik Zaidul Haq, yang berasal dari distrik Sheopur, mengatakan tidak memiliki masalah dalam meneriakkan shlokas yang dimulai dengan ‘Om’.

“Saya mengucapkan shloka ‘Sarve Bhantu Sukhina’ tanpa ragu-ragu, karena bagi saya, ini hanyalah sebuah doa yang meminta kebahagiaan bagi umat manusia dalam bahasa Sanskerta. Itu tidak berhubungan dengan agama apapun”, kata Haq yang mengaku sebagai penggemar berat yoga ini.

Semua siswa ini melakukan yoga pada Hari Yoga Sedunia di Bhopal.

𝐑𝐞𝐟𝐨𝐫𝐦𝐚𝐬𝐢 𝐦𝐞𝐧𝐭𝐚𝐥 𝐉𝐨𝐤𝐨𝐰𝐢

Istilah “Revolusi Mental” di Indonesia di gagas oleh Soekarno (Presiden Pertama RI). Revolusi Mental ini sebagai kelanjutan dari Revolusi Fisik.

Revolusi mental menjadi populer di awal masa kepemimpinan presiden Jokowi.

Bachtiar Alam, Antropolog yang juga dosen Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia menyebut, konsep revolusi mental adalah konsep dari ‘bapak bangsa’ India, Mahatma Gandhi.

Bachtiar mengutip dalam buku Gandhi’s Experiments with Truth: Essential Writings by and about Mahatma Gandhi (Richard L. Johnson ed., 2007), Gandhi mengedepankan argumen bahwa kemerdekaan politik (self-rule) harus berdasarkan pada revolusi mental, yaitu perubahan total mental rakyat negara jajahan.

Sedangkan Gus Dur (Abdurahman Wahid, Presiden RI ke-4 ) yang mengagumi pemikiran Gandhi, melalui pernyataannya yang terkenal mengatakan: “I am a follower of Mahatma Gandhi.”

Sosok pejuang nilai-nilai kemanusiaan Indonesia ini melihat demokrasi sebagai suatu proses transformasi mental secara terus-menerus dengan bertumpu pada penghargaan terhadap persamaan hak, pluralisme serta kebebasan menyampaikan aspirasi.




Menurut Bachtiar, “Di sini tampak jelas pengaruh gagasan revolusi mental Gandhi pada Gus Dur”.

Di satu sisi, sejumlah kalangan menganggap revolusi mental masih perlu ditanamkan lebih dalam lagi ke semua elemen bangsa.Terlebih semenjak maraknya euforia keagaaman ‘garis keras’ yang nyaris membuat Indonesia tercerai berai dalam perbedaan.

Budaya hukum dan politik untuk memberantas tuntas segala perbuatan yang bertentangan dengan hukum dan nilai-nilai kemanusiaan yang tidak berjalan baik di masa lalu, harus terus diperkuat.

Revolusi mental tentu berbeda dengan revolusi fisik, revolusi mental tidak dengan pertumpahan darah.

Revolusi mental adalah sebuah usaha yang memerlukan dukungan moril dan spiritual dari segenap elemen bangsa.

Revolusi mental tidak boleh berhenti, namun harus ditumbuhkan dan digalakan sampai akhir generasi yang akan datang.

Dua nilai positif dari ‘tanah’ India terkait mentalitas bisa menjadi renungan kembali bagi Presiden Jokowi di hari lahirnya.

Keduanya bisa berkelindan menumbuhkembangkan kesadaran mental manusia Indonesia, sehingga diharapkan manusia Indonesia mampu menjadi insan yang rukun dan damai diantara kemajemukan.






Leave a Reply