Sebuah persoalan yang sering jadi ajang pergulatan hidup manusia. Jika kita cermati, mayoritas orang sangat berambisi menjadi seorang pemimpin, di mana saja, dari tingkatan RT/ RW/ LURAH/ CAMAT/ BUPATI/ WALIKOTA/ GUBERNUR sampai ke PRESIDEN. Namun demikian, satu hal yang perlu kita tanyakan kepada mereka, nikmatkah hidup mereka menduduki jabatan tersebut?


Mari kita lihat kehidupan seorang Joko Widodo yang diawali dari Walikota Solo. Sebagai seorang awam yang kemudian masuk partai politik. Itulah awal berkiprahnya seorang Jokowi ke dalam partai.

Konon, pada awalnya, Jokowi tidaklah terlalu ambisius untuk larut di dalam partai karena merasa hidupnya sudah lebih dari cukup. Apalagi jika dikaitkan dengan kebutuhan hidup beliau yang selalu serba sederhana. Kita perlu tahu bahwa di Solo harga bahan makanan dan biaya kehidupan tidaklah semahal di Kota Jakarta.

Latar belakangnya yang sebagai pengusaha meubel, sungguh sangat berlebihan jika hanya diukur untuk kebutuhan hidupnya beserta keluarga besarnya. Konon, mas Arya Bima (Anggota DPR dari Fraksi PDIP) lah yang selalu memberikan semangat kepada seorang Jokowi, baik sebagai kader partai maupun sebagai Calon Walikota Solo ketika itu.
Dan, secara kebetulan terpilih!




Demikianlah debut sebagai Walikota Solo, yang berlanjut hingga menjadi Gubernur DKI Jakarta dan lalu naik lagi sebagai Presiden.

Jikalau saya lihat dari seluruh proses ini, tidak pernah saya temukan bahwa seorang Jokowi itulah yang dengan kemauan sendiri untuk maju sebagai calon! Semua proses majunya, baik untuk Calon Walikota Solo maupun Gubernur DKI Jakarta dan Presiden RI adalah semua atas Perintah Partai.

Dari hal ini, bisa kita tarik satu kesimpulan bahwa Jokowi bukanlah manusia ambisius!

Itu saja tidak akan cukup jadi bukti. Andaikan saja beliau mau mengambil gajinya sejak dari Walikota, Gubernur bahkan sampai hari ini sebagai Presiden pun, tentunya sudah sangat amat banyak uang yang dikumpulkan oleh beliau. Tapi, nyatanya gajinya pun tidak pernah diambil untuk dinikmati oleh pribadi dan keluarganya. Ini harusnya dicatat baik baik oleh seluruh rakyat Indonesia.

Ini baru soal uang alias gaji !!!

Lalu, kita telisik dulu kenikmatan hidupnya sebagai pejabat publik. Nikmatkah beliau sebagai pejabat? Dan khususnya sebagai Presiden RI?

Saya berani menyatakan bahwa Jokowi tidaklah “mencari kenikmatan hidup” dengan jabatannya. Lihatlah betapa padatnya jadwal protokoler yang teragenda dari hari ke minggu dan ke bulan di depan. Sangat sangat sibuk sekali !!

Hampir jam demi jam kehidupan dirinya sebagai Presiden harus dimanfaatkan untuk kepentingan negara. Inilah yang sungguh sangat luar biasa. Jangan anda fikir bahwa seorang Jokowi bisa bangun di siang hari seperti kita ini. Beliau sudah sangat perhitungan soal waktu tidurnya yang amat kurang namun tidak bisa berleha-leha.

Saking padatnya jadwal kegiatan kepresidenan, akhirnya Jokowi memilih Istana Bogor menjadi tempat tinggalnya. Tentunya pemilihan Istana Bogor sebagai tempat tinggal, pasti lah punya alasan tersendiri yaitu udara yang cenderung lebih bersih karena dekat dengan paru-paru kota yakni Kebun Raya Bogor dan, tentunya, dengan suhu udara yang lebih sejuk, yang sangat dibutuhkan oleh tubuh agar tetap bugar dan sejuk memikirkan persoalan bangsa ini.

Jelas sekali, amat banyak kerugian hidup seorang presiden jika dinilai dari privasi sebagai pengusaha meubel, misalnya. Jika beliau masih sebagai seorang pebisnis mebel, maka bisa dipastikan, jika pun ingin bangun Pukul 10.00 pagi, pasti tidak akan ada orang yang berani membangunkan beliau dari tidurnya.

Demikianlah sedikit kehidupan dua sisi seorang Jokowi jika kita ingin membandingkan soal “kenikmatan hidup”. Sangat jelas kerugiannya secara pribadi.

Lalu, kenapa beliau mau jadi seperti sekarang ini? Tidak mau mengambil haknya, sedikit sekali waktu istirahatnya dan seterusnya? Perkara yang dihadapi oleh seorang Jokowi adalah persoalan hajat hidup hampir 300 juta warga Republik Indonesia ini. Persoalan ketertinggalan pembangunan. Persoalan Ekonomi, Sosial, Hukum, Budaya, Politik dan sebagainya yang kesemuanya bermuara pada dirinya sebagai pemegang amanat rakyat Nusantara. Inilah yang membuat Jokowi harus bekerja keras.

Lalu, bagaimana dengan seorang Ahok?

Ahok secara pribadi saat ini sangatlah menikmati dirinya sendiri, tanpa sedikitpun harus memikirkan warga DKI Jakarta lagi. Sangat berbeda ketika masih jadi gubernur, yang bangun tidurpun harus pukul 04.30 pagi dini. Kini, kehidupan sehari-hari dirinya hanyalah untuk dirinya sendiri.

Alangkah beruntungnya seorang Ahok sekarang ini. Tidak akan ada lagi aturan protokoler yang harus dia ikuti. Bebas merdeka walaupun di dalam tahanan. Kini Ahok tidak lagi perlu berkerut dahinya memikirkan nasib warga Jakarta. Enak-enak sajalah di dalam sana ya, Hok.

Yang jelas, akan sangat banyak orang yang berkata di kemudian hari: “Masih bagusan Ahok, daripada gubernur yang ini.” Walaupun Ahok tidak sempurna sebagai manusia, namun sebagai Gubernur, tidak akan ada yang melampaui prestasi yang sudah dilakukannya.

Selamat ulang tahun untukmu, Pahlawan Rakyat!

Foto header: Yanti beru Ginting (Model Sora Sirulo tinggal di Penang, Malaysia)








Leave a Reply