Dalam berjalannya waktu, anak-anak yang dulu kugendong, yang dulu sering membuatku gelisah dan khawatir tatkala agak demam, bahkan untuk berobat ke Pak Mantri harus mengayuh sepeda melewati tanjakan di jembatan dengan tergesa-gesa agar kalian segera sehat kembali. Tentunya, apa yang ayahmu rasakan juga kalian rasakan.




Ayahmu yakin, kalian tentunya juga harus memikirkan semua hal. Semua. Mulai kesehatan anak-anak kalian, baju, dan bahkan musti menyisihkan rezeki kalian agar anak-anakmu bisa sekolah dengan baik. Bisa ngaji agar mempunyai Budi pekerti yang baik, serta menjadikan anak-anakmu seorang anak yang tangguh. Seorang anak yang mau belajar segala hal agar menjadi anak yang baik, yang berbakti pada orangtua, serta berguna bagi orang-orang sekitar.

Ayahmu sadar, bahwa ayahmu ini bukan ayah yang baik. Bukan seperti ayah temen-temen kalian yang memberi limpahan kasih sayang, yang lemah lembut, yang bahkan memberi materi yang cukup. Itulah kekurangan ayahmu! Namun, sejujurnya, dari hati yang paling dalam, ayah berusaha semaksimal mungkin memperjuangkan kalian agar bisa sekolah. Agar tidak terlalu ketinggalan dengan teman kalian dalam berpakaian atau bahkan dalam hal mencukupi buku-buku sekolah.




Sekarang, ketika kalian sudah berkeluarga, sudah pada punya momongan, apakah lalu rasa gelisah dan khawatir itu usai? Apakah urusan hati selesai? Tidak, nak. Sungguh ketika mendengar anak-anak kalian agak terganggu kesehatan, ayahmu juga ikut gelisah. Ikut khawatir dengan berita yang menimpa cucu-cucu ayahmu.

Alhamdulillah, puji syukur ke hadirat Tuhan YME, ekonomi kalian berkecukupan. Suami kalian diberi limpahan rezeki dan itu membuat ayahmu bersyukur kehadirat Illahi dengan hal itu.

Dan, satu hal yang paling membuat ayahmu bahagia adalah, ayah berada diantara kalian dalam canda tawa dengan cucu-cucu ayahmu. Itulah kebahagiaan ayahmu…

Teriring salam dan doa ayah panjatkan semoga kalian semua dalam lindungan Allah SWT.






Leave a Reply