Bagaimana menjadi teroris yang mengatasnamakan agama? Gampang. Ada berbagai tingkatan psikologis seseorang bermetamorphosa jadi pelaku teror.

Pertama adalah perasaan bahwa cara beragamanyalah yang paling benar. Perasaan ini melahirkan pandangan bahwa yang berbeda cara dengannya jelas salah. Lahirlah sikap beragana yang tinggi hati.

Ini adalah step paling awal menuju pemahaman radikal. Baginya dunia cuma terbagi menjadi dua: Muslim atau kafir. Pada sesama Muslim, juga dibelah lagi Muslim yang sama atau yang berbeda pandangan. Jika berbeda dianggap musuh. Jadi dia cuma memandang dirinya benar yang lain salah.




Jika yang lain salah maka tidak pantas dihormati (intoleran). Kalau tidak pantas dihormati buat apa berbuat baik pada orang yang salah itu. Wong mereka salah, kok.

Kalau tidak perlu berbuat baik, kenapa tidak dirampas saja haknya? Digencet kesempatannya untuk maju. Dihalangi untuk jadi pejabat negara. Dengan kata lain, untuk apa diperlakukan secara adil?

Lalu, kenapa gak dibunuh sekalian?

Dengan dibunuh kesesatannya, kekafirannya, kemusyirikannya, pokoknya semua yang menyimpang darinya telah kita musnahkan. Kita telah menegakkan kebenaran. Memerangi kesalahan adalah jalan agama. Imbalannya surga.

Jadi, aksi teroris hanya puncak dari anak tangga pemahaman keagamaan seperti itu. Puncak piramida ini ditopang oleh orang-orang dengan level keyakinan di bawahnya.

Wajar. Jika sebuah aksi teroris terjadi biasanya bakal ada pembelanya. Mereka yang membela ini level kegilaan beragamanya di bawah para teroris itu. Mungkin baru level merasa benar sendiri. Atau yang di level intoleran. Mungkin juga ada yang sudah di level radikal.

Inilah yang dimaksud sel-sel tidur ISIS di Indonesia. Jika digencarkan doktrin kepadanya, sebentar lagi orang seperti itu bisa berubah jadi monster.




Kini silakan periksa, apakah cara beragama kita sedang mengikuti anak tangga itu? Atau justru berjalan pada arah yang lain?

Keberagamaan kita justru melahirkan kesadaran bahwa kita hanya mahluk lemah di hadapan Allah. Dengan keluasan dan kebesaran Allah mana mungkin kita bisa menggenggam seluruh ilmuNya.Dengan demikian sepanjang hari kita selalu diliputi kewaswasan apakah kita memang berada di jalan yang benar. Rasa waswas itu melahirkan proses pencarian yang terus menerus.

Karena proses pencarian itulah kita tidak mungkin sempat menyalahkan orang lain. Sebab bisa jadi orang lainlah yang justru punya pandangan yang benar. Kita bisa terus belajar dari siapa saja.

Ini akan melahirkan sikap toleransi, menghargai perbedaan dan berkasih sayang pada sesama. Sebab, semua manusia sesungguhnya sedang berlomba menuju pada Tuhannya. Kita hanya berharap sedang mengikuti jalur yang benar. Bukan sok merasa benar.

Intinya, agama non-teroris adalah ajaran yang mengajarkan kerendahatian.

“Mas aku juga mau jadi teroris,” Bambang Kusnadi nyeletuk. Tangan memegang kecrekkan.

“Hah!?”

“Tererojing, terojing, terojing…”







Leave a Reply