Oleh: Benson Kaban (Medan)

 

Kita pasti tahu Kali Alas, sungai yang berhulu dari Deleng (dibaca Gunung) Sibuaten, yang terdiri dari Lau (sungai) Berngap, Lau Jandi, dan Lau Renun yang kemudian bertemu di Kuala (Kecamatan Tigabinanga) dan Lau Gunung. Hingga dinamai Lau Renun dan Kali Alas, bermuara di Samudra Indonesia.

Deleng Sibuaten hampir dilupakan dalam pembicaraan Karo secara umum. Padahal, ada beberapa mitologi Karo yang terhubung langsung maupun tidak langsung dengan salah satu gunung di Kabupaten Karo ini. Bahkan, dalam tradisi Karo merdang (tabur/ tanam benih), Deleng Sibuaten menjadi kiblat (harus menghadap ke Sibuaten).




Deleng Sibuaten juga sangat berperan penting bagi banyak desa di sekitarnya, baik di beberapa kecamatan di Kabupaten Karo, juga di Kabupaten Dairi yang tergantung dengan gunung tersebut, misalnya untuk air bersih dan irigasi, udara sejuk dan pemandangan alam yang sangat mempesona.

Dahulu, ada istilah “Turé-turé Deleng Sibuaten”, mengartikan kawasan kuta (kampung) di kaki Deleng Sibuaten yang kehidupannya tergantung pada gunung tersebut, khususnya untuk suplai air.

Sibuaten terlihat dari perladangan sebuah desa Suku Karo (Kabupaten Karo) yang terletak di dekatnya. Sumber foto: Gunung Bagging.

Deleng Sibuaten juga merupakan batang wari, penentu turun tidaknya hujan. Cerita ini didapat dari penggembala kerbau. Jika di Deleng Sibuaten sudah tampak gelap atau mendung, maka dapat dipastikan akan sampailah hujan di kawasan desa sekitar.

Dahulu kala, daerah ini adalah daerah yang sangat makmur, ditandai dengan hasil padi ladang dan sawah yang berlimpah, serta ternak yang subur. Dengan demikian, kawasasan Sibuaten ini merupakan kawasanan lumbung padi di Kabupaten Karo.

Deleng Sibuaten juga menjadi garis batas antara Kabupaten Karo dengan Kabupaten Dairi, sebagian besar masuk ke kawasan Kabupaten Karo. Untuk Kabupaten Karo sendiri ada 4 kecamatan yang terhubung Dengan Deleng Sibuaten, yakni: Mérék, Tigapanah, Munté, dan Juhar.

Sebagian besar kawasan Sibuaten adalah tergolong kawasan hutan lindung. Ada belasan desa yang merupakan turé Deleng Sibuaten, desa yang berada di pinggirnya atau sekelilingnya. Desa-desa itu antara lain, di Kecamatan Munté (Desa Kutambaru, Sarimunté, Gunung Saribu, dan Kabantua), Kecamatan Juhar (Desa Pernantin, Tiga Si Empat, Sugihen, Lau Lingga, Buluh Pancur, dan Lau Lingga), Kecamatan Tiga Panah (Desa Suka Maju (Semangat Baru dan Talinkuta). dan di Kecamatan Mérék (Desa Siosar: Suka Meriah, Bekerah, dan Simacem), dulunya kawasan ini Desa Lauriman).

Jika dilihat dari letak kota kecamatan, sederetan nama desa ini menjadi kawasan pedalaman atau ujung, padahal ini jelas adalah jalur jalan lama yang dahulu menggunakan transportasi kuda (Tapak Kuda). Bahkan jalur ini secara tradisional merupakan penghubung antara Suku Karo, Pakpak, dan Simalungun hingga Aceh, termasuk Suku Gayo, Alas, Singkil, dan Tamiang.

Arung jeram Kali Alas (Aceh Tenggara)

Belakangan ini pembangunan jalur jalan raya untuk kawasan ini dapat dikatakan tidak berkembang, atau perkembangannya sangat lambat. Juga untuk pelayanan publik lainnya terbilang lambat, dan sebagian desa masih termasuk kawasan desa tertinggal. Padahal kawasan ini sangat subur.

Sebagai sebuah solusi yang dapat ditawarkan, kawasan “Turé Deleng Sibuaten” ini perlu menjadi kecamatan ke 18 di Kabupaten Karo. Dan pengusulan jalur “Tapak Kuda” menjadi jalan alternatif jalan provinsi sesegera mungkin dan harus terus didorong agar dapat terealisasikan. Sebab, salah satu pemicu percepatan pembangunan masyarakat adalah dengan ketersediaan infrastruktur, salah satu terpenting adalah jalan.

Dapat dilihat potensi perkembangan kawasan yang nantinya menjadi alternatif jalan provinsi ini meliputi beberapa desa di sekitar yang akan dilalui, dengan pemetaan jalur meliputi dari Mérék tembus ke Tiga Lingga melalui Kuta Mbaru. Dengan ditail rutenya sebagai berikut: Dari Mérék masuk ke Pertibi Tembé – Siosar – Sukamaju – Kabantua – Kutambaru – Pernantin – Buluh Pancur – Lau Lingga, tembus ke Tiga Lingga di Kabupaten Dairi. Dengan demikian jalur tersebut otomatis menjadi jalur alternatif lintas provinsi Sumut NAD.

Sehingga ke depannya bisa menjadi prioritas pembangunan, pengembangan potensi pertanian, dan pelestarian kawasan hutan, serta pengembangan sektor pariwisata, dan industri kreatif.

Adapun desa yang dipandang cukup strategis menjadi ibukota kecamatan nantinya, adalah Desa Kutambaru.

Baca juga: Sekilas Tentang Deleng Sibuaten






Leave a Reply