Bagian 4 dari 5 Bagian

Musim Semi Penuh Lara

Oleh: Sria van Munster

 

Matahari pagi ini cerah sekali. Burung-burung bernyanyi dan melompat ceria diantara pepohonan dan ranting-ranting tanaman kebun di belakang rumah. Cherry blossoms (bunga sakura) berkembang manis, membuat keindahan pagi ini terasa sempurna.

Baru saja aku ingin meneguk teh hangat di pagi ini, telepon di rumahku tiba – tiba berdering. Nyatanya, suamiku dari London. Di setiap akhir kwartal dia sering bekerja di luar negeri selama beberapa hari.




“Saya senang kamu masih di rumah,” ucap suamiku.

“Ya, minum dulu baru pergi belanja, ada apa sayang?” tanyaku.

“Ya, saya lihat perkiraan cuaca bahwa hari ini indah sekali. Saya ingin ke Amsterdamse Bos. Sebelum lunch time saya akan tiba di rumah,” serunya dari seberang dan menutup telepon

“Bukankah kamu berada di London?” tanyaku.

Tetapi telepon di seberang sana telah dimatikan.

Beberapa jam kemudian.

“Indah sekali hari ini, mari kita ke Amsterdamse Bos… Ini tahun ke tiga cherry blossom sumbangan Perkumpulan Orang Jepang. Saya dengar indah sekali,“ ucap suamiku berturur-turut setiba di rumah.

Dengan cepat-cepat kupersiapkan bekal seadanya. Hups, here we go, dan mendayung pedal sepeda menuju Amsterdamse Bos.

Di perjalanan Patric lebih banyak diam. Biasanya dia banyak cerita tentang apa yang kami lihat sepanjang jalan.

“Kamu banyak diam hari ini. Mengapa? Kamu juga lebih cepat kembali dari London. Apa bisa kau meninggalkan pekerjaan begitu saja?” Apa yang terjadi?” tanyaku bertubi-tubi.

“Nanti akan aku ceritakan semuanya,” jawab Patric.

Hati kecilku benar-benar bertanya – tanya, karena suamiku tak pernah bersikap seperti ini. Apa dia punya wanita lain? Apa dia kena penyakit yang mengerikan? Apakah dia bakalan mendapat PHK?

Aku nggak bisa bayangkan skenario apa yang akan aku hadapi.

Hot coklat manis, dan sandwich daging ayam kesayangan Patric telah habis kami santap sambil menikmati indahnya bunga sakura. Biasanya pada saat-saat begini Patric akan meletakkan tangannya di bahuku dan mendekatkan dirinya denganku. Tetapi kali ini sikapnya lain. Dia tak bereaksi sama sekali ketika aku coba merebahkan kepalaku ke bahunya.

“Sri hari ini aku harus berkata jujur kepadamu. Kuharap engkau tidak memotong pembicaraan, sehingga aku selesai bercerita?” ucap Patric memelas sambil menggengam kedua tanganku.

“Ya..ceritakanlah,” jawabku dengan hati was-was.




 “Sesungguhnya aku tidak berada di London beberapa hari yang lalu. Aku di Paris bersama seseorang. Sri sesungguhnya aku amat berbahagia bersamamu, sebagai istriku, sebagai ibu dari anak-anakku. Setiap laki-laki akan merasakan yang sama jika mereka bisa memilikimu dan I love you very much. Di balik kebahagiaan kita sesungguhnya aku amat sangat menderita.

Jujur aku berkata bahwa sejak remaja ada rasa yang aku coba kubur sedalam-dalamnya. Tak seorangpun yang tahu, juga orangtuaku tak pernah tahu bahwa aku mengagumi sejenisku. Dan pada akhirnya aku jatuh cinta, namanya Jeroen. Bersamanyalah aku menghabiskan waktu di Paris beberapa hari yang lalu. Maafkan aku,” ucap Patric sambil menangis.

Bagaikan petir yang tiba-tiba meledak rasanya mendengar suara Patric, bagaikan tersiram air panas seluruh tubuhku. Jantungku terasa ditusuk ratusan jarum yang tajam. Sakit dan marah begitulah yang kurasakan ketika mendengar kejujuran Patric. Tubuhku bergetar menahan marah, aku murka. Kepalaku terasa dipukul dengan pemukul bola kasti. Aku benar-benar tidak percaya akan apa yang barusan aku dengar. Ucapan suamiku, orang yang kucintai, orang yang kubuat bahagia. Orang yang membuatku bahagia. Bapak dari anak-anakku.

Tanpa berucap sepatah katapun aku berlari langsung ambil sepedaku, mendayungnya sekencang mungkin. Aku tak lagi melihat orang di jalan, beberapa kali aku hampir menabrak anak orang, anjing orang. Aku membentak mereka sekuatnya. Biarlah dunia tahu aku marah. Aku hampir ditabrak mobil ketika menyeberang jalan tanpa melihat lampu merah.

Tiba di rumah aku marah menjerit dan menangis sejadi-jadinya. Musim semi yang sempurna adalah awal derita panjangku.

(Bersambung)

Bagian pertama : Kenalan Pertama di Gramedia Gajah Mada

Bagian ke dua : Ciuman Pertama di Pinggir Danau Toba

Bgaian ke tiga : Getirnya Cinta Pertama





Leave a Reply