Beberapa bulan lalu, saya terlibat debat kecil dengan dietist saya yang perempuan Belanda. Awalnya, dia menganjurkan agar kadar gula darah saya tetap normal, kurangi makan buah dan lebih banyak memakan sayur.

Entah bagaimana awal ceritanya, dia berkata, kalau saya masih lapar dan tidak ingin menambah karbohidrat di dalam tubuh saya, yang bisa menaikkan kadar gula darah, dia mempersilahkan saya makan sepotong keju atau satu tomat.

“Tapi, tomat kan golongan buah?!” kataku setengah bertanya setengah berseru.

“Bukan, tomat termasuk sayuran,” jawabnya.

Aku tertawa merasa lucu atas jawabannya.

“Mengapa itu termasuk sayur?” tanyaku merasa tak puas atas jawabannya.

“Karena mengandung kadar gula yang sangat sedikit dan tidak mengancam peningkatan kadar gula dalam darah,” jawabnya lagi.

“Wah …. wah …. tunggu dulu. Coba kita bayangkan kita berhadapan dengan satu tanaman tomat. Ini batangnya, ini akarnya, ini daunnya, ini bunganya, dan ini …… yang bulat berwarna merah kalau dimakan terasa manis campur keasam-asaman ini ….. apa namanya?” kataku.




“Buah tomat,” jawabnya sambil tertawa tak mampu bertahan sebatas senyum

“Jadi, tomat adalah buah,” kataku dengan wajah lebih berani semakin serius karena merasa pasti akan menang dalam perdebatan ini.

“Kami sebagai dietist (ahili gizi, red.) menggolongkannya sebagai sayur karena dasar pemikirannya adalah efeknya terhadap tubuh bila dimakan,” katanya mempertahankan pendapatnya tapi sudah menampakkan penerimaannya terhadap penjelasanku yang pasti akan didukung oleh para botanist dan ahli pertanian.

Aku ceritakan kepada Pimred SORA SIRULO (Ita Apulina Tarigan) yang sedang berkunjung ke Belanda mengenai perdebatanku dengan diestistku ini.

“Oh, begitu?” Katanya terkejut bercampur tertarik.

Beberapa hari lalu Pimred browsing di internet dan menemukan sebuah berita koran online yang memberitakan sebuah pengadilan di Amerika Serikat baru saja memutuskan tomat sebagai sayuran, bukan buah.

Aku tertawa sekali mendengarnya.

“Coba baca lebih lanjut, apa alasan pengadilan memutuskan bahwa tomat adalah sayuran,” kataku sambil terus terbahak-bahak.

Lalu, dia membaca selengkapnya berita itu yang menjelaskan mengapa pengadilan memutuskan tomat adalah sayuran bukan buah. Ini membuat kami berdua tertawa terpingkal-pingkal pecah rem sehingga sulit berhenti.

Lalu, aku tuliskan peristiwa ini semua di sebuah grup facebook bernama Jamburta Merga Silima dengan pertanyaan: Menurut kalian, apa kira-kira alasan pengadilan AS itu memutuskan tomat adalah sayuran dan bukannya jenis buah? (Silahkan jawab di kotak komen di bawah).

Menarik sekali jawaban-jawaban yang aku terima. Hal pertama yang menarik adalah, hanya perempuan yang memberikan jawaban. Hal ke dua, jawaban mereka sangat terikat pada apa yang mereka hadapi sehari-hari.

Ira beru Munthe. misalnya, mengatakan kalau tomat itu kalau dipajang selalu ada di rak sayuran, tidak pernah di rak buah. Sedangkan Aminata beru Ginting mengatakan, untuk mengkonsumsinya lebih banyak orang memasak tomat terlebih dahulu. Misalnya disambal, saus, atau dimasukkan dalam sayuran. Kalau golongan buah itu umumnya dimakan langsung tanpa diolah/ dimasak.

Sangat logis jawaban mereka. Akan tetapi, pertimbangan pengadilan Amerika Serikat itu juga logis yaitu, bila tomat digolongkan sebagai buah-buahan maka import tomat akan dikenakan pajak 10%. Oleh karena itu, pengadilan itu menetapkan tomat adalah sayuran.

Bagaimana menurut anda? Silahkan beri komentar di bawah ini.








Leave a Reply