Beberapa hari ini muncul reaksi pedas di media sosial mengkritisi sikap beberapa pemimpin gereja yang diduga memberi dukungan secara institusi kepada salah seorang “BALON” (Bakal Calon) atau yang ingin mencalonkan diri jadi Gubernur Sumatera Utara.

Sudah barang tentu ini menarik diperbincangkan, dan seperti biasanya menimbulkan perdebatan sengit. Pimpinan gereja membantah memberi dukungan dan hanya melayani permintaan didoakan atau memberi apresiasi terhadap sumbangsih si “Balon” terhadap gereja. Wajar dong diberi penghargaan terhadap orang yang mau membantu gereja.

Namun, para kritikus tidak serta merta memaklumi atau membenarkan jawaban yang dianggap -klise- tersebut. Ada asumsi seorang politisi dalam melakukan sesuatu, umumnya memiliki prinsif “TIDAK ADA MAKAN SIANG GRATIS”.




Masuk akal juga, jika seseorang ingin membantu atau menyumbang gereja bukankah selayaknya tidak perlu dipublikasikan, karena kaum beriman dalam memberi menganut aliran pemikiran theologis “APA YANG DIBERIKAN TANGAN KANANMU JANGAN DIKETAHUI TANGAN KIRIMU”. Jika menyumbang gereja hanya ingin agar diketahui orang lain bukankah hal itu sama saja dengan kaum Farisi yang berdoa di persimpangan jalan?

Fenomena ini, harus disikapi dengan bijak oleh pemimpin gereja karena umat gereja tidak ingin secara institusi gereja ikut terlibat dalam politik praktis karena itu domain kaum awam. Gereja milik semua umat yang dalam menentukan pilihan politik tidak bisa diseragamkan, apalagi dipaksa untuk mengikuti instruksi institusi gereja menentukan pilihan.

Para politisi juga semestinya menyadari bahwa gereja tidak selayaknya ditarik-tarik ke ranah kepentingan politik seseorang maupun kelompoknya. Selain menodai independensi pelayanan, juga mengundang terjadinya perpecahan di tubuh gereja; baik diantara pimpinan gereja maupun dengan jemaat maupun diantara sesama jemaat.

Secara historis ternyata lebih banyak mudaratnya dibandingkan keuntungannya jika gereja melumuri tangannya dalam dunia politik praktis. Oleh karena itu para pemangku kepentingan jangan terjerumus berulangkali ke dalam lubang yang sama.

Walaupun gereja tidak turut secara langsung dalam politik praktis, gereja berpengharapan agar umatnya yang terjun di kancah politik dalam karyanya diharapkan mampu menghadirkan karya Allah yang tidak kelihatan menjadi nyata di tangan politisi (Sakramen).

Jika karya sakramental politisi yang sekaligus perspektif keumatannya dalam gereja dapat terlihat secara kasat mata, serta beresonansi sebagai gema suara merdu dan enak terdengar telinga, itulah karya besar gereja di tengah masyarakat maupun dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Bukan sebaliknya karya nyata politisi hanya terlihat ketika dia datang ke gereja maupun menemui pimpinan gereja saat memberi sumbangan material yang umumnya sarat dengan kepentingan sesaat yaitu hendak merebut dukungan suara dalam pemilihan umum, baik Pilkada, Pileg maupun Pilpres.

Akhir kata “SELAMAT BERPIKIR MERDEKA”

Foto header: San Giovanni Battista Church di Riomaggiore, Cinque Terre, Italia (Fotografer: ITA APULINA TARIGAN)








Leave a Reply