Kolom Panji Asmoro Edan: Ketika Muslim Beri Minum ‘Kafir’ yang Memeranginya

0
626

Banyak kisah-kisah kemanusiaan yang terjadi di penjuru bumi ini. Namun, tak semua kisah dapat dirangkum untuk menjadi bahan perenungan bagi manusia. Diantara banyak kisah, terkadang tak semua kisah kemanusiaan dianggap bermakna bagi sebagian orang. Kadangkala, sebaik apapun nilai yang dapat dipetik, masih saja ada orang-orang yang tidak suka dengan dengan sebuah nilai, apalagi nilai itu dianggap tidak sesuai dengan ukuran kebaikan versi mereka.

Keadaan demikian mungkin tak luput kita rasakan. Ketika kita berbuat sesuatu yang baik, orang-orang berpikiran negatif justru mengartikannya dengan bermacam-macam anggapan yang tidak baik.

Sepenggal kisah di balik foto yang saya tampilkan ini misalnya. Foto tersebut adalah gambar tentara AS Brigade ke-3, Divisi 10 saat patroli di kawasan pegunungan Afghanistan selama operasi pencarian untuk memburu anggota Taliban di Distrik Nerkh, Provinsi Wardak di Barat Kabul, Jumat 1 Mei 2009.




Foto beberapa tahun lalu yang dirilis Kantor Berita AP ini merupakan hasil bidikan wartawan foto Rafiq Maqbool saat mengabadikan seorang pria Afghanistan memberi teh kepada tentara AS.

Kalau melihat gambar, ada dua gelas teh di tangannya. Terlihat seorang personil lain menoleh ke arah rekannya yang diberi teh oleh pria itu. Apakah hanya seorang tentara saja yang diberi teh oleh pria Afghanistan itu?

Kalau melihat gesturnya tentu tidak. Sepertinya dia juga akan memberikan teh kepada tentara yang satunya (yang menoleh).

Foto yang sempat menyita perhatian publik internasional ini tak urung membuat badan dunia sekaliber PBB turut memberikan apresiasinya. Namun, jangan dianggap peristiwa kebaikan ini tak mendapatkan cela. Bagi para fanatis di sana, kebaikan seorang muslim Afghanistan ini adalah bentuk ‘pengingkaran’ terhadap agama dan tradisi masyarakatnya.

Ketika informasi foto ini merebak di kalangan Taliban, lelaki tua pemberi teh ini pun dikecam, hingga diancam serius. Apa yang dia lakukan lalu dipropagandakan sebagai perbuatan yang menyinggung orang Afghanistan karena memberi perhatian kepada tentara asing yang berperang di negerinya. Apalagi tentara asing itu memerangi ‘saudara-saudaranya’.

Dengan resiko yang mungkin dia sadari, mengapa dia tetap nekat memberi perhatian kepada tentara ‘kafir’ yang memburu saudara-saudara seagamanya itu? Dapatkah kita berkesimpulan bahwa dia adalah seorang pengkhianat?

Saya sendiri tentu tidak akan dengan gampang menilai demikian. Apalagi melihat kilas balik kelompok bersenjata yang menamakan dirinya Taliban ini.

Secara historis, militan bersenjata ini sempat memegang tampuk kekuasaan di Afghanistan. Setelah berhasil merebut kekuasaan dari Pemerintahan Islam Mujahidin Afghanistan yang dipimpin oleh Presiden Burhanuddin Robbani, pada awalnya kelompok ini menjadi harapan baru bagi rakyat Afghanistan.

Sebagai pembebas, rakyat berharap di tangan mereka tercipta keadilan dan perdamaian yang hakiki. Namun apa lacur, kelompok yang lahir dari kalangan yang katanya terpelajar itu, justru saat memegang kendali kekuasaan hanya membuat tirani baru dan teror yang mengerikan bagi rakyat Afghanistan.

Taliban yang berarti terpelajar ternyata tidak membuat situasi negara Afghanistan menjadi lebih baik ketimbang rezim terdahulu. Bahkan kekejaman mereka jauh lebih mengerikan dibanding rezim Najibullah yang berhaluan komunis.

Akibatnya, perang saudara sesama muslim kembali pecah di Afghanistan. Banyak masyarakat yang mendukung fraksi-fraksi Mujahidin agar bersatu memerangi Taliban. Mereka muak melihat teror dan aksi-aksi intimidatif yang terus-menerus dilakukan Taliban. Dengan dukungan AS, akhirnya kekuasaan Taliban dapat diakhiri secara singkat.




Lelaki tua yang terekam dalam foto tersebut, mungkin salah satu dari sekian banyak orang yang sudah tidak tahan dengan perilaku ‘sikat habis’ bagi yang tak sepaham dengan Taliban.

Mungkin karena itu pulalah Taliban sebagai kelompok terpelajar berbasis fanatisme agama ini malah dibenci oleh muslim Afghanistan sendiri.

Sepenggal catatan yang saya tulis ini hanyalah mengulas kembali dari banyak tulisan yang sudah dibuat terkait foto tersebut. Dan mungkin simpati lelaki tua kepada tentara ‘kafir’ itu adalah bentuk perlawanannya secara tidak langsung kepada Taliban.

Sedangkan bagi saya pribadi melihat nilainya, yaitu, ketika ada seseorang atau sekelompok orang melabrak nilai-nilai kemanusiaan secara universal, meski membawa bendera agama sekali pun, maka pasti akan ada perlawanan dengan segala macam bentuk perlawanan dari manusia lainnya.

Kini, di bawah kepemimpinan Presiden Afghanistan Ashraf Ghani, kondisi negara ini relatif lebih baik. Friksi diantara eks pejuang Mujahidin yang membuat sering terjadinya konflik antar masyarakat pun boleh dibilang sudah jauh berkurang.

Taliban yang mengusung agama sebagai landasan perjuangannya, kini justru dianggap sebagai kelompok teror yang harus dibasmi oleh pemerintah dan rakyat Afghanistan yang lebih dari 99% beragama Islam.






Leave a Reply