“Bunuh, bunuh, bunuh si Ahok. Bunuh si Ahok sekarang juga…”

Lagu itu dinyanyikan anak-anak polos dan lucu, ketika mereka melakukan pawai menjelang Ramadhan kemarin. Videonya viral. Saya terserang mual ketika menontonnya. Saya yakin orang waras lainnya juga akan mengalami gejala seperti saya dengan video seperti itu.

Anak-anak yang mestinya menyanyikan lagu ‘Kasih Ibu Kepada Beta’ atau lagu ‘Gundul-dundul Pacul’, kini diajarkan menyanyikan lagu bunuh, sambil pawai Ramadhan. Seolah membunuh adalah bagian dari ajaran agama.

Kaesang, putera bungsu Presiden Jokowi adalah salah satu orang waras. Ketika menyaksikan video tersebut dia juga jengah. Dalam vlog-nya dia mempertanyakan: “Pendidikan seperti apa yang diajarkan pada anak-anak itu?”




Ya, anak-anak itu memang sedang diajarkan pendidikan agama yang gampang membunuh orang.

Sialnya di Indonesia banyak orang tidak waras. Bagi kacamata orang normal mengajarkan pembunuh pada anak-anak adalah tindakan biadab. Bagi orang sakit jiwa, mengajarkan membunuh pada anak-anak adalah perjuangan agama.

Kalau sekarang Kaesang dilaporkan ke polisi karena video itu dengan tudingan penistaan agama, kita tahu di Indonesia saat ini memang sedang berhadapan orang waras dengan orang sakit. Repotnya polisi tidak mensyaratkan kesehatan jiwa bagi orang yang hendak melaporkan sebuah kejadian. Pokoknya, yang namanya laporan dari masyarakat ya, wajib diterima.

Semakin hari kita makin sering menyaksikan kejadian aneh. Sesuatu yang musykil bagi kita, belum tentu orang lain akan berpendapat sama. Kita percaya bumi bulat, sebab ilmu pengatahuan dan akal sehat mengatakan demikian. Tapi kalau ada yang percaya bumi itu datar, kamu mau apa?

Kita percaya dengan beragama manusia bisa hidup lebih teduh dan adem. Tapi orang lain percaya agamanya mengharuskan bertindak kekerasan dan kebencian. Terus gimana?

Kita percaya bersalaman sehabis sholat jemaah itu sebagai tanda merekatkan hati. Itu bagian dari kesantunan ibadah. Tapi ada yang percaya menikam sesama jemaah yang baru saja shalat bersamanya adalah jalan jihad. Apa gak pusing kepalamu?

Kita mengutuk aksi terorisme. Tapi kita juga saksikan ada yang memprotes polisi yang menembak teroris padahal polisi sudah jadi korbannya. Memuakkan bukan?

“Kalau gitu lebih bahaya orang kerusupan tuhan, ketimbang mereka kesurupan setan, ya mas?” Bambang Kusnadi mengajukan pertanyaan sambil membereskan mangkok bubur.

“Maksudmu, Mbang?”

“Ya, kalau orang kesurupan setan, dibacakan ayat kursi sama Kyai, setannya minggat. Dia akan normal lagi. Nah ada juga orang yang merasa kesurupan Tuhan, dia menganggap paling benar sendiri, seperti tuhan. Lalu akhirnya jadi teroris. Membunuh orang sembarangan…”

“Ah, teman satu ini, meski cuma tukang bubur ayam, rupanya cukup cerdas,” bisikku dalam bathin.

Saya bersyukur berteman dengan orang-orang cerdas seperti ini. Dari mereka saya bisa mengambil pelajaran.

“Tapi mas, saya mau tanya,” ujarnya lagi.

Saya mulai bersikap hati-hati. Saya kuatir kesimpulan saya bahwa Bambang Kusnadi memang teman yang layak dibanggakan, akan meleset.

“Kuntilanak itu bisa kesurupan, gak ya?”

“Wah, gak tahu saya, Mbang…”

“Begitu aja kok, gak tahu. Dasar ndeso!”

Apa kan aku bilang? Jangan cepat-cepat menyimpulkan isi kepala Bambang Kusnadi, deh.

 

Foto header: cuplikan tari kesurupan (seluk) yang ditampilkan oleh Sanggar Seni Sirulo. Video bawah: Musik pengirik tari kesurupan di Suku Karo.








Leave a Reply