“Stttt, jangan berisik. Aku sedang mengerami,” kata Bambang Kusnadi pagi itu.

Langit masih gelap. Sisa suara di masjid masih terdengar.

“Kamu jadi ayam sekarang?” tanyaku penasaran.

“Mas ini kok, mirip Jonru sekarang. Suka menyebar fitnah. Kalau aku ayam, Mas Eko siapa? Temennya ayam? Ayam juga, dong…”




Aku diam. Hanya memperhatikan cara duduknya. Sedikit terlungkup dengan dua butir telur berada di bawahnya. Saya cuma ingat ibunya Thomas Alfa Edison, yang mendiamkan anaknya mengerami telur ayam. Ibunya membiarkan saja puteranya memuaskan rasa ingin tahunya. Hasilnya, sekarang kita hidup dengan suasana malam yang terang benderang.

Jika saja dulu ibunya melarang-larang Edison mengerami telur ayam, mungkin kita tidak pernah mengenal bola lampu. Dan, sampai saat ini kita masih menggunakan Petromax.

“Sampai kapan kamu duduk di situ, Mbang?”

“Apa mas tidak belajar biologi? 21 hari cukup. Ini hari ke 16, tinggal 5 hari lagi.”

Di hari ke 21, saya kembali datang ke kamar Bambang. Pagi sekali. Saat matahari belum cuci muka. Teman saya tidak berada di tempatnya.




Hanya dua ekor anak ayam berciap-ciap. Dia datang tak lama kemudian. Tangannya menenteng bungkusan plastik hitam.

“Aku kangen makan opor ayam. Mas mau?”

Lalu kami makan berdua. Opor ayam yang lezat, meski kurang pas untuk sarapan.

Selesai sarapan, Bambang keluar rumah. Menaiki sebuah tangga yang bersandar di tembok halaman belakang kontrakannya. Dari atas tangga itu, ia mengeluarkan suara panjangnya. “Kukuruyukkkkkk.,”

Dan, matahari pun bersinar. Bersama dua anak ayam yang terus berciap.


Leave a Reply