Saya sedikit tercenung melihat foto kiriman seseorang di salah satu group Facebook yang saya ikuti. Foto tersebut adalah acara pentasbihan salah seorang sebagai pastor baru di Yogyakarta. Redaksi fotonya tidak bertanggal dan tidak berisi info di gereja mana upacara pentasbihan tersebut dilakukan. Namun, yang menarik perhatian saya adalah keterangan bahwa salah satu pastor baru itu orangtuanya adalah seorang Muslim.

Berikut keterangan yang dituliskan pemosting di foto tersebut:

“Pentabisan pastor di kota baru Yogjakarta, salah satu pastor ini orangtuanya beragama Muslim, lihat perempuan berjilbab itu adalah orangtua dari pastor yang baru pentabisan itu, kisa nyata…”




Seperti tampak di gambar, seorang ibu yang berjilbab terlihat begitu haru sambil mengusap kepala anaknya yang telah resmi menjadi pastor baru tersebut. Berbeda dengan di Indonesia, keluar dari agama Islam (murtad) di negara-negara yang ketat memperlakukan hukum Islam seperti, Arab Saudi, Iran dan Pakistan bisa berarti mati.

Oleh karena itu banyak eks-Muslim memilih untuk tidak mengumumkan pilihan keyakinan baru mereka.

Mengutip dw.com, Mouhanad Khorchide (Direktur Pusat Teologi Islam di Münster Jerman) mengatakan, memang ada kelompok-kelompok dalam Islam, terutama dalam lingkaran Salafiyah yang radikal, yang melafalkan hukuman mati bagi mereka yang murtad. Namun, tidak semua cendekiawan Islam setuju atas langkah ini (menghukum mati), ungkap penulis buku “Islam ist Barmherzigkeit: Grundzüge einer modernen Religion (Islam adalah rahmat: dasar-dasar agama yang modern) ini.”

“Al-Qur’an hanya menyatakan bahwa Allah akan menghukum mereka yang murtad di akhirat. Tidak disebut apa pun mengenai hukuman di bumi,” ujarnya.

Jika melihat pernyataan Mouhanad Khorchide di atas, rasanya kita sebagai bangsa Indonesia patut merasa bersyukur. Mayoritas Muslim Indonesia memiliki pemuka agama yang dengan keluhuran ilmunya tetap menempatkan dasar-dasar kemanusiaan yang plural dalam kehidupan, tanpa perlu membandingkan ilmunya dengan para pemikir Islam modern dari negara lainnya.

Terlepas dari pembahasan agama karena saya bukan ahlinya, saya melihat peristiwa tersebut lebih dari kacamata hak dasar manusia yang sudah disepakati secara universal, yaitu diantaranya, hak kebebasan berkeyakinan, berpendapat dan kesetaraan gender.

Sebagai Muslim, saya pribadi menghargai pilihan pribadi ‘saudara’ saya dalam memutuskan pilihan keyakinannya. Barangkali penghargaan saya ini menjadi tidak populer di tengah iklim sebagian kalangan Muslim Indonesia yang kini menjadi sangat fanatik beragama.




Berpindah keyakinan (agama) adalah hal yang pernah terjadi di semua pemeluk agama apa pun di dunia ini. Di negara-negara yang sangat ketat dengan pelaksanaan hukum Islam, tetap saja ada orang-orang yang melepas keyakinannya, meski resikonya ia harus kehilangan nyawa.

Melihat orang berpindah keyakinan dari Islam ke agama lain bagi saya juga bukan suatu kejahatan, apalagi tragedi. Bahkan beberapa orang diantaranya adalah orang-orang yang saya kenal langsung. Toh, alhamdulillah saya juga pernah memuslimkan beberapa orang ‘kafir’.

Saya pribadi merasa tak perlu marah dan geram melihat urusan seseorang dengan Tuhannya. Menurut saya, siapa pun manusianya berhak memutuskan apa yang menjadi pilihan keyakinan yang terbaik menurut penilaian pribadinya.

Di forum perdebatan agama ala medsos, di mana semua debaternya mendadak menjadi ahli agama, seringkali keluar pernyataan, “lihat saja di akhirat kelak siapa yang celaka, agamamu, apa agamaku?”

Maka, jika begitu biarkanlah nanti bersama-sama dilihat di akhirat. Apakah sang ibu yang merestui anaknya jadi pemuka agama lain dan anaknya yang berpindah agama itu akan diberi celaka oleh Tuhan? Atau jangan-jangan orang-orang yang merasa paling baik dan paling benar dalam beragama itu yang justru dicampakkan Tuhan ke dalam api neraka?

Bukankah kita tidak berhak mengatur Tuhan yang maha berkehendak?






Leave a Reply