Ada kegalauan membuncah di kalangan kelompok masyarakat menengah kritis Indonesia melihat perilaku politisi masih mempertontonkan cara berpikir lama padahal zaman telah berubah. Lahirnya Era Reformasi diyakini sebagai antithesis orde kepemimpinan feodal dan represif mengutamakan stabilitas keamanan atas nama pembangunan.

Namun, setelah sekian lama Era Reformasi, para elit politik masih mempertontonkan lakon feodalistik gaya baru memonopoli kebenaran, tidak siap menerima perbedaan, bahkan memaksakan kehendak mengeliminir kerangka pemikiran lateral atau cara berpikir lain dari sebelumnya.

Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dijadikan musuh bersama bukan sekedar risih terhadap mulutnya yang suka bicara to the point, tetapi menyingkirkan Ahok dari gelanggang politik dianggap jalan penting meretas pengusik dan pengganggu kepentingan bisnis dan politik para zombi.




Manajemen transparansi tata kelola budget Pemerintah DKI Jakarta mengganggu zona nyaman budaya bisnis buruk yang terpelihara dengan baik masa sebelumnya. Popularitas Ahok secara otomatis meningkatkan elektabilitas sehingga harus disingkirkan karena menjadi batu sandungan bagi pihak yang ingin merebut singgasana kekuasaan.

Ironis memang, orang yang bekerja baik dan orang yang memimpin benar-benar berorientasi kepada kesejahteraan umum justru dienyahkan demi keserakahan pribadi dan kelompok. Mengalahkan Ahok dari Gubernur Jakarta bukan sekedar tidak suka terhadap figur Ahok tetapi merupakan gerakan kebencian akumulasi kepentingan beberapa pihak yang terganggu zona nyamannya.

Sejak awal Ahok dijadikan sasaran tembak sebagai penista agama, banyak pengamat mengatakan Ahok hanya sasaran antara untuk mencapai tujuan lebih besar menggoyang Jokowi sebagai Presiden Indonesia. Pendapat itu bukan sekedar isapan jempol. Ada benarnya jika dicermati arah wacana yang digulirkan para pembenci Jokowi.

Kasus laporan Volg Video “Menista Kelompok Tertentu” Kaesang Pangarep putra Presiden Jokowi secara kasat mata nampak jelas digoreng dan diblow-up kencang oleh barisan politisi dari partai politik yang tidak ikut lingkaran kekuasaan. Argumen yang disampaikan artifisial, dibuat-buat seakan kebenaran hakiki, institusi hukum diultimatum segera memproses. Tujuan utama menghancurkan kredibilitas Jokowi ke titik nadir supaya popularitas dan elektabilitas Jokowi runtuh di Pilpres 2019. Jika memungkinkan melengserkan Jokowi dalam waktu cepat.

Lawan politik Jokowi berpacu dengan waktu menyelamatkan diri atau mempertahankan eksistensi. Kasus demonstrasi besar-besaran terhadap Ahok bukan hanya menjadikan Ahok sebagai objek pesakitan dan masuk penjara, tetapi tanpa sengaja dan tidak diduga sebelumnya malah membuka tabir menjadi terang menderang siapa saja oknum berkepentingan dan memiliki agenda tersembunyi di balik gerakan demonstrasi menghancurkan Ahok. Jokowi makin jelas melihat dan memilah siapa sesungguhnya musuh pengganggu kelangsungan kepemimpinannya. Ada tabir terbuka di dalam kasus menimpa Ahok, dengan sendirinya muncul ke permukaan siapa tokoh bejat yang menunggangi issu ras dan agama demi kepentingan politik, merekalah yang lazim disebut zombie.

Dalam pertarungan ini zombie politik berusaha menyerang duluan dengan segala cara sebelum Jokowi menggebuk dengan jurus pamungkasnya. Untuk mematikan pukulan Jokowi, para pembenci Jokowi mencari ruang maupun titik lemah memukul balik pertahanan Jokowi.

Kepemimpinan Jokowi yang relatif akuntabel dan berorientasi kerakyatan ternyata mengusik rasa nyaman para pemburu rente, elit penguasa lama bergelimang kasus hukum dan elit politik busuk berkolaborasi jadikan Jokowi musuh bersama meminjam tangan beberapa organisasi masyarakat sebagai anjing penggonggong.

Elit di belakang layar lakon menggulingkan Jokowi ini pemilik uang dalam jumlah besar, pernah merasakan nikmat kekuasaan, dan sudah lajim melakukan kawin silang antara politik dan bisnis. Tetapi, sejak kepemimpinan Jokowi yang identik dengan Revolusi Mental membuat gerombolan pemburu rente ini kelabakan, dan terganggu kepentingannya. Salah satu contoh, pembubaran Petral ternyata mengganggu aliran uang masuk pemburu rente yang masa sebelumnya merasa nyaman menikmati berkah tak bertepi dari bisnis minyak.

Fenomena yang terjadi dalam atmosfir sosial, politik dan ekonomi bangsa Indonesia dewasa ini diwarnai oleh perlawanan para pemburu rente terhadap kepemimpinan akuntabel Presiden Jokowi. Jokowi jadi batu sandungan bagi orang yang terbiasa budaya lama melakukan kolusi dan korupsi. Kepentingan mengamankan bisnis dan politik yang terganggu ini terakumulasi jadi kekuatan besar gerombolan yang ingin menggagalkan revolusi mental ala Jokowi.

QUO VADIS REVOLUSI MENTAL

Bicara tentang Revolusi Mental bisa jadi kurang menarik karena terkesan tidak membumi. Revolusi Mental terkesan terlalu philosofis di tengah hidup serba ingin instan dan pragmatis. Revolusi Mental tidak ubahnya bagaikan menara gading konsumsi para elit pemikir di ruang perpustakaan, atau hanya pantas jadi asupan pemikiran para kaum organ pergerakan.

Asumsi salah ini pekerjaan rumah yang belum selesai ketika anak bangsa ini melakukan Reformasi dan Rvolusi Mental. Mustahil melakukan perubahan tindakan jika tidak melalui pergeseran kerangka berpikir. Tanpa terjadi perubahan tindakan tidak mungkin merubah kebiasaan lama menjadi kebiasaan baru (Habitus Baru).

Dalam literatur Human Resources Development, thesis yang dipergunakan untuk melakukan perubahan tindakan adalah terlebih dahulu merubah kerangka berpikir (paradigma) atau persepsi seseorang. Tanpa melakukan pergeseran cara berpikir maka mustahil merubah tindakan seseorang. Melakukan perubahan itu tidak segampang membalikkan telapak tangan, karena perubahan itu mengganggu rasa nyaman (comfort zone). Dibutuhkan kemauan menerima penderitaan dalam melakukan perubahan dari habitus lama menuju habitus baru dengan cara metanoia, yaitu pertobatan, menyesali perbuatan buruk dengan menggantikannya menjadi niat baik melakukan yang lebih benar. Sehingga perubahan habitus itu tidak cuku melalui Reformasi, karena Reformasi identik dengan hanya mengutak-atik yang lama disesuaikan dengan format lebih baru tanpa menghilangkan nilai-nilai atau kebiasaan yang lama.

Jika ingin membentuk habitus baru tidak ada jalan pintas kecuali dengan jalan melakukan Revolusi Mental, mengganti cara berpikir atau merubah kebiasaan lama menjadi yang baru. Hal inilah yang tidak siap dilakukan oleh para pebisnis/ pemburu rente, elit politik dan tokoh masyarakat yang telah merasa nyaman dengan kultur lama. Padahal, jika ingin melakukan perubahan, khususnya jika mau menjadikan Bangsa Indonesia, sebagai negara maju dan meningkatkan kesejahteraan rakyat, tidak bisa tawar harus dilakukan melalui Revolusi Mental.

Tanpa melakukan revolusi mental yang terjadi adalah kebekuan paradigma, atau kesalahan cara pandang. Asumsi yang salah atau sikap yang salah, tetapi tetap merasa dirinya paling benar. Tidak mau menerima perubahan atau pendapat orang lain. Tanpa disadari orang yang ngotot dengan cara berpikir kaku dan kolot (Mungkin ini maksud Mas Kaesang “Ndeso”) justru bisa dilanda gangguan psikis, suka bertindak abnormal dan mau bersikap anarkis. Zaman sudah berubah tetapi masih larut dengan gaya berpikir zaman dahulu, dan lupa bahwa ada kalanya zaman lebih cepat berubah dari kemampuan merubah diri sendiri.

SIAPA MUSUH BERSAMA?

Bung Karno, The Founding Father bangsa Indonesia, mengatakan: “Perjuanganmu lebih sulit karena musuhmu bangsamu sendiri”. Sampai saat ini masih relevan yang disampaikan Bung Karno. Untuk menuju negara maju dan sejahterahkan rakyat pada intinya musuh bangsa Indonesia bukan Komunis dan musuh bangsa Indonesia bukan Islam.

Musuh bangsa Indonesia saat ini adalah komplotan elit pemburu rente dan elit politisi busuk yang ingin mempertahankan cara bepikir dan tindakan lama untuk mempertahankan kepentingannya mencari keuntungan pribadi dan di atas penderitaan rakyat dengan berusaha merebut akses ekonomi dan politik.

Reformasi boleh saja diproklamirkan tetapi mereka juga ikut hanya ganti baju tanpa mengganti cara berpikir dan tindakannya. Musuh bangsa Indonesia sesungguhnya para elit penguasa dan pengusaha masih ingin melestarikan budaya korupsi dan kolusi, memperkaya diri sendiri diatas penghisapan darah saudara sebangsanya.

Sampai saat ini komplotan ini ingin merebut kekuasaan untuk melestarikan cengkeramannya. Kaki tangan dan sebagian diantara mereka berada di lingkaran kekuasaan eksekutif dan legislatif saat ini yang suatu saat siap bermetamorfosis berganti kulit baru tetapi tetap dengan sifat lama menghisap darah rakyat.

Selamat Berpikir Merdeka…








Leave a Reply