Jagat media sosial dan media mainstream tengah dilanda trending topik kata “Ndeso” karena Vlog Kaesang anak Presiden Ndeso. Iya, memang Jokowi Presiden Indonesia Ndeso, jangan tersinggung apalagi melaporkan ke polisi dengan dalih penghinaan.

Lupa ia, ketika Jokowi dicalonkan dan terpilih jadi Gubernur Jakarta banyak orang terkesima dengan penampilanya yang sederhana, identik dengan Ndeso. Kehadiran Jokowi di kancah politik ibukota antithesis dan meretas kemapanan, sepak terjang Jokowi mampu meruntuhkan sikap feodalistik elit politik yang suka pencitraan, lebih suka dilayani daripada melayani.

Kemudian dicalonkan jadi Presiden, dari Sabang sampai Merauke hingga ke belahan dunia nan jauh di sana menjuluki Si Kerempeng Jokowi “THE HOPE”.




Artinya, banyak orang berharap kehadiran Jokowi mampu memenuhi keinginan hati masyarakat umumnya. Ternyata Jokowi memiliki gaya kepemimpin empatik, yaitu memimpin dengan memproyeksikan dirinya ke dalam diri masyarakat, sehingga mampu merasakan persis apa yang dirasakan oleh masyarakat kemudian mampu menyodorkan kebijakan sesuai dengan yang dirindukan masyarakat.

Jokowi kemudian bagaikan oase di hamparan gurun tandus dan kering, rasa dahaga masyarakat terobati dengan kepemimpinan Jokowi yang Ndeso.

Kepemimpinan Jokowi yang merakyat ternyata menjadi keunggulannya yang sulit ditandingi oleh para pembencinya (hater). Kepemimpinannya yang akuntabel menutup rapat-rapat celah sasaran tembak bagi musuhnya, capek menyibak dan menemukan kesalahan signifikan Jokowi tidak kapok juga. Dasar memang rasa benci telah merampok kejernihan hati nuraninya maka para pembenci Jokowi menghalalkan segala cara mencari-cari dan membuat-buat cara mendeskreditkan dan menghancurkan karakter Jokowi.

Vlog Kaesang Pangarep yang dilaporkan ke Polisi bulan Juli 2017 sedang digoreng para hater sebagai entry point menyerang Jokowi seiring berharap mampu mengulang kembali euforia keberhasilan menjadikan Ahok tersangka penista agama. Miris hati mengetahui niat buruk yang bersemayam dalam hati pembenci Jokowi itu?

Orang yang terganggu kepentingannya dan terusik zona nyamannya seketika memang bisa berubah menjadi orang binal, bertindak abnormal, berupaya melampiaskan libido nafsu birahinya dengan segala cara. Bila penting, mereka memperkosa kebenaran dan melanggar aturan main yang disepakati.

GADIS NDESO dari Tenganan Pegringsingan (Kalimantan).

Itulah gambaran sekilas tingkah laku para pembenci Jokowi, niat buruk melengserkan Jokowi dari kekuasaannya menjadi tujuan utama ucapan dan tindakannya. Hari-hari yang akan kita jalani sampai Pemilu dan Pemilihan Presiden 2019 atmosfir politik kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia akan diwarnai oleh sepak terjang merebut kekuasaan dengan lakon menghalalkan segala cara dan berupaya memonopoli kebenaran layaknya kaum fundamentalis. Bahkan, bila penting mempropagandakan kesalahan dan kemunafikan menjadi suatu kebenaran seperti yang pernah dilakukan Hitler pemimpin Nazi Jerman.

Goebbels Menteri Propaganda Zaman Kepemimpinan Hitler berkata, “Sebarkan kebohongan berulang-ulang ke publik, kebohongan yang diulang-ulang akan membuat publik percaya.” Goebbels kemudian mengatakan, “Kebohongan paling besar adalah kebenaran yang diubah sedikit saja.”

Kaum awam nan lugu boleh jadi berpikir politik itu kejam jika melihat sikap elit politisi yang suka menghalalkan segala cara ini. Tetapi, jangan hanya prihatin menyikapinya, namun bijak pulalah mengkonsumsi asupan informasi yang berseliweran di media massa.




Pilah dan telisik apa agenda tersembunyi di balik berita terpublikasi agar tidak turut terjabak dalam alam sesat mikir sebagaimana yang dilakukan penyebar rasa kebencian, menabur intoleransi serta mengadu domba sesama umat manusia.

Manusia memiliki keunggulan komperatif dibandingkan spesies ciptaan Allah lainnya, manusia memiliki kemampuan berpikir, mampu memilah mana baik dan salah. Namun rasionalitas akan memudar jika hati nurani dibajak oleh rasa benci dan merasa orang paling benar, padahal kebenaran itu multidimensional.

Banyak yang kita ketahui tetapi lebih banyak yang belum tentu kita ketahui, itulah misteri kehidupan.

Manusia yang menyadari ada kekuatan besar di luar dirinya yang mempengaruhi hidupnya idealnya tidak memonopoli kebenaran secara fundamentalis karena pengetahuan kita tidak seluas pengetahuan. Apa yang kita ketahui belum tentu seluas pengetahuan itu. Oleh karena itu, untuk hidup harmonis dibutuhkan kerelaan dialogis, yaitu sudi memahami apa yang diyakini orang lain walau tidak harus menerima dan menganut apa yang dipercayai orang lain.

Kemampuan seseorang menerima orang lain sebagaimana adanya orang lain tanpa memaksakan kehendak satu sama lain merupakan sikap solidaritas persaudaraan yang kemudian menjelma jadi subsidiaritas perspektif keyakinan leluhur yang mengatakan: “Aku adalah kau-kau adalah aku.” Philosopi kehidupan seperti ini mulai tergerus dari khasanah kehidupan dewasa ini karena telah terjerumus dalam hidup pragmatis, ingin serba instan, bahkan menghalalkan segala cara.

Kehilangan rasa kebersamaan dan persaudaraan karena kepentingan pribadi sumber kebencian terhadap sesama, sehingga gampang menyalahkan dan memburukkan orang lain, sehingga Ndeso Masbulo (Masalah buat lo…).

Selamat berpikir merdeka… !!!

Foto header: Sebuah desa wisata di Jogja. Sumber: The Binde.






1 COMMENT

  1. Goebbels Menteri Propaganda Zaman Kepemimpinan Hitler berkata, “Sebarkan kebohongan berulang-ulang ke publik, kebohongan yang diulang-ulang akan membuat publik percaya.”

    Betul memang seperti dikatakan Goebbels itu, berita bohong tetapi kalau sudah jadi terbiasa mendengar dan memahaminya, bisa jadi kebenaran atau dianggap benar oleh sebagian publik. Apalagi kalau datangnya dari penguasa (negara) sangat lumrah bisa terjadi berita bohong itu berubah jadi berita benar.
    Ini terjadi terutama pada abad lalu dan juga abad-abad sebelumnya tidak diragukan sangat bisa dan sering bisa terjadi. Tetapi apakah sudah ada perubahan sekarang? Cobalah kita teliti.

    “Golden Shower” Trump yang sangat populer di AS telah menjadi kebenaran sampai bulan Juni 2017. Setelah itu sekarang dikenal sebagai fake news (berita bohong). Fake News yang umumnya sengaja disebarkan oleh MSM (Main Stream Media) dari grup neoliberal AS tipe CNN, NBC, CBS & ABC, WPost, NY Times, The Wall Street Journal dll.

    Fake news lainnya yang juga sangat populer belakangan ialah soal campur tangan Rusia dalam pemilihan presiden lalu, yang katanya telah membikin Trump menang mengalahkan Clinton Hillary dalam pemilihan itu. Berita ini demikian pentingnya sehingga Trump mau diadili, di impeach dsb. Fake news satu ini terbongkar setelah 3 wartawan CNN dipecat dari kerjanya karena dianggap pengarang berita palsu itu. Trump lantas bilang di Twitternya:

    ‘I am extremely pleased to see that @CNN has finally been exposed as #FakeNews and garbage journalism,’ ‘It’s about time!’ katanya.
    Trump sekarang menamakan CNN sebagai ‘FNN’ (Fake News Network).

    Seperti kita ketahui, pertandingan antara Trump kontra Clinton dalam pemilihan presiden lalu adalah pertarungan antara kekuatan nasionalis AS kontra kekuatan neoliberal AS dan yang juga sebagai perwakilan neoliberal seluruh dunia. Kekuatan nasionalis di AS adalah kekuatan baru yang muncul bersamaan dengan munculnya kekuatan baru dunia (nasional-kultural) yang juga terlihat jelas diseluruh Eropah barat maupun timur. Kekuatan baru ini sudah menjadi kekuatan nr 3 besarnya dibanyak negeri Eropah, terlihat sangat jelas di Skandinavia, Inggris dan Prancis. Brexit adalah salah satu pencerminannya di Eropah. Perlu ditambahkan juga bahwa ‘fake news’ soal campur tangan Rusia yang memenangkan Brexit juga banyak tersiar di AS. Uni Eropah adalah proyek besar neoliberal di Eropah, karena itu neolib sangat berkepentingan bikin fake news memojokkan Brexit.

    ‘Golden Shower’ maupun ‘Russian Involvment’ sudah tertelanjangi sebagai fake news. Tadinya sebagian besar rakyat AS dan juga dunia sudah termakan oleh berita palsu itu. Tetapi mengapa bisa terjadi penelanjangan berita palsu itu? Berita palsu yang sudah bisa dikatakan sudah mapan menjadi kebenaran? Sudah disiapkan jaksa dan hakim/advokasi untuk mengadili Trump atau impeachment.

    Jawabannya ialah KETERBUKAAN DAN MEDIA SOSIAL! Kedua kata ini (keterbukaan dan media sosial) telah berhasil bikin partisipasi publik yang luar biasa, sangat luas dan bisa mendalami persoalan apa saja, karena bayak orang, banyak pendapat dan pemikiran, banyak sudut pendapat dan sudut pemikiran yang bisa mendatangkan kebenaran. Bukan sembarang kebenaran tetapi memungkinkan munculnya kebenaran yang ilmiah juga. Itulah zaman baru dihadapan kita sekarang, yang tidak ada dan tidak mungkin pada era lalu abad 20 maupun pada era-era sebelumnya.

    Neoliberalisme dengan semua syarat hidupnya yaitu ketertutupan dan rahasia, mata-mata dengan semua badan-badan rahasianya atau segala macam intelnya tentu tidak bisa lagi meneruskan hidupnya sekarang dalam era keterbukaan dan partisipasi publik yang luas.

    Dari segi lain untuk bisa meneliti ‘fake news’ atau bukan, perlu dilihat dari sudut kontradiksi pokoknya atau trend perpolitikan dunia dalam tingkat sekarang ini. Apa itu?

    Sudah jelas bagi dunia bahwa kontradiksi pilpres AS 2016 antara Trump kontra Clinton adalah kontradiksi antara kekuatan baru nasionalis kultural AS kontra kekuatan lama neoliberalis internasional. Ini patokan pertama dan utama. Golongan neoliberal ini punya media besar luar biasa seluruh dunia, punya modal besar diana-mana. Media ini disebut MSM (Main Stream Media). Fake News soal pertarungan dua kekuatan diatas datangnya hanya dari media besar milik neoliberal ini. Sebagai tandingannya sudah ada juga media dari pihak golongan nasionalis Trump sendiri, tetapi tidak bisa dibandingkan dengan kekuatan MSM itu. Kekuatan terbesar sebagai tandingannya ialah dari Media Sosial Publik dunia.

    Belakangan MSM (Main Stream Media) mengeritik Trump karena pakai media sosial, dan menginginkan Trump berhenti pakai media sosial. Trump menjawab, bilang: “Sorry folks, but if I would have relied on the Fake News of CNN, NBC, ABC, CBS, washpost or nytimes, I would have had ZERO chance winning WH”. Betul sekali memang, Trump tidak akan mungkin memenangkan WH (White House) tanpa jutaan dan jutaan pengikut di media sosialnya, dan kalau hanya mempercayakan kepada fake news MSM itu yang sekarang dia sebut FNN (Fake News Network).

    MUG

Leave a Reply