Entah kenapa, kita selalu menemukan ada alasan pencarian kepuasan seksual dalam diri para barbar yang sering mengatasnakan agama ini. Kemarin seorang jurnalis asing, sempat melakukan wawancara dengan para Istri kaum ISIS yang tertangkap, lalu digiring ke sebuah kamp pengungsian di Suriah.

Ada 7 perempuan asal Indonesia yang juga tertangkap di sana. Mereka disatukan bersama pengungsi lain. Kabarnya, hampir saja mereka dipukuli oleh warga yang merasa menjadi korban oleh ulah pasukan suami-suami mereka ini.

Menariknya, dari informasi yang disebarkan melalui kultwit, jurnalis itu bercerita bahwa perempuan-perempuan ISIS yang sukarela bergabung ke pusat pemerintahan ISIS di Raqqa, Suriah, hanya mengaku sebagai korban propaganda. Padahal, jelas mereka pergi dari Indonesia ke Suriah atas kemauan sendiri. Proses kepergiannya pun tidak mudah. Ada jalan yang berliku yang harus ditempuh agar mereka bisa bergabung dengan ISIS.

Di Indonesia kita pernah dengar ada tawaran kepada kaum perempuan untuk ikut ‘berjihad’ menjadi teman seks para pejuang ISIS di Irak dan Suriah. Jadi, para perempuan asal Indonesia itu mungkin saja adalah orang-orang yang mendaftar. Dengan tujuan ‘agama’ ataupun menikmati kehidupan seks yang aneh.




Dalam wawancara kepada Jenan Mousa, terekam bahwa perempuan Indonesia itu tidak menyesali bergabung dalam organisasi barbar tersebut. Mereka mengakui, waktu itu ada beberapa perempuan lokal yang menjadi tawanan ISIS dan diperlakukan sebagai budak seks, yang harus melayani barisan lelaki barbar di bawah todongan senjata.

Ketika Jehan menanyakan soal empati mereka pada para perempuan Yazidi yang diperkosa beramai-ramai dan sebagian ada yang dibunuh, tidak tergambar empati dalam jawaban mereka. Yang ada malah rasa kecemburu karena suaminya ikut memperkosa perempuan-perempuan sandera tersebut.

Di kamp pengungsian itu, para perempuan ISIS nyaris dipukuli pengungsi lain, yang hidupnya susah akibat ulah gerombolan ISIS. Soalnya bukan empati dan penyesalan yang ditampaknya, di kamp pengungsian itu mereka malah meributkan sambungan internet yang lemot. Benar-benar perempuan gila.

Sebetulnya bukan hal aneh kelakuan para barbar ini. Ada fatwa dari petinggi mereka, bahwa memperkosa dan menyiksa perempuan yang bukan anggota ISIS hukumnya halal. Jika dimana-mana kelakuan mereka lebih biadab dari hewan buas, bisa dimaklumi Karena semua itu dianggap halal.

Ada teman saya suka mengamati akun medsos orang-orang rasis dan punya pandangan radikal ini. Menurutnya, biasanya mereka di media sosialnya juga menampilkan ekspresi seksual. Beberapa bahkan kecanduan situs porno. Artinya dari amatan sekilas, semakin mereka teriak-teriak radikal, semakin tidak bisa ditahan juga libodonya.

Erwin Arnada, mantan Pimpred Playboy pernah bercerita, ketika pasukan organisasi radikal mendatanginya di Bali. Mereka protes penerbitan malajah Playboy yang dikomandani Erwin karena dianggap sebagai majalah sensual dan porno. Tapi, saat diterima Erwin di Bali, justru utusan-utusan itu minta disedikan pelacur bule.

Seks yang dibungkus agama merupakan doktrin yang dipercayainya. Makanya, wajar saja apabila para relawan bom bunuh diri dijanjikan akan bertemu dengan 72 bidadari kalau mati. Ujung-ujungnya bukan soal agama. Ujung-ujungnya soal isi sempak.

Gak kaget, kan, kalau seorang petinggi organsiasi yang sering teriak kopar-kapir kesangkut kasus mesum. Memang, sudah begitu modelnya. Semakin radikal paham keagamaannya, semakin barbar pula libidonya.






Leave a Reply