Sadis dan brutal. Itu bayangan yANg ada dibenak kita tatkala mendengar para teroris melakukan aksi. Mereka dengan tanpa berperasaan, mereka para teroris sudah seperti hilang kemanusiaannya ketika membunuh.

Masih ingat adik kecil yang bernama Intan pada kasus bom molotov di Samarinda November 2016? Yaaa…. seorang anak yang lagi lucu-lucunya, seorang anak yang tidak berdosa harus mengerang kesakitan dengan luka bakar hingga akirnya menemui ajalnya.

Di belahan bumi yang lain, kebrutalan juga menjadi-jadi, teroris di samping menyerang aparat keamanan, mereka juga malah menabrakkan mobil di kerumunan orang hingga memakan korban.




Negeri ini, negeri yang kita cintai. Kita harapkan selalu ada kedamaian dan keharmonisan dalam berbangsa dan bernegara, juga tidak luput dari serangan teroris. Paling brutal adalah Bom Bali 1 dan 2.

Dalam perkembangan terakhir, para teroris mulai menggunakan cara-cara yang langsung membuat ketar ketir pihak kepolisian. Mereka sudah nekat dan berani menyerang sasaran yang dianggap paling dimusuhi yaitu aparat kepolisian.

Namun, ada hal yang membuat gak habis pikir adalah, ketika pemerintah sudah membuat draft Undang-undang Anti Teroris dengan melibatkan TNI. Kenapa DPR, para wakil rakyat tidak segera merespon dengan segera? Kenapa malah lebih ngotot membuat Hak Angket KPK? Ada apa dengan DPR?

Dari informasi yang patut dipercaya, DPR masih kebingungan dengan defenisi teroris. Aneh, bukan? Aneh bin lucu sodara…. Atau DPR sengaja bingung? Atau memang benar-benar bingung karena gemblung?

Itulah DPR kita. Skala prioritasnya adalah kepentingan dan mata duitan.

Foto header: Pengawalan ketat militer mengantisipasi serangan teroris selama missa Minggu di Gereja Notredame, Paris [Minggu 25/6]. Foto: Ita Apulina Tarigan.








Leave a Reply