Aku ingat wajahnya begitu murung. Dia teman kecilku. Waktu itu, sepulang sekolah dia menceritakan sebuah rahasia.

“Ibuku melahirkan ular,” begitu ceritanya

Dia memang anak tunggal. Baru setelah usianya sembilan tahun, ibunya melahirkan adiknya. Tapi itu dia, yang keluar dari rahim ibunya adalah seekor ular.

“Kamu takut?” tanyaku.

“Tidak. Biar bagaimana pun dia adalah adikku. Seular-ularnya, dia adalah saudaraku satu-satunya.”

“Kok bisa ya, ibumu melahirkan ular?”




“Kata ibu, bapakku dulu juga seekor ular. Tapi bapak sekarang sudah berubah. Ke mana-mana pakai baju koko dan topi putih.”

Aku ingat. Setelah peristiwa itu mereka sekeluarga pindah rumah. Entah kemana. Tidak ada yang tahu alamat barunya. Aku sendiri kehilangan kabar. Rumahnya dibiarkan kosong melompong.

Sampai suatu saat aku menjumpainya di sebuah perhelatan. Dia tampak berbeda. Pakaiannya necis dengan rambut berminyak lengket, seperti dilumuri lem.

“Gimana kabar adikmu?” aku memberanikan diri bertanya setelah berbasa-basi panjang tentang masa kecil kami.

“Alhamdulillah…”

“Di mana dia sekarang?”

“Lho, kamu belum tahu? Dia sekarang terpilih jadi anggota parlemen,” jawabannya membuat aku tersentak.

“Hah, dari partai apa?”

“Lalu dia berbisik. Menyebut nama sebuah partai.”

“Ohhh… itu adikmu?” desahku panjang.

Sebetulnya ada banyak pertanyaan di kepalaku. Sayangnya waktu pertemuan kami sangat singkat. Dan dia hanya tersenyum ketika kuminta nomor HP-nya.

“Nanti ajudanku akan menghubungi kamu,” jawabnya.

Seperti orang sibuk lainnya, dia berlalu begitu saja…








1 COMMENT

Leave a Reply